Langsung ke konten utama

Dadaku Sesak

    

Aku terlelap dalam kecemasan yang tak kunjung usai, tanpa tahu kapan akan berakhir. Kicauan burung di pagi hari seakan menjadi peringatan bagiku untuk tetap tenang, mendengarkan suara merdu mereka. Namun, aku tak bisa melepaskan diri dari belenggu yang menjerat. Aku hanya bisa pasrah di hadapan rembulan malam.

    Aku merasa tak lagi memiliki kekuatan untuk meredam ketakutanku. Setiap masalah ibarat peluru yang menembus tubuh dan hatiku, yang telah lama terluka oleh semesta. Kelelahan ini menguap karena kurang tidur. Aku selalu saja memikirkan hal-hal yang tak mampu kukendalikan, ketakutan dan kecemasan yang terus menghantuiku. Seolah-olah aku bisa mengendalikannya, namun kenyataannya hanya ilusi belaka.

`Melihat diriku kini, aku merasa semakin rapuh, seakan tak lagi terbentuk. Saking kerasnya berpikir, aku hanya bisa berandai-andai, seandainya aku bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki segalanya agar tak terjadi kesalahan. Namun, kenyataan yang kudapatkan hanyalah penyesalan. Penyesalan yang membuatku merasa tak berguna, seolah tak lagi dibutuhkan dalam dinamika kehidupan ini.

    Rasanya ingin berhenti sejenak di sebuah pantai, menikmati senja dan ombak, melihat keindahan laut serta burung-burung yang terbang melintas. Aku ingin melepaskan segala kericuhan dalam pikiranku, membersihkan hati dari luka yang ditorehkan oleh orang-orang di sekitarku. Mataku menatap ombak yang bergulung dengan indah, hingga perlahan-lahan kelopak mataku menutup, terhanyut dalam ketenangan. Apalagi saat melihat sang surya tenggelam, seakan aku terbawa oleh keindahannya. Namun, aku tahu, semua ini hanya sesaat. Masalahku tak akan selesai hanya dengan mengagumi keindahan alam. Setelah satu atau dua hari, aku akan kembali ke tubuh yang masih gelisah, ke kehidupan yang tetap menyakitkan.

    Dada ini semakin sesak, menahan rasa sakit yang mendalam. Bukan karena aku lemah, bukan pula karena aku manja. Aku telah bertahan bertahun-tahun. Sering kali aku merasa tak bisa berubah, tetap sama seperti dulu. Aku selalu melakukan kesalahan, meskipun tak semua kesalahan itu benar-benar sepenuhnya milikku. Bisa saja ada kesalahan yang terjadi tanpa sengaja, tanpa niat buruk. Namun, di mata orang lain, semuanya tetap salahku.

    Semakin hari, dada ini semakin sesak. Mengingat kesalahanku yang kulakukan tanpa niat buruk, namun tetap menjadi beban di hatiku. Alam semesta mengajarkanku untuk tetap tabah menghadapi semuanya. Aku tak bisa sepenuhnya menyalahkan semesta. Aku sadar, aku butuh banyak belajar agar bisa mengobati dada yang terasa tertekan oleh beban batin ini.

    Aku tahu, aku tidak selalu sadar atas kesalahanku. Karena itu, aku membutuhkan peringatan dari orang lain, agar aku tidak mengulang kecerobohan yang sama. Aku tidak ingin menjadi manusia yang sok sempurna, yang selalu merasa benar. Maka, aku lebih memilih diam, agar tidak melukai hati orang lain, khususnya teman-temanku. Sebab, ketika aku menyakiti mereka, aku akan merasa bersalah dan mulai menghakimi diriku sendiri. Lebih baik aku diam daripada berbicara tanpa berpikir, yang akhirnya hanya memicu kemarahan dan konflik.

