Kata demokrasi sudah tidak lagi menjadi representasi kebebasan atas pendapat. Kata ini seringkali menjadi payung hukum berbagai macam pendapat dari penjuru negeri. Saya sendiri bingung dengan situasi seperti ini. Apalagi melihat arti demokrasi dalam KBBI yang punya arti sistem pemerintahan rakyat. Lagi-lagi kata rakyat disebutkan di dalam intisari demokrasi. Namun ada apa dengan kata rakyat di dalam KBBI ini? Apakah sudah sesuai dengan kenyataan? Atau hanya paradoks yang dibuat sebagai kiasan semata? Dari kegelisahan ini, saya pun merasa perlu menelisik lebih dalam lagi apa sebetulnya demokrasi di bawah rezim ini. Dan mengapa adanya demokrasi di atas rezim? Bukankah rakyat sebagai tuan atas budak-budak yang sedang menjabat di dalam pemerintah. Jika demikian, maka kritik yang dikeluarkan oleh rakyat itu cukup wajar jika diposisikan rakyat sebagai tuannya. Karena rumahnya sedang tidak baik-baik saja. Namun dalam kenyataannya, pembantu justru seringkali tampil sebagai juru selamat atas ga...
Indahnya awan-awan sore, di Bukit Waruwangi, Kabupaten Serang. Saya membayangkan awan-awan itu seperti permen yang manis. Semanis anak-anak yang sedang berlarian bersama keluarganya. Begitu sibuk sekali pengunjung menikmati sore itu, ada yang membawa tenda, ada yang menyewa tikar untuk menikmati sensasi matahari terbenam. Hati saya begitu sejuk dengan itu semua, seakan-akan saya ikut bahagia ke dalam keseruan itu. Apalagi awan-awan selalu menggoda mata saya untuk melihat salah satu ciptaan Tuhan. Meskipun hidup saya terasa lelah dengan semua informasi yang saya lihat di hp, khususnya ketika melihat berita konflik Timur Tengah, penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang akan berdampak terhadap Indonesia. Karena Indonesia masih bergantung pada minyak dari Timur Tengah, dan jalur distribusi menjadi terhambat. Semua pusat seakan sedang pusing tujuh keliling. Saya takut jika ini semua mempengaruhi kehidupan saya selama perkuliahan. Namun saya selalu terngiang-ngiang oleh salah satu ayat d...