Langsung ke konten utama

Surat dari sang raja katanya

Cahaya malam menyinari kisah cinta kita selama ini. Adegan pewayangan cinta kita berlangsung megah dan meriah di atas bukit kesetiaan. Aku dan kamu—jika saja aku tidak melepaskan pada malam itu. Aku tak akan memaafkan diriku hingga kini. Sebenarnya, aku belum benar-benar melepaskan. Cinta itu masih kusimpan baik-baik, dan aku sembuh perlahan lewat nyanyian merdumu yang diam-diam kuputar sendiri.


Aku sadar, hubungan mesra ini tak bisa bertahan hanya dengan genggaman tanganku. Namun satu hal yang selalu ingin kukatakan: aku tak pernah sekalipun menggugurkan cintaku dari jantungku.

Seluruh lelah yang kutanggung, hanya untuk menunjukkan bahwa aku tetap tegar—agar bisa menjadi bagian dari hatimu.


Mati dan hidup, langit dan lautan, aku dan kamu—semuanya telah dinobatkan sebagai mukjizat yang sudah ada sejak dulu. Sesuatu yang seharusnya dijaga, dirawat. Tapi penyesalanku adalah satu: aku gagal menjadi calon pemimpinmu.


Kini, aku hanya berdiri di persimpangan jalan,

hanya bisa melihatmu dari kejauhan, wahai ratuku.

Jika semesta berkenan merestui kita sekali lagi,

aku akan pastikan kesempatan itu tidak kusia-siakan.

Namun jika tidak, aku siap tetap berada di balik layar kebahagiaanmu.


Aku sungguh bahagia melihatmu saat keadaanmu baik-baik saja.

Dan ketika kamu tidak baik-baik saja, aku takkan tinggal diam.

Itulah yang masih bisa kulakukan.

Ratuku yang kusayangi...

Rindu masa-masa itu—hah, sampai tertawa pun rasanya sesak napas.

Tapi aku tetap setia, dalam cintaku yang abadi,

yang hidup terus-menerus di dalam benakku.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Negeri yang Demam oleh Amarah

  Stres berkepanjangan membuat saya terus bertanya pada diri sendiri, mengapa kepala saya dipenuhi masalah dan ketakutan yang menghantui. Lemas dan letih rasanya menghadapi keadaan ini, apalagi melihat situasi yang genting. Kerusuhan dalam diri tak lagi bisa dibendung, penjara ketakutan telah merampas kebahagiaan saya. Ruang-ruang batin pun berantakan setelah hati dan pikiran saya dijarah oleh rasa takut. Berita televisi dan media sosial dipenuhi kecemasan. Kota terasa semakin tercekam oleh massa yang menyampaikan aspirasi kepada mereka yang duduk nyaman di kursi kekuasaan. Emosi membara, kemarahan muncul karena rakyat diremehkan oleh salah satu wakilnya yang seharusnya mewakili suara banyak orang. Massa aksi selayaknya semut-semut kecil, bergerombol lalu bubar ke segala arah tanpa tahu jalan pulang. Mereka berdiri berjam-jam hanya untuk mendengarkan teriakan sekawannya. Namun, tidak semua yang berkerumun murni menyuarakan aspirasi, ada provokator yang membuat keadaan semakin mence...

Belistra Sebuah Pelabuhan

 B Belistra Sebuah Pelabuhan By Rafif Abbas Pradana      Musyawarah Belistra 2025 telah dilaksanakan pada hari Minggu, 07 Desember 2025 dengan suasana penuh canda tawa sepanjang persidangan. Mustra adalah Musyawarah Belistra yang menjadi forum tertinggi tempat seluruh anggota berkumpul untuk mengevaluasi perjalanan satu tahun ke belakang, menyampaikan laporan pertanggungjawaban, serta menentukan arah organisasi. Dalam forum inilah dinamika organisasi memuncak dan keputusan-keputusan penting ditetapkan.      Dari sekian kesibukan yang terjadi di dalamnya, ada kebanggaan yang tumbuh perlahan dalam diri saya. Saya merasa cukup berani melaju ke depan sebagai calon ketua Belistra. Namun peserta sidang memilih sosok yang lebih pantas pada saat itu. Ketika keputusan dibacakan, nama saya tidak muncul. Yang terpilih adalah Nisa Nurfadila yang akrab kami panggil Nca. Momen tersebut sempat mematahkan harapan saya untuk menjadi pemimpin, tetapi saya tetap merasa i...

Setengah Jadi

Sore hari menjelang pembuka puasa. Di Tugu Bacang, 26 Februari 2026. Unit Kegiatan Mahasiswa Bengkel Menulis dan Sastra atau UKM Belistra mengadakan kegiatan diskusi koran untuk pertama dalam kepengurusan 2026. Walau sudah setahun saya mengurus, saya melihat diskusi koran tidak berubah dari metodenya, sampai korannya masih setia dengan Banten Pos. Yang selalu menemani diskusi koran. Terlebih pemantik Yani yang menguliti setiap informasi yang dibaca oleh peserta. Pembahasan dimulai dengan resah. Saya pun tahu semua peserta resah menahan lapar malah disuruh mikir, untungnya tidak kecelakaan karena jalan pikir yang mulai rusak akibat goyangan perut yang terus berguncang-guncang, sama halnya jalan di Pandeglang. Jalan Pandeglang seringkali diumpat oleh warga Banten sendiri sebagai jalan yang jelek, berlubang, rusak. Sampai-sampai digugat oleh warganya sendiri yang berjumlah 100 miliar. Luar biasa itu jumlahnya jika disalurkan ke Belistra. Belistra bisa membuat sayembara menulis menurut-nu...