Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Tentang Ayah, Tentang Ibu

  Membaca kabar pendidikan hari ini rasanya seperti membaca berita duka yang datang berulang-ulang. Guru bermasalah di ruang kelas, gaji yang tak kunjung layak, beban administrasi yang menumpuk, dan kebijakan yang terus berubah. Padahal para guru itu tetap bekerja dengan lapang dada. Namun realitas hampir selalu berkata lain. Di tengah berbagai seremoni pemerintah yang membungkus kabar pendidikan dengan bahasa kemajuan, saya justru melihat adanya relasi kuasa yang timpang. Relasi ini dapat dibaca dengan meminjam konsep patriarki. Dalam struktur patriarki, ayah diposisikan sebagai pemegang kuasa, penentu nilai, dan pembuat keputusan. Sementara ibu ditempatkan sebagai sosok yang sabar, patuh, bekerja diam-diam, dan menanggung beban keseharian. Pola ini, disadari atau tidak, hidup dalam dunia pendidikan Indonesia. Ayah menjelma sebagai sistem pendidikan itu sendiri, mulai dari kurikulum, regulasi, hingga kebijakan. Sedangkan ibu menjelma sebagai guru, mereka yang berada di ruang kelas...

Bekasea dan Janji Hiu yang Tak Pernah Datang

Bekasi telah memiliki julukan baru setelah “Planet Mars” dengan panasnya. Kini, Bekasi mempunyai julukan Kondradiski , yang melanjutkan julukan sebelumnya, yaitu Bekasea , sebuah akronim dari Bekasi dan sea yang dalam bahasa Inggris berarti laut. Gambaran Bekasi sebagai entitas laut ini tidak semena-mena hadir dari ruang kosong, melainkan lahir dari interaksi warganet yang menanggapi banjir di Bekasi, atau dari warga Bekasi sendiri yang sudah muak rumahnya kebanjiran. Ia berawal dari beredarnya gambar dan video genangan air di mana-mana. Apalagi wilayah Tambun, di suatu perumahan yang digenangi air seolah-olah seperti laut yang melebar tanpa tepi. Dalam The Ends of the Earth: Perspectives on Modern Environmental History , Donald Worster dan Alfred W. Crosby menulis bahwa sejarah modern, terutama yang berangkat dari pengalaman Eropa dan Amerika yang selalu percaya bahwa alam bisa diatur, rawa bisa dikeringkan, dan air bisa ditundukkan. Namun air tidak pernah benar-benar patuh; ia han...

Sejarawan atau Sastrawan?

Akhir-akhir ini saya kebingungan dengan diri saya sendiri. Setiap malam saya memikirkan posisi saya dalam mendalami suatu bidang. Saya, sebagai mahasiswa Pendidikan Sejarah yang menyukai sastra, sering merasa salah jurusan, seolah jalan yang sudah saya jalani ternyata keliru. Saya terus memikirkan masa depan, saya mau jadi apa. Sejauh ini, ketika mengikuti UKM Belistra atau Bengkel Menulis Sastra, saya justru merasa lebih condong ke dunia sastra. Di sisi lain, saya adalah mahasiswa Pendidikan Sejarah yang sehari-hari berkecimpung dengan masa lampau, masa yang seakan tidak pernah selesai dibicarakan. Contohnya, masa lalu saya sendiri yang kini kembali saya renungi untuk menentukan bidang yang benar-benar ingin saya tekuni. Suara berisik itu memang tidak pernah selesai. Saya merasa perlu bernegosiasi dengan diri saya sendiri, terutama ketika melihat tulisan jargon pada baju PDH Belistra yang berbunyi “Keduanya harus dicatat, keduanya dapat tempat”, penggalan dari puisi Chairil Anwar berj...

Belajar sejarah lingkungan

Persoalan lingkungan selalu diajarkan ketika materi mata pelajaran ilmu pengetahuan alam. Dalam bab ekosistem atau global warming biasa saya temui ketika saya bersekolah waktu itu. Adapun dalam pengetahuan sosial, ekosistem menjadi permasalahan sosial yang dilihat dari perilaku antar manusia dan alam. Sisi lain, sejarah selalu sibuk dengan narasi besar seperti peristiwa besar dan penting menurut negara. Sampai-sampai lupa jika fungsi sejarah bukan hanya itu; sejarah pun bisa berfungsi sebagai memori kolektif ekosistem . Sejarah lingkungan, seperti dipikirkan oleh Worster dan Cronon, mengajak kita melihat bagaimana hubungan timbal balik manusia dan alam membentuk nasib sebuah tempat. Ia menjadi memori bahwa banjir atau kekeringan itu jarang yang benar-benar alamiah, melainkan akumulasi dari salah urus yang tercatat dalam waktu. Walau hanya memodalkan sumber-sumber yang terbatas, sejarah bisa tampil dalam narasi sains ke arah ilmu alam untuk memahami kembali keberlangsungan kehidup...