Indahnya awan-awan sore, di Bukit Waruwangi, Kabupaten Serang. Saya membayangkan awan-awan itu seperti permen yang manis. Semanis anak-anak yang sedang berlarian bersama keluarganya. Begitu sibuk sekali pengunjung menikmati sore itu, ada yang membawa tenda, ada yang menyewa tikar untuk menikmati sensasi matahari terbenam. Hati saya begitu sejuk dengan itu semua, seakan-akan saya ikut bahagia ke dalam keseruan itu. Apalagi awan-awan selalu menggoda mata saya untuk melihat salah satu ciptaan Tuhan. Meskipun hidup saya terasa lelah dengan semua informasi yang saya lihat di hp, khususnya ketika melihat berita konflik Timur Tengah, penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang akan berdampak terhadap Indonesia. Karena Indonesia masih bergantung pada minyak dari Timur Tengah, dan jalur distribusi menjadi terhambat. Semua pusat seakan sedang pusing tujuh keliling. Saya takut jika ini semua mempengaruhi kehidupan saya selama perkuliahan. Namun saya selalu terngiang-ngiang oleh salah satu ayat d...
Saya ketika pertama kali ke Serang di tahun 2024. Ketemu temen-temen yang sebagian dari kota Serang. Saya mendengar kata-kata yang tidak asing oleh saya yakni “geh” yang mereka ucapkan ketika berbicara, waktu itu lagi di sela-sela kuliah. Saya heran, kok sama dengan yang pernah saya dengar? Saya sendiri di Bekasi sudah terbiasa dengan kata itu. Walau kata yang saya pahami tidak pakai huruf “h” di belakangnya, hanya “ge” dalam bahasa Bekasi yang saya pahami. Hal itu sontak membuat saya bertanya-tanya dari mana bahasa itu muncul. Kok bisa sama seperti itu? Dalam pencarian di internet, ternyata kata "geh" dan "ge" ini mempunyai fungsi yang sama dalam percakapan sehari-hari. Coba saya bedah, kata "geh" yang saya dengar di Serang itu merupakan partikel penegas dalam dialek setempat dan biasanya dipakai di akhir kalimat untuk memperkuat apa yang dimaksud pembicara, baik itu ajakan, penekanan serta permintaan, mirip seperti kata "dong" dalam bahasa In...