Jika kalian mendengar nenek bercerita panjang lebar tentang pengalamannya, pasti kalian sudah tidak asing lagi dengan cerita yang disampaikan secara runtut. Begitu pula dengan puisi yang suka bercerita. Puisi seperti ini tidak terlalu mengandalkan simbol-simbol yang terpecah-pecah jika dibaca secara harfiah. Justru puisi bernarasi menghadirkan cerita yang saling menyambung dari bait ke bait atau dari baris ke baris. Jika puisi ini disamakan dengan cerita nenek, kita akan teringat ketika ayah atau ibu mendongeng sebelum tidur. Seluruh cerita yang disampaikan tidak perlu ditafsirkan terlalu jauh karena sudah dituntun oleh penutur yang menjelaskan peristiwa melalui narasi. Hal yang sama juga terjadi pada puisi bernarasi yang umumnya tidak membuat pembaca bersusah payah memahami isi puisinya. Ciri utama puisi naratif memang terletak pada kisah, tokoh, dan alur yang dibangun penyair. Untuk memahami puisi bernarasi, kita bisa melihat puisi berjudul Tak Sampai Sepuluh Ribu karya Hayatun...
Ahhashasdagtdas Oleh Rafif Abbas Pradana Malam itu begitu sunyi sampai-sampai mataku terlelap tidur. Terlelapnya aku sampai-sampai aku mendengar teriakan “ahhashasdagtdas” dalam ingatanku, begitu sakit. Ada makhluk hitam di depan mataku. Aku ketakutan, badanku tidak bisa bergerak. Suara itu semakin menjadi-jadi, kepalaku pusing. Akhirnya aku terbangun dari tidurku. Aku merasa takut jika suara itu hadir kembali. Mataku lelah dan mengantuk, aku pun terlelap tidur. Sialnya, suara itu datang lebih keras dari sebelumnya, disertai tangisan tanpa tahu asalnya dari mana. Makhluk hitam itu muncul kembali di mataku, namun bedanya dengan mata merah terang, seakan-akan ingin menggigitku. Aku menggegas bangun, beberapa kali aku terjebak dalam mimpi. Akhirnya aku terbangun. Dadaku berdebar-debar, tidak tahu bagaimana aku terjebak dalam ketakutan ini. Semakin malam, semakin sunyi. Tanganku bergetar disertai detak jantungku dan paru-paruku yang terlalu cepat memompa darah ke arteri-arter...