Langsung ke konten utama

Postingan

Di Serang, di Tirtayasa

  Pagi hari yang buta ini, saya ingin bernostalgia di saat saya mengalami kegagalan perkuliahan di Bandung, di Padjadjaran. Kampus ternama di Indonesia. Saat itu saya mengambil ilmu sejarah dalam SNBP, yang kemudian musna karena kalah oleh perjudian takdir. Kini bernostalgia dengan Bandung lewat lagu Disarankan di Bandung karya Dongker dan Jason Ranti, yang dirilis pada tahun 2025. Dengan meminjam liriknya, “di Bandung, di Ganesha”, setiap kali mendengar lirik itu badan saya merinding ketika mendengar istilah Ganesha. Ia memang mempunyai sejarah yang panjang dalam Hindu-Buddha. Ganesha digambarkan berkepala gajah yang melambangkan ilmu pengetahuan, memiliki energi yang luar biasa hingga seolah menularkan semangatnya kepada para mahasiswanya. Hal itu saya pernah rasakan ketika expo kampus di SMA, saat bertemu adik dan kakak kelas saya yang masuk Institut Teknologi Bandung. Mereka memiliki aura yang kuat, dan lagi, anak-anak ITB itu memang mempunyai ambisi yang luar biasa. Bisa dilih...
Postingan terbaru

Tentang Ayah, Tentang Ibu

  Membaca kabar pendidikan hari ini rasanya seperti membaca berita duka yang datang berulang-ulang. Guru bermasalah di ruang kelas, gaji yang tak kunjung layak, beban administrasi yang menumpuk, dan kebijakan yang terus berubah. Padahal para guru itu tetap bekerja dengan lapang dada. Namun realitas hampir selalu berkata lain. Di tengah berbagai seremoni pemerintah yang membungkus kabar pendidikan dengan bahasa kemajuan, saya justru melihat adanya relasi kuasa yang timpang. Relasi ini dapat dibaca dengan meminjam konsep patriarki. Dalam struktur patriarki, ayah diposisikan sebagai pemegang kuasa, penentu nilai, dan pembuat keputusan. Sementara ibu ditempatkan sebagai sosok yang sabar, patuh, bekerja diam-diam, dan menanggung beban keseharian. Pola ini, disadari atau tidak, hidup dalam dunia pendidikan Indonesia. Ayah menjelma sebagai sistem pendidikan itu sendiri, mulai dari kurikulum, regulasi, hingga kebijakan. Sedangkan ibu menjelma sebagai guru, mereka yang berada di ruang kelas...

Bekasea dan Janji Hiu yang Tak Pernah Datang

Bekasi telah memiliki julukan baru setelah “Planet Mars” dengan panasnya. Kini, Bekasi mempunyai julukan Kondradiski , yang melanjutkan julukan sebelumnya, yaitu Bekasea , sebuah akronim dari Bekasi dan sea yang dalam bahasa Inggris berarti laut. Gambaran Bekasi sebagai entitas laut ini tidak semena-mena hadir dari ruang kosong, melainkan lahir dari interaksi warganet yang menanggapi banjir di Bekasi, atau dari warga Bekasi sendiri yang sudah muak rumahnya kebanjiran. Ia berawal dari beredarnya gambar dan video genangan air di mana-mana. Apalagi wilayah Tambun, di suatu perumahan yang digenangi air seolah-olah seperti laut yang melebar tanpa tepi. Dalam The Ends of the Earth: Perspectives on Modern Environmental History , Donald Worster dan Alfred W. Crosby menulis bahwa sejarah modern, terutama yang berangkat dari pengalaman Eropa dan Amerika yang selalu percaya bahwa alam bisa diatur, rawa bisa dikeringkan, dan air bisa ditundukkan. Namun air tidak pernah benar-benar patuh; ia han...

Sejarawan atau Sastrawan?

Akhir-akhir ini saya kebingungan dengan diri saya sendiri. Setiap malam saya memikirkan posisi saya dalam mendalami suatu bidang. Saya, sebagai mahasiswa Pendidikan Sejarah yang menyukai sastra, sering merasa salah jurusan, seolah jalan yang sudah saya jalani ternyata keliru. Saya terus memikirkan masa depan, saya mau jadi apa. Sejauh ini, ketika mengikuti UKM Belistra atau Bengkel Menulis Sastra, saya justru merasa lebih condong ke dunia sastra. Di sisi lain, saya adalah mahasiswa Pendidikan Sejarah yang sehari-hari berkecimpung dengan masa lampau, masa yang seakan tidak pernah selesai dibicarakan. Contohnya, masa lalu saya sendiri yang kini kembali saya renungi untuk menentukan bidang yang benar-benar ingin saya tekuni. Suara berisik itu memang tidak pernah selesai. Saya merasa perlu bernegosiasi dengan diri saya sendiri, terutama ketika melihat tulisan jargon pada baju PDH Belistra yang berbunyi “Keduanya harus dicatat, keduanya dapat tempat”, penggalan dari puisi Chairil Anwar berj...

