Langsung ke konten utama

Sejarawan atau Sastrawan?


Akhir-akhir ini saya kebingungan dengan diri saya sendiri. Setiap malam saya memikirkan posisi saya dalam mendalami suatu bidang. Saya, sebagai mahasiswa Pendidikan Sejarah yang menyukai sastra, sering merasa salah jurusan, seolah jalan yang sudah saya jalani ternyata keliru. Saya terus memikirkan masa depan, saya mau jadi apa. Sejauh ini, ketika mengikuti UKM Belistra atau Bengkel Menulis Sastra, saya justru merasa lebih condong ke dunia sastra. Di sisi lain, saya adalah mahasiswa Pendidikan Sejarah yang sehari-hari berkecimpung dengan masa lampau, masa yang seakan tidak pernah selesai dibicarakan. Contohnya, masa lalu saya sendiri yang kini kembali saya renungi untuk menentukan bidang yang benar-benar ingin saya tekuni.

Suara berisik itu memang tidak pernah selesai. Saya merasa perlu bernegosiasi dengan diri saya sendiri, terutama ketika melihat tulisan jargon pada baju PDH Belistra yang berbunyi “Keduanya harus dicatat, keduanya dapat tempat”, penggalan dari puisi Chairil Anwar berjudul Catatan Tahun 1946. Dari sana saya kembali merenung, apakah sastra dan sejarah memang harus saya catat dan diberi tempat yang sama, baik di kertas maupun di benak saya sendiri. Memang begitulah rasanya, keduanya perlu dikombinasikan secara kreatif, dengan kemanusiaan, dan dipikirkan sebagai sesuatu yang memiliki tempat yang sama dalam karya yang saya buat.

Jika melihat ke masa lalu, sastra dan sejarah sejatinya pernah memiliki ruang yang sama, seperti dalam babad dan hikayat yang tersebar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Contohnya Babad Tanah Jawa yang menceritakan kerajaan-kerajaan dengan berbagai simbol dan bahasa yang puitik. Keduanya kemudian terpisah ketika sejarah menganggap dirinya sebagai ilmu yang ilmiah dan objektif dalam narasinya, sementara sastra dipandang sebagai sesuatu yang imajinatif. Padahal, sastra dalam sejarah memiliki kekuatan, sebagaimana dikatakan Kuntowijoyo, untuk menghidupkan narasi sejarah agar tidak kering. Sejarah pun, dalam peristiwa dan datanya, tetap dipilah melalui rasa penulisnya, serta mengandung niat tertentu di balik narasi yang dibuat, sebagaimana dikemukakan oleh Carr dalam bukunya What Is History.

Saya kembali membahas sosok sastrawan Chairil Anwar, di mana karya sastra di tangannya sering kali berfungsi sebagai dokumen zaman. Meskipun ia tidak mencatat tanggal atau peristiwa secara rinci sebagaimana sejarawan, puisi-puisinya justru merekam kegelisahan generasi, perasaan hidup di masa yang keras, serta denyut emosional sebuah zaman yang penuh tekanan. Puisi menjadi medium untuk menangkap suasana batin kolektif yang sering kali luput dari catatan sejarah resmi.

Contohnya puisi Catatan Tahun 1946 yang menggambarkan situasi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Begitu pula dengan puisi Karawang Bekasi, di mana posisi Chairil Anwar sebagai bagian dari Angkatan 45 memperlihatkan bagaimana ia menggambarkan zamannya yang dipenuhi perang, kematian, dan pengorbanan. Melalui bait-bait puisinya, saya seolah merasakan peristiwa itu secara langsung, bukan sebagai data, melainkan sebagai pengalaman manusiawi.

