Pelaut yang hebat lahir dari badai,
bukan dari laut yang tenang.”
Dalam pepatah orang dulu.
Pepatah itu bercerminkan diri saya sebagai
manusia. Manusia yang sedang mencari keberadaannya di dunia yang terlalu sibuk
ini. Pencarian itu, yang selama ini saya cari, tidak semudah apa yang saya
kira. Berawal dari rasa sakit seorang anak SD yang tidak merasa punya
keberadaan. Tidak terlibat dalam keputusan-keputusan penting. Contohnya tidak
dilibatkan bermain bola antar teman sebaya, antar SD. Walau itu hanya melawan
SDN Bekasi Jaya 7. Saya merasa iri, mungkin juga dengki, melihat teman-teman
saya diberi kesempatan dan diberi panggung. Sedangkan aku hanyalah bocah
hingusan yang menurutku sendiri tidak akan didengar.
Masa-masa itu sejak SD kelas 1 sampai
6, saya merasa tidak punya keputusan yang penting dalam Kelompok. Contohnya
ketika saya ingin mencalonkan diri menjadi ketua kelas dari kelas 4 SD sampai
kelas 6 SD. Saya selalu kalah. Dan akhirnya saya menjadi seksi kebersihan
karena jarang dipilih. Ketika ketua kelas pada saat itu adalah anak yang good
looking kalau kata zaman sekarang. Penampilannya baik, sedangkan saya bocah
hitam, kepala botak, dan masih hingusan. Cukup perih di dada, namun tidak
membuat diriku nekat. Saya hanya diam, tapi mungkin dari diam itulah luka mulai
menumpuk.
SD menjadi pondasi saya untuk
meningkatkan keberadaan saya di mata orang lain. Saya ingin terkenal dan bisa
mengambil keputusan-keputusan penting. Termasuk menjadikan diri saya seseorang
yang handal dan diandalkan banyak orang, kelihatan pintar dan aktif. Dari situ
saya memikirkan dan merumuskan bagaimana saya bisa menaikkan derajat saya di
ajang panggung publik ini. Panggung publik yang saya maksud adalah sebuah
pengakuan dari banyak orang lain, untuk berada di posisi bukan orang biasa,
namun orang terhandal seperti yang saya bayangkan. Di titik ini saya mulai
menyadari, meski belum berani mengakuinya, bahwa saya sering mengukur nilai
diri saya dari posisi yang saya miliki.
Maka SMP menjadi arena pertama saya
untuk menempuh harapan saya akan pengakuan keberadaan di dalam panggung publik.
Sewaktu kelas 7 SMP, saya bersekolah di SMPN 3 Tambun Utara. Di sana saya
beralih dari SD ke SMP. Terjadi perubahan pola pikir. Di masa transisi ini,
saya berpikir untuk mencari wadah yang bisa membuat saya diakui. Pertama yang
saya soroti adalah pengurus organisasi intra sekolah atau biasa disebut OSIS.
Saya melihatnya sebagai wadah yang bisa menaikkan keberadaan di banyak orang.
Kakak-kakak OSIS tampil dalam masa pengenalan lingkungan sekolah atau MPLS.
Mereka sangat dihormati dan disegani. Tampil galak dan memukau banyak orang.
Mereka dikenal banyak guru dan siswa-siswa di SMP. Itulah mengapa pada akhirnya
saya bergabung dan masuk OSIS pada masa itu.
Penuh dengan semangat saya masuk ke
dalam kepengurusan OSIS. Saya menjalani seleksi yang melelahkan, di mana
orang-orang dipilih secara selektif. Ada yang terpilih dan tidak terpilih,
namun saya terpilih menjadi bagian dari OSIS tersebut. Setelah itu ada kegiatan
LDKS, latihan dasar kepemimpinan siswa, mirip-mirip latihan kepemimpinan di
kampus, hanya saja tanpa materi dasar logika. Di LDKS saya disiksa dan dihibur
dalam penampilan malam-malam. Tempatnya itu di Subang, daerah lereng gunung
pokoknya. Setelah saya melewati semuanya, saya melaksanakan tugas sebagai
kepengurusan OSIS, dari menjadi panitia kegiatan sekolah sampai piket menjadi
satpam siswa.
Waktu itu ada kelas pagi dan kelas
siang. Saya yang kelas pagi mendapat tugas piket di kelas siang. Kami disuruh
menjaga ketertiban siswa yang keluar-masuk kelas. Dari situ saya menjaga, namun
saya pikir saya bisa marah-marah dan disegani. Nyatanya saya malah diledek adik
kelas. Saya dibully, diajak main kejar-kejaran, bahkan ada yang mengajak ribut.
Di titik itu saya mulai bertanya, meski masih samar, apakah posisi memang
selalu melahirkan wibawa, atau saya hanya sedang mengejar simbol tanpa
benar-benar punya kuasa.
