Saya ketika pertama kali ke Serang di tahun 2024. Ketemu temen-temen yang sebagian dari kota Serang. Saya mendengar kata-kata yang tidak asing oleh saya yakni “geh” yang mereka ucapkan ketika berbicara, waktu itu lagi di sela-sela kuliah. Saya heran, kok sama dengan yang pernah saya dengar? Saya sendiri di Bekasi sudah terbiasa dengan kata itu. Walau kata yang saya pahami tidak pakai huruf “h” di belakangnya, hanya “ge” dalam bahasa Bekasi yang saya pahami. Hal itu sontak membuat saya bertanya-tanya dari mana bahasa itu muncul. Kok bisa sama seperti itu? Dalam pencarian di internet, ternyata kata "geh" dan "ge" ini mempunyai fungsi yang sama dalam percakapan sehari-hari. Coba saya bedah, kata "geh" yang saya dengar di Serang itu merupakan partikel penegas dalam dialek setempat dan biasanya dipakai di akhir kalimat untuk memperkuat apa yang dimaksud pembicara, baik itu ajakan, penekanan serta permintaan, mirip seperti kata "dong" dalam bahasa In...
Overthinking sudah menjadi kawan saya dalam kehidupan saya. Banyak kenangan menemani saya menjadi manusia yang sering kali berpesta meriah di dalam benak saya. Pesta ini sering kali para pesertanya meminum alkohol sambil mendengarkan musik rock dengan gerakan rusuh. Pada akhirnya pesta itu tidak terkendali, malah diri saya yang semakin cemas saking banyaknya yang mabuk, para sel-sel di dalam kepala saya. Jadi ketika mabuk sel-sel itu, saya jadi tidak bisa memikirkan kejernihan dalam berpikir. Saya malah berhalusinasi seakan-akan semua akan hancur, semua yang saya lakukan itu sia-sia. Begitulah mengapa saya sayang dengan overthinking, karena saya tidak mau dia mengadakan pesta itu dengan sembarang. Butuh perhatian penuh agar tidak terjadi titik jenuh dalam diri overthinking. Lelah juga saya menggambarkan overthinking ini. Mulai dari majas personifikasi seolah-olah mabuk yang tidak bisa dikendalikan, entah dia minum bir atau anggur merah yang sering kali diminum mahasiswa s...