Pemahaman ini sejalan dengan pendekatan New Historicism yang menempatkan karya sastra sebagai teks yang lahir dari dan merefleksikan konteks sejarahnya, sebagaimana dikemukakan oleh Stephen Greenblatt. Dalam kerangka ini, sastra dan sejarah kembali saling menembus. Sastra dapat dibaca sebagai dokumen kebudayaan, sementara sejarah tidak pernah sepenuhnya lepas dari bahasa, simbol, dan sudut pandang penulisnya. Kesadaran ini membuat saya melihat bahwa menulis sastra bukanlah pelarian dari sejarah, melainkan cara lain untuk mencatatnya. Begitu pula sebaliknya, sejarah membutuhkan sentuhan sastra agar tetap bernapas dan bermakna.

Kisah kehidupan Chairil Anwar juga membantu saya memahami bagaimana struktur sosial dan intelektualitas yang luas dapat bertemu dengan pengalaman personal dan suara-suara marginal. Justru dari pengalaman individual inilah kita dapat membaca sejarah secara lebih manusiawi. Sejarah tidak lagi dilihat dari atas, dari sudut pandang penguasa atau elite, melainkan dari bawah, dari perasaan, kegelisahan, dan penderitaan manusia biasa. Dari puisi-puisi Chairil Anwar, sastra dan sejarah kembali bertemu. Sastra membuat kita peka pada pengalaman hidup seseorang, sementara sejarah membantu memberi pegangan agar pengalaman itu tidak berhenti sebagai rasa haru semata, tetapi bisa dipahami maknanya..

Dengan cara ini, sejarah tidak lagi menjadi momok yang membosankan karena bahasa yang kering dan jauh dari rasa. Pemikiran ini sejalan dengan gagasan microhistory yang dikembangkan oleh Carlo Ginzburg dalam The Cheese and the Worms, yang menekankan pentingnya melihat sejarah melalui pengalaman hidup individu dan kelompok kecil. Dalam konteks Indonesia, saya melihat bahwa sejarah nasional yang disusun dan diterbitkan oleh negara, baik sebelum maupun sesudah masa Orde Baru, kerap menutup suara kelompok rentan dan marginal, seperti rakyat jelata, korban kekerasan, korban perkosaan, dan penculikan pada peristiwa 1998. Di sinilah sastra hadir sebagai ruang perlawanan terhadap historiografi resmi yang tidak berpihak kepada mereka, sekaligus sebagai medium untuk mengembalikan suara-suara yang disisihkan oleh sejarah negara.

Pada akhirnya, posisi saya bukan sebagai orang bingung di tengah persimpangan yang harus memaksa diri untuk memilih salah satunya. Melainkan berada di sebuah pertigaan yang memungkinkan keduanya bertemu dalam satu jalan. Dari kiri sastra dan dari kanan sejarah, keduanya menyatu dan tidak lagi menjadi dua jalan yang menjauh, melainkan dua arah pandang menuju satu tujuan yang sama, yaitu memahami manusia dalam waktu. Jalan ketiga ini lahir dari pertemuan keduanya. Di jalan ini saya tidak meninggalkan disiplin sejarah yang saya tempuh, tetapi membiarkannya bernapas. Saya juga tidak mengkhianati sastra, melainkan memberinya tanggung jawab. Pertigaan itu akhirnya tidak saya tinggalkan dengan keputusan yang tergesa, melainkan dengan pemahaman yang baru.

Dari judul Sejarawan atau Sastrawan, saya belum bisa menjawabnya secara pasti, meskipun telah menemukan titik temu. Saya sendiri belum pantas disebut sebagai keduanya. Saya masih perlu belajar melalui perkuliahan di Pendidikan Sejarah FKIP Untirta, sekaligus melalui Bengkel Menulis dan Sastra bersama teman-teman Pendidikan Bahasa Indonesia. Saya pun masih membutuhkan banyak saran, baik dari ketua dan wakil ketua himpunan Pendidikan Sejarah maupun dari Belistra FKIP Untirta.

Daftar Pustaka:

Carr, E. H. 2003. Apa itu Sejarah? Terj. Ombak. Jakarta: Ombak.

