Bekasi telah memiliki julukan baru setelah “Planet Mars”
dengan panasnya. Kini, Bekasi mempunyai julukan Kondradiski, yang
melanjutkan julukan sebelumnya, yaitu Bekasea, sebuah akronim dari
Bekasi dan sea yang dalam bahasa Inggris berarti laut. Gambaran Bekasi
sebagai entitas laut ini tidak semena-mena hadir dari ruang kosong, melainkan
lahir dari interaksi warganet yang menanggapi banjir di Bekasi, atau dari warga
Bekasi sendiri yang sudah muak rumahnya kebanjiran. Ia berawal dari beredarnya
gambar dan video genangan air di mana-mana. Apalagi wilayah Tambun, di suatu
perumahan yang digenangi air seolah-olah seperti laut yang melebar tanpa tepi.
Dalam The Ends of the Earth: Perspectives on Modern
Environmental History, Donald Worster dan Alfred W. Crosby menulis bahwa
sejarah modern, terutama yang berangkat dari pengalaman Eropa dan Amerika yang
selalu percaya bahwa alam bisa diatur, rawa bisa dikeringkan, dan air bisa
ditundukkan. Namun air tidak pernah benar-benar patuh; ia hanya menunggu waktu
untuk kembali. Bekasea terasa seperti pengulangan kisah itu, ketika air
yang lama disisihkan akhirnya hadir lagi dan memenuhi ruang yang dulu dianggap
aman serta sah untuk dihuni.
Memang, warganet selalu saja mencari cara untuk membully
Bekasi. Euforia membully ini bisa saja dilaporkan ke guru BK karena sudah
kelewat batas. Bekasi kini benar-benar berubah menjadi Bekasea, posisinya
sebagai daerah yang tenggelam oleh “lautan”, padahal yang sering dirumorkan
akan tenggelam itu Jakarta. Namun justru Bekasi yang kebagian julukan wilayah
lautan. Mungkin inilah sebabnya pemerintah selalu saja mengizinkan
perumahan-perumahan dibangun di tanah resapan air. Menurut keyakinan saya, ini
bagus, karena semakin banyak perumahan, semakin banyak pula genangan air di
musim hujan seperti sekarang ini. Pemerintah seolah memiliki target menjadikan
Bekasi sebagai wilayah lautan yang luas, lengkap dengan potensi sumber daya
alam di dalamnya. Bisa saja ikan-ikan laut suatu hari mampir ke Bekasi dan
tertindas oleh kereta-kereta api dari Bekasi Kota ke Karawang, sebagaimana yang
dikatakan Chairil Anwar waktu itu di dalam puisinya.
Namun pemerintahan dahulu memiliki cara pandang yang berbeda
dengan pemerintah sekarang. Pemerintah di zaman baheula, pada masa Raja
Purnawarman, mempunyai pandangan bahwa air harus dikendalikan dan tidak
dibiarkan menggenang seperti yang kini dilekatkan warganet dalam istilah
Bekasea. Dalam benak Purnawarman, Bekasi harus terbebas dari genangan air sebab
ia tahu wilayahnya merupakan rawa-rawa, tempat air merindu untuk diresapi oleh
tanah. Maka dibuatlah sungai-sungai, salah satunya Sungai Bekasi yang dikenal
hingga sekarang, yang konon menghabiskan ribuan sapi sebagaimana tertulis dalam
Prasasti Tugu. Worster dan Crosby mengingatkan bahwa perubahan cara
manusia memandang alam selalu diikuti oleh perubahan lanskap beserta akibatnya.
Ketika kebijakan bergeser, alam mencatatnya dengan caranya sendiri.
Di era globalisasi ini, pemikiran Purnawarman dianggap tidak
lagi relevan, bahkan dinilai usang, dalam benak pemerintah sekarang. Yang
dikejar adalah investasi perumahan-perumahan untuk menunjang kehidupan
warganya. Jika tidak ada perumahan, bagaimana warganya hidup? Maka sudah
wajarnya perumahan dibangun di berbagai macam daratan tanah, termasuk rawa-rawa
di dalamnya. Hujan pun bisa saja terus mengguyur daerah tanpa henti, seolah
menemukan jalannya sendiri untuk pulang.
Saya membayangkan Bekasi benar-benar menjadi lautan dan
perumahan saya berubah menjadi sebuah pulau. Daerah lain yang memiliki daratan
tinggi ikut menjelma menjadi pulau-pulau kecil. Saya membayangkan Bekasi
menjadi jalur lalu lintas maritim yang penuh kapal-kapal mondar-mandir, serta
sengketa lahan selayaknya Laut Cina Selatan. Bekasea benar-benar terasa
seperti masuk ke dalam kisah legenda di kemudian hari. Hujan mungkin akan terus
turun dan semakin menjadi karena kiriman banjir dari Bogor, selayaknya banjir
di zaman Nabi Nuh. Banjir setinggi gunung membuat Bekasea pun tak lagi relevan.
Ia mungkin akan berubah menjadi Jawasea ketika Jawa benar-benar
tenggelam. Namun itu semua hanya ada dalam benak saya. Apa pun yang terjadi,
kita seolah sudah siap menaungi lautan Bekasi yang cukup dalam dan luas ini.
Bekasi memang seakan ditakdirkan sebagai wilayah genangan
banjir, selayaknya lautan. Hal ini senada dengan penggalan puisi berjudul Sajak
Banjir di Bekasi karya Mahar Prastowo, seorang korban banjir di Pondok Gede
Permai, yang menuliskan, “Bekasi, basah oleh hujan dan ketulusan, di tengah
genangan, manusia tetap bertahan.” Warga Bekasi adalah warga yang paling
setia. Mereka tetap bertahan walau banjir datang berulang kali, tetap melangkah
ke dalam genangan yang selalu menyakiti. Tanah bukan lagi sekadar basah seperti
yang dikatakan dalam penggalan itu, melainkan telah berubah menjadi lautan
ketulusan di hati para warga Bekasi, termasuk ketika mereka terus diledek
dengan julukan Bekasea. Dalam pembacaan sejarah lingkungan, banjir yang
berulang bukan sekadar peristiwa alam, melainkan ingatan panjang atas cara
manusia memperlakukan ruang hidupnya.
Pada akhirnya, saya bangga dengan Bekasea ini. Semoga saya
mendapatkan hiu yang sudah dijanjikan itu.

Komentar
Posting Komentar