Pelaut yang hebat lahir dari badai, bukan dari laut yang tenang.” Dalam pepatah orang dulu. Pepatah itu bercerminkan diri saya sebagai manusia. Manusia yang sedang mencari keberadaannya di dunia yang terlalu sibuk ini. Pencarian itu, yang selama ini saya cari, tidak semudah apa yang saya kira. Berawal dari rasa sakit seorang anak SD yang tidak merasa punya keberadaan. Tidak terlibat dalam keputusan-keputusan penting. Contohnya tidak dilibatkan bermain bola antar teman sebaya, antar SD. Walau itu hanya melawan SDN Bekasi Jaya 7. Saya merasa iri, mungkin juga dengki, melihat teman-teman saya diberi kesempatan dan diberi panggung. Sedangkan aku hanyalah bocah hingusan yang menurutku sendiri tidak akan didengar. Masa-masa itu sejak SD kelas 1 sampai 6, saya merasa tidak punya keputusan yang penting dalam Kelompok. Contohnya ketika saya ingin mencalonkan diri menjadi ketua kelas dari kelas 4 SD sampai kelas 6 SD. Saya selalu kalah. Dan akhirnya saya menjadi seksi kebersihan kare...
Menulis sepanjang Hayat