Langsung ke konten utama

Jika Mesin Waktu Benar-Benar Ada, Apakah Sejarah Selesai?

 

( Foto ini dibuat oleh AI chatgpt )

Mahasiswa sejarah seharusnya punya mesin waktu agar mereka bisa lebih memahami masa lalu lebih dalam, selayaknya ilmu-ilmu sosial lainnya. Keterbatasan sumber membuat mahasiswa sejarah hanya bisa melihat masa lalu dari kejauhan, dari sisa-sisa yang tidak utuh. Waktu memisahkan jejak-jejak itu. Padahal namanya jejak, bisa hilang jika tidak dirawat. Bisa disalahartikan jika salah membacanya, lalu disambung satu sama lain secara acak. Dari situlah kesulitan saya bermula ketika mulai menulis sejarah. Kerap kali saya kewalahan ketika berhadapan dengan sumber-sumber yang bahkan sulit saya pahami sendiri. Maka saya menegaskan pentingnya mesin waktu sebagai alat agar mahasiswa sejarah bisa hadir langsung di lapangan. Ketika mesin waktu itu niscaya ada, mereka akan lebih mudah melakukan wawancara langsung, selayaknya kerja jurnalistik.

 

Jejak yang Terlambat dan Fakta yang Tidak Pernah Netral

Sejarah menurut saya memang dekat dengan dunia kejurnalistikan, karena sejarah selalu berurusan dengan sumber, baik primer maupun sekunder. Hanya saja sejarawan selalu datang terlambat. Yang paling sulit adalah mencari sumber zaman kuno, di mana kerja mahasiswa sejarah sering kali berhenti pada buku-buku sejarawan saja. Mungkin karena kesulitan bahasa, mungkin karena sumbernya berada di negara lain, atau karena sumber itu dimonopoli, bahkan diperjualbelikan di pasar gelap. Namun persoalannya tidak berhenti di situ. Kadang yang diwawancarai juga tidak objektif. Setiap sumber membawa kepentingannya sendiri. Seperti yang pernah disadari E.H. Carr dalam What Is History?, fakta sejarah tidak pernah berdiri netral. Fakta selalu dipilih, disusun, dan diberi makna oleh orang yang menuliskannya.

Bayangkan jika mahasiswa sejarah benar-benar memiliki mesin waktu dan mewawancarai tokoh seperti Soeharto. Wawancara semacam itu tetap tidak akan benar-benar netral. Setiap pelaku sejarah selalu berbicara dari posisi kuasa, dari ingatan yang telah dipilih, dan dari upaya membenarkan dirinya sendiri. Dari sini sejarah mulai menyadari keterbatasannya, bahwa tidak semua peristiwa dapat ditelusuri hanya melalui kesaksian manusia maupun arsip yang tersisa. Bahkan ketika imajinasi mesin waktu membawa mahasiswa sejarah pada kemungkinan berdialog dengan figur kenabian, sejarah justru berhenti di sana. Wilayah keimanan dan wahyu berada di luar jangkauan pembuktian historis. Sejarah hanya mampu mencatat bagaimana keyakinan itu diterjemahkan ke dalam tindakan manusia dan menjelma menjadi peristiwa sosial.


Pengetahuan Masa Depan dan Bahaya Mengubah Dunia

Meskipun mahasiswa sejarah memakai mesin waktu, kerja mereka tetap melelahkan. Mereka harus belajar bahasa Yunani jika ingin memahami para filsuf. Mereka harus membaca situasi dan keadaan di lapangan. Jika salah membaca, mereka bisa mati di dalam masa lalu, atau justru mengubah arah dunia. Imajinasi ini penuh misteri dan rasa ingin mengubah segalanya. Pengetahuan tentang masa depan yang dibawa ke masa lampau bisa menjadi alat untuk mengubah geopolitik, kebudayaan, dan peradaban. Bisa saja Indonesia malah menjajah negara-negara Eropa, karena mahasiswa sejarah sudah mengetahui apa yang akan terjadi. Seperti ramalan Jayabaya yang dibaca ulang dengan kesadaran sejarah. Di titik ini, mahasiswa sejarah tidak hanya menulis, tetapi juga bisa menjadi ahli hubungan internasional atau ahli politik.

 

Metodologi yang Goyah dan Sejarah yang Kehilangan Jarak

Namun jika mesin waktu itu rusak, mahasiswa sejarah akan kehilangan harapannya untuk kembali ke masa kini. Sejarah akan mencatatnya sebagai jejak perjalanan waktu dan membongkar sistematika hukum waktu yang telah dibuat oleh Tuhan. Hal itu akan menjadi perdebatan di masa kini. Jejak-jejak akan dicari, dan praduga tentang perjalanan waktu akan bermunculan. Yang paling disayangkan, mereka belum lulus kuliah. Bahkan tugas metodologi sejarah belum selesai. Mereka sudah terjun ke lapangan, tetapi hanya menggunakan cara kerja jurnalistik, mencatat masa kini di dalam waktu masa lalu. Padahal metodologi sejarah tidak mengenal wawancara sezaman pada saat peristiwa itu terjadi. Di situlah batas antara sejarah dan pers.

Namun justru dari keterbatasan itulah muncul kemungkinan. Jika mesin waktu dipahami bukan sebagai alat, melainkan sebagai cara berpikir, maka historiografi yang sudah mapan bisa diganggu. Misteri-misteri yang selama ini dibiarkan bisa kembali dipertanyakan.


