Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

MENAWAR KEBERADAAN

  Pelaut yang hebat lahir dari badai, bukan dari laut yang tenang.” Dalam pepatah orang dulu. Pepatah itu bercerminkan diri saya sebagai manusia. Manusia yang sedang mencari keberadaannya di dunia yang terlalu sibuk ini. Pencarian itu, yang selama ini saya cari, tidak semudah apa yang saya kira. Berawal dari rasa sakit seorang anak SD yang tidak merasa punya keberadaan. Tidak terlibat dalam keputusan-keputusan penting. Contohnya tidak dilibatkan bermain bola antar teman sebaya, antar SD. Walau itu hanya melawan SDN Bekasi Jaya 7. Saya merasa iri, mungkin juga dengki, melihat teman-teman saya diberi kesempatan dan diberi panggung. Sedangkan aku hanyalah bocah hingusan yang menurutku sendiri tidak akan didengar. Masa-masa itu sejak SD kelas 1 sampai 6, saya merasa tidak punya keputusan yang penting dalam Kelompok. Contohnya ketika saya ingin mencalonkan diri menjadi ketua kelas dari kelas 4 SD sampai kelas 6 SD. Saya selalu kalah. Dan akhirnya saya menjadi seksi kebersihan kare...

Jika Mesin Waktu Benar-Benar Ada, Apakah Sejarah Selesai?

  ( Foto ini dibuat oleh AI chatgpt ) Mahasiswa sejarah seharusnya punya mesin waktu agar mereka bisa lebih memahami masa lalu lebih dalam, selayaknya ilmu-ilmu sosial lainnya. Keterbatasan sumber membuat mahasiswa sejarah hanya bisa melihat masa lalu dari kejauhan, dari sisa-sisa yang tidak utuh. Waktu memisahkan jejak-jejak itu. Padahal namanya jejak, bisa hilang jika tidak dirawat. Bisa disalahartikan jika salah membacanya, lalu disambung satu sama lain secara acak. Dari situlah kesulitan saya bermula ketika mulai menulis sejarah. Kerap kali saya kewalahan ketika berhadapan dengan sumber-sumber yang bahkan sulit saya pahami sendiri. Maka saya menegaskan pentingnya mesin waktu sebagai alat agar mahasiswa sejarah bisa hadir langsung di lapangan. Ketika mesin waktu itu niscaya ada, mereka akan lebih mudah melakukan wawancara langsung, selayaknya kerja jurnalistik.   Jejak yang Terlambat dan Fakta yang Tidak Pernah Netral Sejarah menurut saya memang dekat dengan dunia kej...

Berlebihan Rezeki Berujung Marapetaka

      November sampai Desember menjadi bulan-bulan berduka cita karena langit yang sedang menangis, membanjiri seluruh permukaan daratan. Berujung tahun menjadi momentum krusial bagi masyarakat Indonesia, termasuk saya sendiri, untuk melihat lagi apa saja yang sudah dilakukan, hingga hujan datang menghantam rumah-rumah yang tidak bersalah. Pulau Sumatra bagian barat menjadi arena pertemuan manusia dan alam. Di sana banyak air mata yang menghujani media sosial. Riuhnya media sosial atas kejadian ini membawakan babak baru untuk bisa melihat bagaimana alam sedang berteriak, meminta untuk diperhatikan.       Saya melihat bencana ini sebagai gambaran umum tentang malaikat pemberi rezeki yang seolah terlalu melebih-lebihkan tugasnya. Banyak permintaan rezeki yang dinaikkan, rezeki dari pertambangan dan pembangunan perkebunan sawit, ditujukan kepada mereka yang punya kuasa di negeri ini. Dari apa yang saya lihat sekarang, semua itu menjelma berlebihan re...

Belistra Sebuah Pelabuhan

 B Belistra Sebuah Pelabuhan By Rafif Abbas Pradana      Musyawarah Belistra 2025 telah dilaksanakan pada hari Minggu, 07 Desember 2025 dengan suasana penuh canda tawa sepanjang persidangan. Mustra adalah Musyawarah Belistra yang menjadi forum tertinggi tempat seluruh anggota berkumpul untuk mengevaluasi perjalanan satu tahun ke belakang, menyampaikan laporan pertanggungjawaban, serta menentukan arah organisasi. Dalam forum inilah dinamika organisasi memuncak dan keputusan-keputusan penting ditetapkan.      Dari sekian kesibukan yang terjadi di dalamnya, ada kebanggaan yang tumbuh perlahan dalam diri saya. Saya merasa cukup berani melaju ke depan sebagai calon ketua Belistra. Namun peserta sidang memilih sosok yang lebih pantas pada saat itu. Ketika keputusan dibacakan, nama saya tidak muncul. Yang terpilih adalah Nisa Nurfadila yang akrab kami panggil Nca. Momen tersebut sempat mematahkan harapan saya untuk menjadi pemimpin, tetapi saya tetap merasa i...