Begitulah cerita saya di OSIS, memang
memilukan. Selain OSIS saya juga mengikuti eskul. Saya tidak main-main dalam
mencari eskul. Saya mengikuti hampir semua yang ada. Dari Jepang Club, tempat
saya belajar bahasa dan budaya Jepang. Waktu itu saya ingin jadi wibu dan
diakui sebagai wibu, padahal banyak orang justru tidak mau dilabeli wibu.
Alasannya sederhana, karena teman-teman saya di rumah suka anime atau hal-hal
berbau Jepang. Makanya saya masuk. Namun setelah saya masuk dan mengikuti
kegiatannya, lama-lama saya tidak aktif. Saya hanya ikut ketika ada kegiatan
masak-masak atau nonton anime bareng.
Selain Jepang Club, saya mengikuti
eskul Kelompok Ilmiah Remaja. Di sana saya belajar sains dan percobaan ala-ala
video orang-orang Barat. Waktu itu saya belajar roket air, bom dari bahan
sederhana, dan banyak keilmuan alam yang saya serap. Sampai akhirnya saya
membuat logo KIR sebagai identitas. Dan tidak kalah keren, saya juga menjadi
Dewan Penggalang. Saya membantu pembina kegiatan pramuka, dan di situ saya
menjadi kakak-kakak pramuka banget.
Tidak sampai di situ. Saya kelas 8
masuk Palang Merah Remaja, karena waktu itu saya menjadi panitia MPLS sebagai
tim kesehatan dan bekerja sama dengan PMR. Momen-momen itu menambah daftar
organisasi saya selama SMP. Semua saya ikuti dan Sampai lelah pun saya tetap
mengikuti. Hasilnya saya dipandang sebagai siswa yang punya popularitas tinggi
pada masa itu. Apalagi saya pintar dalam mata pelajaran IPS saya aktif dan
sangat menyukainya. Saya sampai mengikuti kompetisi siswa nasional walau secara
daring karena pandemi. Saya juga pernah menjahili teman-teman saya dengan
jawaban yang salah, sampai satu kelas mendapatkan nilai buruk. Di situ saya
merasa punya power. Nama saya dikenal di setiap sudut sekolah. Ketika saya
membuat branding yel-yel berjudul naon what apa, yel-yel itu membuat saya
semakin dikenal.
Namun saya merasa di SMP semuanya belum
sempurna. Karena sewaktu pemilihan ketua OSIS, saya gagal menjadi calon ketua
OSIS. Banyak keterbatasan, terutama public speaking. Padahal saya dipilih salah-satu
senior karena gagasan yang saya punya. Setelah disebut sebagai bakal calon,
saya membuat visi misi dan program unggulan. Kekecewaan ini membuat saya marah.
Walau begitu saya tetap lanjut dua periode. Namun rasanya tidak seindah periode
sebelumnya. Perjalanan terus berputar sesuai jarum jam. Saya di SMP sudah
meningkat dibanding waktu saya SD. Dan dari situlah saya mencoba menabrak lagi
di masa SMA.
Masa SMA, kelas 10 yang serba pandemi
ini. Saya melihat demo demo ekskul. Awalnya saya masuk ekskul informasi sekolah
terkini. Di sana saya belajar dan saya ingin mengikuti ketika saya masuk
sekolah. Saya berminat untuk belajar menulis dan meliput berita berita. Setelah
masuk INSEKT ( Informasi Sekolah Terkini ), saya selama di INSEKT banyak sekali
belajar, dari belajar meliput mading dan hal hal lain yang berkaitan dengan
kejurnalistikan dan kesastraan. Saya memilih divisi karya tulis, karena awalnya
saya ingin mengembangkan hobi saya. Periode selanjutnya saya menjadi
koordinator karya tulis. Di situ saya membuat program program unggulan, namun
masukan saya sering dibantah dan tidak diterima mentah mentah, padahal saya
ingin setiap minggu mereka belajar menulis dan kejurnalistikan sebagai dasar
menjadi jurnalis siswa. Saya merasa tidak didengar di situ. Walau begitu, karya
karya seperti liputan dan puisi dihargai dengan diunggah di Instagram. Dari
situ saya dikenal lewat karya karya saya, dan saya menjadi sorotan. Setiap
nongkrong di sekolah pasti ada orang yang menanyakan puisi saya dan
menanggapinya dengan baik.
Selain di INSEKT saya juga ikut ekskul
pramuka inti, yang awalnya terinspirasi dari lagu lagu pramuka yang berisi
percintaan seperti lagu Cinta Simpul Mati. Dari situ saya ingin masuk pramuka
karena terlihat seru. Peran saya di pramuka semasa SMA cukup besar, dari
menjadi ketua satuan karya bahari Kabupaten Bekasi sampai menjadi ketua dewan
kwaran Tambun Utara. Di internal saya sangat aktif walau banyak gejolak dan
permasalahan, itu wajar. Banyak pengalaman kegiatan dari tingkat daerah sampai
nasional. Pernah dalam satu bulan saya mengikuti empat kegiatan. Apalagi baju
pramuka saya penuh dengan tanda kegiatan dan penghargaan, itu menjadi daya
pikat di mata banyak orang.