Narasi Besar, Ingatan, dan Sejarah yang Tak Pernah Selesai

Faktanya, sejarah adalah peninggalan. Sekalipun saksi sejarah masih ada, yang tersisa hanyalah ingatan, dan ingatan sering kali tidak detail, bahkan menipu. Maka jejak-jejak itu kemudian disusun menjadi narasi besar, seakan-akan benar-benar utuh dan tidak bisa dibantah. Sejarah tampil sebagai bentuk tunggal, walau penuh celah. Seolah-olah masa lalu berjalan lurus dan rapi. Tidak boleh dipertanyakan, apalagi ditulis ulang sebagai narasi tandingan. Di sinilah saya justru mempertanyakan sejarah itu sendiri. Mesin waktu, dalam imajinasi saya, bisa digunakan untuk membuktikan apakah narasi besar yang ditulis negara memang benar adanya, atau hanya cerita yang dibesarkan.

Begitulah problematika sejarah. Hal yang bersifat materi saja masih diperdebatkan, apalagi ketika sejarah diajarkan dan disebarkan sebagai kebenaran. Setidaknya jejak tetap disampaikan, daripada hilang sama sekali. Dunia ini penuh keterbatasan. Dari keterbatasan itulah perdebatan lahir, ingatan dirawat, dan identitas suatu kelompok terbentuk. Kita merasa sama karena memiliki masa lalu yang sama. Kita diciptakan oleh rangkaian peristiwa yang tidak pernah diam. Peristiwa penuh dengan gejolak-gejolak.

Jika mesin waktu itu sebenarnya sudah bekerja sebagai cara berpikir kritis, apakah ia masih perlu diciptakan?

By Abbas Merah_Mahasiswa Pendidikan sejarah Untirta

Komentar

  1. masalah utamanya saat ini adalah mahasiswa sejarah yang jauh dari literasi, padahal 'membaca' adalah bahan akar pertama mahasiswa sejarah. Tanpa membaca maka tidak akan ada verifikasi kebenaran, diskusi yang berkualitas, dan pemikiran kritis yang berlandaskan ilmiah. Indikatornya sederhana, anak sejarah menjawab pertanyaan dengan kata 'Mungkin', padahal fakta sejarah sudah banyak ditulis kalau mau baca.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Negeri yang Demam oleh Amarah

  Stres berkepanjangan membuat saya terus bertanya pada diri sendiri, mengapa kepala saya dipenuhi masalah dan ketakutan yang menghantui. Lemas dan letih rasanya menghadapi keadaan ini, apalagi melihat situasi yang genting. Kerusuhan dalam diri tak lagi bisa dibendung, penjara ketakutan telah merampas kebahagiaan saya. Ruang-ruang batin pun berantakan setelah hati dan pikiran saya dijarah oleh rasa takut. Berita televisi dan media sosial dipenuhi kecemasan. Kota terasa semakin tercekam oleh massa yang menyampaikan aspirasi kepada mereka yang duduk nyaman di kursi kekuasaan. Emosi membara, kemarahan muncul karena rakyat diremehkan oleh salah satu wakilnya yang seharusnya mewakili suara banyak orang. Massa aksi selayaknya semut-semut kecil, bergerombol lalu bubar ke segala arah tanpa tahu jalan pulang. Mereka berdiri berjam-jam hanya untuk mendengarkan teriakan sekawannya. Namun, tidak semua yang berkerumun murni menyuarakan aspirasi, ada provokator yang membuat keadaan semakin mence...

THR: Dari Mogok Buruh ke Proposal THR

  Bulan Ramadhan telah berakhir, dan saya merasa cukup senang menyambut hari Lebaran. Hari yang penuh kebersamaan itu akhirnya tiba, dan saya tidak sabar menunggu THR. Namun, saya sadar bahwa saya sudah bukan anak sekolah lagi, sekarang saya adalah seorang mahasiswa. Kata saudara saya, anak kuliah justru memiliki lebih banyak kebutuhan dibandingkan anak kecil atau anak sekolah. Tahun lalu saya masih mendapatkan THR, tetapi tahun ini saya tidak tahu apakah masih akan mendapatkannya. Saya butuh uang untuk membeli PDH Belistra dan himpunan, agar bisa segera melunasinya. Saya melihat para pekerja mendapatkan tunjangan hari raya berupa uang atau sembako, termasuk ayah saya. Tahu tidak kalau THR ini di tahun 1953 dulunya disebut Hadiah Lebaran atau Persekot Hari Raya? Saat itu, pemberian tersebut bersifat sukarela dari majikan sebagai bentuk kepedulian sosial. Pada tahun 1950-an, para buruh hidup dalam kondisi yang memprihatinkan, dengan penghasilan yang bahkan tidak cukup untuk membeli ...

Semua Sudah Diatur, Tidak Perlu Dipikirkan

 Semua Sudah Diatur, Tidak Perlu Dipikirkan   Malam yang sunyi, saya kembali menulis. Kali ini, saya menulis tentang permasalahan kehidupan saya. Masalah hidup saya sama seperti masalah negeri ini. Dari ujung barat sampai timur, negeri ini dipenuhi oleh kicauan mahasiswa yang berteriak menuntut keadilan. Begitu pula saya, yang terus berteriak kepada hati saya sendiri, merasa bersalah atas perbuatan yang telah berlalu.   Iya, memang saya selalu menyesali setiap tindakan yang sudah terjadi. Namun, saya berpikir bahwa Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyesal ketika membuat UU TNI, yang kini membuat gaduh narasi di media sosial. Kerusuhan terjadi di mana-mana karena naskah yang dibuat terburu-buru. Saya tidak tahu apakah naskah itu benar-benar disusun berdasarkan proses demokrasi.   Saya mendukung undang-undang ini karena saya percaya bahwa undang-undang itu tidak akan merugikan rakyat, justru menguntungkan mereka. Namun, saya juga meragukan kemampuan seseor...