Belajar sejarah lingkungan

Persoalan lingkungan selalu diajarkan ketika materi mata pelajaran ilmu pengetahuan alam. Dalam bab ekosistem atau global warming biasa saya temui ketika saya bersekolah waktu itu. Adapun dalam pengetahuan sosial, ekosistem menjadi permasalahan sosial yang dilihat dari perilaku antar manusia dan alam. Sisi lain, sejarah selalu sibuk dengan narasi besar seperti peristiwa besar dan penting menurut negara. Sampai-sampai lupa jika fungsi sejarah bukan hanya itu; sejarah pun bisa berfungsi sebagai memori kolektif ekosistem . Sejarah lingkungan, seperti dipikirkan oleh Worster dan Cronon, mengajak kita melihat bagaimana hubungan timbal balik manusia dan alam membentuk nasib sebuah tempat. Ia menjadi memori bahwa banjir atau kekeringan itu jarang yang benar-benar alamiah, melainkan akumulasi dari salah urus yang tercatat dalam waktu. Walau hanya memodalkan sumber-sumber yang terbatas, sejarah bisa tampil dalam narasi sains ke arah ilmu alam untuk memahami kembali keberlangsungan kehidup...

MENAWAR KEBERADAAN

  Pelaut yang hebat lahir dari badai, bukan dari laut yang tenang.” Dalam pepatah orang dulu. Pepatah itu bercerminkan diri saya sebagai manusia. Manusia yang sedang mencari keberadaannya di dunia yang terlalu sibuk ini. Pencarian itu, yang selama ini saya cari, tidak semudah apa yang saya kira. Berawal dari rasa sakit seorang anak SD yang tidak merasa punya keberadaan. Tidak terlibat dalam keputusan-keputusan penting. Contohnya tidak dilibatkan bermain bola antar teman sebaya, antar SD. Walau itu hanya melawan SDN Bekasi Jaya 7. Saya merasa iri, mungkin juga dengki, melihat teman-teman saya diberi kesempatan dan diberi panggung. Sedangkan aku hanyalah bocah hingusan yang menurutku sendiri tidak akan didengar. Masa-masa itu sejak SD kelas 1 sampai 6, saya merasa tidak punya keputusan yang penting dalam Kelompok. Contohnya ketika saya ingin mencalonkan diri menjadi ketua kelas dari kelas 4 SD sampai kelas 6 SD. Saya selalu kalah. Dan akhirnya saya menjadi seksi kebersihan kare...

Jika Mesin Waktu Benar-Benar Ada, Apakah Sejarah Selesai?

  ( Foto ini dibuat oleh AI chatgpt ) Mahasiswa sejarah seharusnya punya mesin waktu agar mereka bisa lebih memahami masa lalu lebih dalam, selayaknya ilmu-ilmu sosial lainnya. Keterbatasan sumber membuat mahasiswa sejarah hanya bisa melihat masa lalu dari kejauhan, dari sisa-sisa yang tidak utuh. Waktu memisahkan jejak-jejak itu. Padahal namanya jejak, bisa hilang jika tidak dirawat. Bisa disalahartikan jika salah membacanya, lalu disambung satu sama lain secara acak. Dari situlah kesulitan saya bermula ketika mulai menulis sejarah. Kerap kali saya kewalahan ketika berhadapan dengan sumber-sumber yang bahkan sulit saya pahami sendiri. Maka saya menegaskan pentingnya mesin waktu sebagai alat agar mahasiswa sejarah bisa hadir langsung di lapangan. Ketika mesin waktu itu niscaya ada, mereka akan lebih mudah melakukan wawancara langsung, selayaknya kerja jurnalistik.   Jejak yang Terlambat dan Fakta yang Tidak Pernah Netral Sejarah menurut saya memang dekat dengan dunia kej...

Berlebihan Rezeki Berujung Marapetaka

      November sampai Desember menjadi bulan-bulan berduka cita karena langit yang sedang menangis, membanjiri seluruh permukaan daratan. Berujung tahun menjadi momentum krusial bagi masyarakat Indonesia, termasuk saya sendiri, untuk melihat lagi apa saja yang sudah dilakukan, hingga hujan datang menghantam rumah-rumah yang tidak bersalah. Pulau Sumatra bagian barat menjadi arena pertemuan manusia dan alam. Di sana banyak air mata yang menghujani media sosial. Riuhnya media sosial atas kejadian ini membawakan babak baru untuk bisa melihat bagaimana alam sedang berteriak, meminta untuk diperhatikan.       Saya melihat bencana ini sebagai gambaran umum tentang malaikat pemberi rezeki yang seolah terlalu melebih-lebihkan tugasnya. Banyak permintaan rezeki yang dinaikkan, rezeki dari pertambangan dan pembangunan perkebunan sawit, ditujukan kepada mereka yang punya kuasa di negeri ini. Dari apa yang saya lihat sekarang, semua itu menjelma berlebihan re...