Walau begitu kekecewaan datang saat
pemilihan. Waktu itu saya mencalonkan diri karena memang wajib dari angkatan
saya. Dari putra hanya dua orang, namun bukan saya yang terpilih. Padahal
banyak ide yang saya keluarkan untuk pramuka sekolah. Saat saya menjadi juru
adat dengan relasi pramuka yang luas, saya sering mengajak kegiatan anak
ambalan untuk keluar, namun saya tidak bisa memanfaatkan relasi itu untuk
mengembangkan ambalan saya sendiri. Saat mengikuti Pramuka Garuda, tingkatan
tertinggi penegak, saya tidak berhasil karena kurang persiapan dan biaya. Namun
itu tidak mematahkan diri saya.
Selain pramuka dan INSEKT, saya juga
ikut TESC atau Tamara English Study Club. Awalnya saya masuk karena saya tidak
bisa bahasa Inggris dan ingin belajar. Namun nyatanya saya tetap tidak bisa.
Ironisnya, selama dua periode saya justru terpilih menjadi humas, bagian
strategis di ekskul itu. Pada suatu kegiatan English Day, kegiatan satu hari
berbahasa Inggris, saya menjadi panitia. Saat itu saya hanya bisa mengatakan
yes dan no, lalu membisu, takut ditegur oleh teman teman ekskul.
Saya juga mengikuti P2S atau Patroli
Siswa Siaga. Di sana saya menjadi intel dan pengawas keterlambatan serta
upacara. Terlihat keren, namun pahitnya tetap ada. Saat bertugas saya sering
diledek dan ditertawakan, polanya sama seperti waktu SMP. Namun suatu ketika
saya bersikap tegas dan marah, dan sejak itu saya menjadi momok bagi siswa yang
melanggar. Saat tadarus dan literasi saya memastikan kelas kosong dan tertib.
Ada kalanya saya berteriak lantang hingga mereka kabur, bahkan ada yang marah
dan mengajak berantem. Namun P2S tetap kalah pamor dengan kelompok anak ultras
yang paling kuat. Saya tidak takut karena saya punya backing, yaitu guru.
Di SMA saya juga masuk kepengurusan
OSIS sebagai dorongan untuk semakin dikenal. Saya mendapat posisi Sekbid 8
bahasa dan budaya. Saya membuat terobosan seperti akun Instagram yang
diteruskan adik adik kepengurusan sekarang. Isinya konten budaya, rekomendasi
buku, dan cipta karya sastra. Selama di OSIS saya mendapat banyak pelajaran.
Namun saat rapat evaluasi saya sering disudutkan, dan itu menjadi latihan
mental bagi saya. Di periode kedua saya tidak lagi di Sekbid 8, melainkan
Sekbid 2 kedisiplinan dan akhlak, karena status saya sebagai wakil P2S dan satu
satunya dari angkatan saya yang hanya anggota biasa. Cukup sedih, karena ide
ide besar saya hangus seketika dan saya hanya menjalankan tupoksi.
Selama SMA nama saya semakin dikenal
dan gagasan saya lebih diterima walau masih banyak penolakan. Itu menjadi
pondasi saya untuk terus belajar. Saat kuliah sekarang, dari satu semester saya
mengikuti banyak UKM seperti TRANS, Belistra, komunitas jurnalistik, dan
Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah atau HIMADIRA. Yang aktif saya jalani
hanya Belistra, komunitas jurnalistik, dan HIMADIRA. Di bengkel menulis
Belistra, gagasan saya diterima dan diberi ruang. Di HIMADIRA saya bisa
mengekspresikan bakat saya, menulis artikel sejarah, dan memberi gagasan kelas
menulis yang benar benar dilaksanakan. Di komunitas jurnalistik pun saya
merasakan hal yang sama.
Saya selalu bersama Belistra, karena
saya menganggapnya sebagai pelabuhan, lebih dari sebuah rumah. Banyak hal yang
tidak saya dapatkan sejak SD, di Belistra saya menemukan tempat yang nyaman.
HIMADIRA menjadi tempat saya belajar sekaligus berkontribusi untuk teman teman
dan adik tingkat. Pada akhirnya saya terus berlari di periode kedua ini. Semoga
tidak terulang seperti SD, SMP, dan SMA.
Saya mengakui bahwa rasa ingin terkenal
dan angkuh itu mungkin kesalahan saya. Sekarang saya fokus pada apa yang saya
capai. Keberadaan saya sudah diperhitungkan, namun saya takut jika itu membuat
saya sombong. Saya terus belajar memahami diri sendiri. Saya belajar bahwa
pelaut hebat lahir dari badai, bukan laut yang tenang. Selama ini saya berlayar
di tengah badai masalah, dan dari situlah saya belajar menjadi lebih baik.
Semakin dewasa, saya memilih meredakan diri. Mungkin esai ini adalah
pemberontakan trauma saya yang dulu diremehkan. Saya sendiri bingung, apakah
ini kesombongan atau pencapaian. Maka esai ini saya tulis untuk mendiskusikan
diri saya sendiri.

Komentar
Posting Komentar