Ginzburg, Carlo. 1980. The Cheese and the Worms: The Cosmos of a Sixteenth-Century Miller. Baltimore: Johns Hopkins University Press.

Greenblatt, Stephen. 2005. Practicing New Historicism. Chicago: University of Chicago Press.

Kuntowijoyo. 2004. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang Pustaka.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Negeri yang Demam oleh Amarah

  Stres berkepanjangan membuat saya terus bertanya pada diri sendiri, mengapa kepala saya dipenuhi masalah dan ketakutan yang menghantui. Lemas dan letih rasanya menghadapi keadaan ini, apalagi melihat situasi yang genting. Kerusuhan dalam diri tak lagi bisa dibendung, penjara ketakutan telah merampas kebahagiaan saya. Ruang-ruang batin pun berantakan setelah hati dan pikiran saya dijarah oleh rasa takut. Berita televisi dan media sosial dipenuhi kecemasan. Kota terasa semakin tercekam oleh massa yang menyampaikan aspirasi kepada mereka yang duduk nyaman di kursi kekuasaan. Emosi membara, kemarahan muncul karena rakyat diremehkan oleh salah satu wakilnya yang seharusnya mewakili suara banyak orang. Massa aksi selayaknya semut-semut kecil, bergerombol lalu bubar ke segala arah tanpa tahu jalan pulang. Mereka berdiri berjam-jam hanya untuk mendengarkan teriakan sekawannya. Namun, tidak semua yang berkerumun murni menyuarakan aspirasi, ada provokator yang membuat keadaan semakin mence...

Belistra Sebuah Pelabuhan

 B Belistra Sebuah Pelabuhan By Rafif Abbas Pradana      Musyawarah Belistra 2025 telah dilaksanakan pada hari Minggu, 07 Desember 2025 dengan suasana penuh canda tawa sepanjang persidangan. Mustra adalah Musyawarah Belistra yang menjadi forum tertinggi tempat seluruh anggota berkumpul untuk mengevaluasi perjalanan satu tahun ke belakang, menyampaikan laporan pertanggungjawaban, serta menentukan arah organisasi. Dalam forum inilah dinamika organisasi memuncak dan keputusan-keputusan penting ditetapkan.      Dari sekian kesibukan yang terjadi di dalamnya, ada kebanggaan yang tumbuh perlahan dalam diri saya. Saya merasa cukup berani melaju ke depan sebagai calon ketua Belistra. Namun peserta sidang memilih sosok yang lebih pantas pada saat itu. Ketika keputusan dibacakan, nama saya tidak muncul. Yang terpilih adalah Nisa Nurfadila yang akrab kami panggil Nca. Momen tersebut sempat mematahkan harapan saya untuk menjadi pemimpin, tetapi saya tetap merasa i...

Setengah Jadi

Sore hari menjelang pembuka puasa. Di Tugu Bacang, 26 Februari 2026. Unit Kegiatan Mahasiswa Bengkel Menulis dan Sastra atau UKM Belistra mengadakan kegiatan diskusi koran untuk pertama dalam kepengurusan 2026. Walau sudah setahun saya mengurus, saya melihat diskusi koran tidak berubah dari metodenya, sampai korannya masih setia dengan Banten Pos. Yang selalu menemani diskusi koran. Terlebih pemantik Yani yang menguliti setiap informasi yang dibaca oleh peserta. Pembahasan dimulai dengan resah. Saya pun tahu semua peserta resah menahan lapar malah disuruh mikir, untungnya tidak kecelakaan karena jalan pikir yang mulai rusak akibat goyangan perut yang terus berguncang-guncang, sama halnya jalan di Pandeglang. Jalan Pandeglang seringkali diumpat oleh warga Banten sendiri sebagai jalan yang jelek, berlubang, rusak. Sampai-sampai digugat oleh warganya sendiri yang berjumlah 100 miliar. Luar biasa itu jumlahnya jika disalurkan ke Belistra. Belistra bisa membuat sayembara menulis menurut-nu...