Belistra Sebuah Pelabuhan

 B Belistra Sebuah Pelabuhan By Rafif Abbas Pradana      Musyawarah Belistra 2025 telah dilaksanakan pada hari Minggu, 07 Desember 2025 dengan suasana penuh canda tawa sepanjang persidangan. Mustra adalah Musyawarah Belistra yang menjadi forum tertinggi tempat seluruh anggota berkumpul untuk mengevaluasi perjalanan satu tahun ke belakang, menyampaikan laporan pertanggungjawaban, serta menentukan arah organisasi. Dalam forum inilah dinamika organisasi memuncak dan keputusan-keputusan penting ditetapkan.      Dari sekian kesibukan yang terjadi di dalamnya, ada kebanggaan yang tumbuh perlahan dalam diri saya. Saya merasa cukup berani melaju ke depan sebagai calon ketua Belistra. Namun peserta sidang memilih sosok yang lebih pantas pada saat itu. Ketika keputusan dibacakan, nama saya tidak muncul. Yang terpilih adalah Nisa Nurfadila yang akrab kami panggil Nca. Momen tersebut sempat mematahkan harapan saya untuk menjadi pemimpin, tetapi saya tetap merasa i...

Kesal, Resah, Lelah

Saya kesal melihat puluhan kilometer di kampus saya dipenuhi sampah yang berserakan. Dalam batin, saya sering merasa risih melihat mereka, sampah-sampah itu, tertidur lemas tanpa ada yang membangunkan untuk dipindahkan ke tempat semestinya. Ada berbagai jenis sampah: jika berupa daun, mereka bisa mati kemudian menjadi pupuk; sedangkan plastik, mereka seperti makhluk setengah sadar yang memendam harapan ada yang meletakkan mereka di tempat yang tepat, sayangnya harapan itu seringkali menjadi angan-angan semata. Kantin kampus adalah pusat peradaban sampah. Namun perlu diingat bahwa mereka, sampah-sampah itu, juga pantas mendapat keadilan. Mereka punya hak untuk ditempatkan di tempat yang rapi dan nyaman agar bisa beristirahat tanpa gangguan makhluk-makhluk lain. Di kampus, saya melihat tiga tempat sampah dengan tiga warna yang berbeda dan fungsi yang seharusnya berbeda. Perbedaan kategori itu seharusnya menentukan nasib sampah, mau dibawa ke mana sampah-sampah yang terlelap itu. Namun...

Poster Hijau, Tambang Hitam

  Poster-poster pemanasan global sudah banyak dibuat dan disebarkan secara masif. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran lingkungan sudah tertanam dengan baik. Poster bukan hanya alat promosi, tetapi juga alat untuk melawan ketidaktahuan. Ketidaktahuan itu tumbuh dari masalah yang sudah mengakar di bawah pondasi peringatan lingkungan yang sering kita abaikan. Secara akademis pemanasan global dapat diibaratkan seperti kompor yang sedang menggoreng cireng, tetapi minyaknya berasal dari perkebunan sawit yang membentang luas di Pulau Sumatera. Jalan-jalan di Sumatera dipenuhi pemandangan kanan dan kiri berupa perkebunan sawit, dan itu adalah fenomena nyata yang terus berlangsung. Maka poster-poster pemanasan global berfungsi sebagai daya ingat atas keniscayaan masa depan yang katanya lebih cerah. Cerah dalam arti panas terik yang membuat saya sering mengeluh karena sinar matahari memancar dengan tajam dan terus memantul berkali-kali sehingga kulit saya semakin menghitam. Poster pemanasan ...

Dinosaurus Asia

      Saya bangga melihat Indonesia dianugerahi penghargaan Fossil of the Day. Rasanya penghargaan ini seharusnya diterima sejak lima puluh tahun lalu. Ada kebahagiaan yang pahit ketika mendengar bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia meraih penghargaan ini. Lebih menyenangkan lagi karena diberikan pada Sabtu tanggal 15 November dalam gelaran COP 30 konferensi perubahan iklim yang dinaungi PBB. Disematkan di Brasil pula yang selama ini dikenal sebagai rumah Hutan Amazon, tempat pohon pohon yang menjaga kehidupan berdiri dengan megah. Tidak salah jika ada rasa bangga yang muncul dari dalam diri ini.      Apalagi mengetahui bahwa empat puluh enam pelobi industri fosil bisa masuk dengan tenang ke konferensi tersebut. Mereka memperjuangkan agar batu bara tetap diproduksi. Jika batu bara tetap hidup maka listrik tetap menyala dengan aman. Maka saya merasa perlu mengapresiasi para pelobi dalam konferensi ini karena berhasil mengamankan ruang bagi k...