Langsung ke konten utama

Berlebihan Rezeki Berujung Marapetaka

  


  November sampai Desember menjadi bulan-bulan berduka cita karena langit yang sedang menangis, membanjiri seluruh permukaan daratan. Berujung tahun menjadi momentum krusial bagi masyarakat Indonesia, termasuk saya sendiri, untuk melihat lagi apa saja yang sudah dilakukan, hingga hujan datang menghantam rumah-rumah yang tidak bersalah. Pulau Sumatra bagian barat menjadi arena pertemuan manusia dan alam. Di sana banyak air mata yang menghujani media sosial. Riuhnya media sosial atas kejadian ini membawakan babak baru untuk bisa melihat bagaimana alam sedang berteriak, meminta untuk diperhatikan. 

    Saya melihat bencana ini sebagai gambaran umum tentang malaikat pemberi rezeki yang seolah terlalu melebih-lebihkan tugasnya. Banyak permintaan rezeki yang dinaikkan, rezeki dari pertambangan dan pembangunan perkebunan sawit, ditujukan kepada mereka yang punya kuasa di negeri ini. Dari apa yang saya lihat sekarang, semua itu menjelma berlebihan rezeki dalam bentuk hujan. Hujan turun terlalu banyak, namun tidak ada yang menampung atau mengambilnya, karena ruang-ruang telah penuh oleh aktivitas sawit dan pertambangan yang terus bergerak. Kadang kala hutan-hutan menjadi pintu penerima rezeki itu, namun jasadnya perlahan hilang. Yang tersisa hanya jiwa-jiwa hutan yang masih tertanam di kepala para aktivis lingkungan. Malaikat tetap menurunkan rezeki, air tetap jatuh dari langit, sementara tanah kehilangan kemampuannya untuk menerima. Jika ditinjau kembali, malaikat tidak salah.

    Mengasihi rezeki yang melimpah sudah menjadi tupoksinya. Yang perlu dicermati adalah bagaimana manusia menyiapkan dirinya dan alamnya untuk menerima rezeki itu. Hutan-hutan yang berjiwa ini kian tak mampu menampung air, dan persoalan ini menjadi rumit untuk dibicarakan. Pada dasarnya, rezeki yang saya rasakan perlu disyukuri dan dinikmati semestinya. Manusia-manusia semestinya senang jika hujan turun dengan melimpahnya air. Namun persoalannya, air itu tidak bisa diam. Air akan terus bergerak, dan menghajar siapa pun di depannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Negeri yang Demam oleh Amarah

  Stres berkepanjangan membuat saya terus bertanya pada diri sendiri, mengapa kepala saya dipenuhi masalah dan ketakutan yang menghantui. Lemas dan letih rasanya menghadapi keadaan ini, apalagi melihat situasi yang genting. Kerusuhan dalam diri tak lagi bisa dibendung, penjara ketakutan telah merampas kebahagiaan saya. Ruang-ruang batin pun berantakan setelah hati dan pikiran saya dijarah oleh rasa takut. Berita televisi dan media sosial dipenuhi kecemasan. Kota terasa semakin tercekam oleh massa yang menyampaikan aspirasi kepada mereka yang duduk nyaman di kursi kekuasaan. Emosi membara, kemarahan muncul karena rakyat diremehkan oleh salah satu wakilnya yang seharusnya mewakili suara banyak orang. Massa aksi selayaknya semut-semut kecil, bergerombol lalu bubar ke segala arah tanpa tahu jalan pulang. Mereka berdiri berjam-jam hanya untuk mendengarkan teriakan sekawannya. Namun, tidak semua yang berkerumun murni menyuarakan aspirasi, ada provokator yang membuat keadaan semakin mence...

Belistra Sebuah Pelabuhan

 B Belistra Sebuah Pelabuhan By Rafif Abbas Pradana      Musyawarah Belistra 2025 telah dilaksanakan pada hari Minggu, 07 Desember 2025 dengan suasana penuh canda tawa sepanjang persidangan. Mustra adalah Musyawarah Belistra yang menjadi forum tertinggi tempat seluruh anggota berkumpul untuk mengevaluasi perjalanan satu tahun ke belakang, menyampaikan laporan pertanggungjawaban, serta menentukan arah organisasi. Dalam forum inilah dinamika organisasi memuncak dan keputusan-keputusan penting ditetapkan.      Dari sekian kesibukan yang terjadi di dalamnya, ada kebanggaan yang tumbuh perlahan dalam diri saya. Saya merasa cukup berani melaju ke depan sebagai calon ketua Belistra. Namun peserta sidang memilih sosok yang lebih pantas pada saat itu. Ketika keputusan dibacakan, nama saya tidak muncul. Yang terpilih adalah Nisa Nurfadila yang akrab kami panggil Nca. Momen tersebut sempat mematahkan harapan saya untuk menjadi pemimpin, tetapi saya tetap merasa i...

Setengah Jadi

Sore hari menjelang pembuka puasa. Di Tugu Bacang, 26 Februari 2026. Unit Kegiatan Mahasiswa Bengkel Menulis dan Sastra atau UKM Belistra mengadakan kegiatan diskusi koran untuk pertama dalam kepengurusan 2026. Walau sudah setahun saya mengurus, saya melihat diskusi koran tidak berubah dari metodenya, sampai korannya masih setia dengan Banten Pos. Yang selalu menemani diskusi koran. Terlebih pemantik Yani yang menguliti setiap informasi yang dibaca oleh peserta. Pembahasan dimulai dengan resah. Saya pun tahu semua peserta resah menahan lapar malah disuruh mikir, untungnya tidak kecelakaan karena jalan pikir yang mulai rusak akibat goyangan perut yang terus berguncang-guncang, sama halnya jalan di Pandeglang. Jalan Pandeglang seringkali diumpat oleh warga Banten sendiri sebagai jalan yang jelek, berlubang, rusak. Sampai-sampai digugat oleh warganya sendiri yang berjumlah 100 miliar. Luar biasa itu jumlahnya jika disalurkan ke Belistra. Belistra bisa membuat sayembara menulis menurut-nu...