    Aku tidak tahu obat untuk semua ini. Namun, aku tahu satu cara untuk merawat dada yang sesak ini: berbagi dengan teman-temanku. Ketika mereka bahagia, aku pun ikut bahagia. Mungkin itulah obat terbaik bagiku, dan aku telah merasakan betapa manjurnya cara itu dalam meredakan rasa sakit di dadaku ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Negeri yang Demam oleh Amarah

  Stres berkepanjangan membuat saya terus bertanya pada diri sendiri, mengapa kepala saya dipenuhi masalah dan ketakutan yang menghantui. Lemas dan letih rasanya menghadapi keadaan ini, apalagi melihat situasi yang genting. Kerusuhan dalam diri tak lagi bisa dibendung, penjara ketakutan telah merampas kebahagiaan saya. Ruang-ruang batin pun berantakan setelah hati dan pikiran saya dijarah oleh rasa takut. Berita televisi dan media sosial dipenuhi kecemasan. Kota terasa semakin tercekam oleh massa yang menyampaikan aspirasi kepada mereka yang duduk nyaman di kursi kekuasaan. Emosi membara, kemarahan muncul karena rakyat diremehkan oleh salah satu wakilnya yang seharusnya mewakili suara banyak orang. Massa aksi selayaknya semut-semut kecil, bergerombol lalu bubar ke segala arah tanpa tahu jalan pulang. Mereka berdiri berjam-jam hanya untuk mendengarkan teriakan sekawannya. Namun, tidak semua yang berkerumun murni menyuarakan aspirasi, ada provokator yang membuat keadaan semakin mence...

Belistra Sebuah Pelabuhan

 B Belistra Sebuah Pelabuhan By Rafif Abbas Pradana      Musyawarah Belistra 2025 telah dilaksanakan pada hari Minggu, 07 Desember 2025 dengan suasana penuh canda tawa sepanjang persidangan. Mustra adalah Musyawarah Belistra yang menjadi forum tertinggi tempat seluruh anggota berkumpul untuk mengevaluasi perjalanan satu tahun ke belakang, menyampaikan laporan pertanggungjawaban, serta menentukan arah organisasi. Dalam forum inilah dinamika organisasi memuncak dan keputusan-keputusan penting ditetapkan.      Dari sekian kesibukan yang terjadi di dalamnya, ada kebanggaan yang tumbuh perlahan dalam diri saya. Saya merasa cukup berani melaju ke depan sebagai calon ketua Belistra. Namun peserta sidang memilih sosok yang lebih pantas pada saat itu. Ketika keputusan dibacakan, nama saya tidak muncul. Yang terpilih adalah Nisa Nurfadila yang akrab kami panggil Nca. Momen tersebut sempat mematahkan harapan saya untuk menjadi pemimpin, tetapi saya tetap merasa i...

Setengah Jadi

Sore hari menjelang pembuka puasa. Di Tugu Bacang, 26 Februari 2026. Unit Kegiatan Mahasiswa Bengkel Menulis dan Sastra atau UKM Belistra mengadakan kegiatan diskusi koran untuk pertama dalam kepengurusan 2026. Walau sudah setahun saya mengurus, saya melihat diskusi koran tidak berubah dari metodenya, sampai korannya masih setia dengan Banten Pos. Yang selalu menemani diskusi koran. Terlebih pemantik Yani yang menguliti setiap informasi yang dibaca oleh peserta. Pembahasan dimulai dengan resah. Saya pun tahu semua peserta resah menahan lapar malah disuruh mikir, untungnya tidak kecelakaan karena jalan pikir yang mulai rusak akibat goyangan perut yang terus berguncang-guncang, sama halnya jalan di Pandeglang. Jalan Pandeglang seringkali diumpat oleh warga Banten sendiri sebagai jalan yang jelek, berlubang, rusak. Sampai-sampai digugat oleh warganya sendiri yang berjumlah 100 miliar. Luar biasa itu jumlahnya jika disalurkan ke Belistra. Belistra bisa membuat sayembara menulis menurut-nu...