Langsung ke konten utama

Belajar sejarah lingkungan


Persoalan lingkungan selalu diajarkan ketika materi mata pelajaran ilmu pengetahuan alam. Dalam bab ekosistem atau global warming biasa saya temui ketika saya bersekolah waktu itu. Adapun dalam pengetahuan sosial, ekosistem menjadi permasalahan sosial yang dilihat dari perilaku antar manusia dan alam.

Sisi lain, sejarah selalu sibuk dengan narasi besar seperti peristiwa besar dan penting menurut negara. Sampai-sampai lupa jika fungsi sejarah bukan hanya itu; sejarah pun bisa berfungsi sebagai memori kolektif ekosistem. Sejarah lingkungan, seperti dipikirkan oleh Worster dan Cronon, mengajak kita melihat bagaimana hubungan timbal balik manusia dan alam membentuk nasib sebuah tempat. Ia menjadi memori bahwa banjir atau kekeringan itu jarang yang benar-benar alamiah, melainkan akumulasi dari salah urus yang tercatat dalam waktu.

Walau hanya memodalkan sumber-sumber yang terbatas, sejarah bisa tampil dalam narasi sains ke arah ilmu alam untuk memahami kembali keberlangsungan kehidupan di bumi ini dari waktu ke waktu. Sejarah bisa memberikan sebuah keniscayaan akan kerusakan yang sudah dibuat. Ia menunjukkan pola yang berulang: bagaimana demi modal, lahannya diubah; demi progres, ekosistemnya dilupakan. Hegel pun dengan pilu berkata, “Kita belajar dari sejarah bahwa kita tidak belajar dari sejarah.” Kerusakan itu tertulis ulang di setiap zaman, dengan aktor yang mungkin berganti.

Banyak hal dalam masa lalu di bumi ini mengalami berbagai fenomena alam. Posisi alam di sini menjadi sebuah tokoh yang terus hidup dalam narasinya. Alam sering kali dibully oleh manusia, bahkan disiksa dan dikeruk. Padahal bumi sudah sekuat mungkin menahan amarah demi keseimbangan ekosistem. Dalam narasi besar pembangunan, alam adalah tokoh yang dikalahkan, diekstraksi, dan dibentuk ulang sesuai desain “kepala kapitalis”. Dari hutan menjadi perkebunan sejak kolonial, dari rawa menjadi perumahan hingga sekarang, hal itu semua adalah babak-babak penyisihan tokoh alam dalam cerita kita.

Sejarah di sini menjadi sebuah daya pikir untuk memikirkan ulang dan memahami bumi yang sudah tua ini. Manusia sebagai tokoh antagonis dalam narasi ini menjadi tokoh yang memiliki kepala kapitalis. Kapital menjadi segalanya, dan lingkungan sebagai sesuatu yang merugikan kerap dimaafkan. Dalam seisi kepala kapitalis ini terdapat niat baik untuk membangun peradaban: membangun jaringan internet dan server. Namun, semua itu membutuhkan listrik, dan listrik membutuhkan batu bara atau panas bumi untuk dimanfaatkan. 

Mobil-mobil yang dimanfaatkan pun membutuhkan minyak bumi, sekalipun minyak goreng untuk memasak singkong goreng berasal dari sawit yang tersebar luas. Kepala kapitalis ini digerakkan oleh Zeitgeist atau semangat zamannya sendiri, yaitu roh pertumbuhan dan akumulasi yang melihat segala kelimpahan alam sebagai modal untuk ditukar dengan kemajuan. Sejarah mencatat bahwa setiap zaman memiliki semangatnya sendiri yang menenggelamkan suara ingatan kolektif akan kerusakan.

Dari situ muncullah alih fungsi lahan yang dimulai sejak zaman kolonial sampai masa globalisasi awal hingga sekarang. Dari hutan menjadi perkebunan dan pertambangan, serta persawahan dan rawa menjadi perumahan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia telah secara sadar menyiksa bumi secara perlahan, walau demi kemajuan sebuah peradaban. Peradaban yang besar sering kali adalah peradaban yang banyak mengalihfungsikan lahan. Hal ini menjadi visi dan misi para pengusaha untuk mendongkrak perekonomian Indonesia. 

Pada masa Orde Baru, tanah yang mengandung emas dijadikan sesajen untuk memperkaya diri dan menarik kepentingan Amerika Serikat sebagai jalan keluar dari keburukan perekonomian orde lama. Sejarah menjadi pengamat yang sabar, meski hanya membaca jejak-jejak yang sering kali dianggap selesai dalam buku nasional Indonesia, termasuk sejarah pertambangan di Papua. Sejarah melihat kebijakan yang, dalam istilah Dunn, sering bersifat reaktif dan jangka pendek. Kebijakan pengelolaan sumber daya alam kerap terfragmentasi, sektoral, dan tidak belajar dari sebab-akibat panjang yang seharusnya menjadi dasar perencanaan.

Para pengusaha ini belajar sejarah, tetapi mereka tidak benar-benar belajar darinya. Mereka lebih banyak belajar dari buku-buku kapitalis yang diagungkan demi peradaban. Mereka membaca sejarah sebagai kisah kelimpahan sumber daya untuk dieksploitasi, bukan sejarah kerentanan ekosistem yang perlu dijaga. Mereka terjebak dalam sistem yang lebih besar, di mana target pertumbuhan dan insentif jangka pendek membungkam pelajaran dari masa lalu. 

 Dari situlah keberhasilan pembangunan hadir bersama genangan air, tanah yang tercabut dari akarnya, rumah-rumah hanyut, jasad dan tangis yang tersisa. Keberhasilan itu menghasilkan profit, tetapi menyisakan penderitaan. Aktivitas mereka tidak sepenuhnya bisa disalahkan, karena mereka pun membutuhkan nafkah, sebagaimana orang memancing yang menunggu ikan memakan umpan. Inilah tragedi yang diungkapkan Hegel yaitu pengetahuan ada, tetapi tidak mengubah tindakan. Sejarah lingkungan mengajarkan bahwa genangan air dan tanah longsor adalah produk sejarah yang akumulasi dari pilihan kebijakan dan logika ekonomi yang meminggirkan keseimbangan.

Masa sekarang, mereka memancing perkara yang tidak berhenti-henti. Begitulah, kerja keras demi membangun peradaban tetap patut dihargai. Namun sejarah sebagai daya pikir mengajak kita untuk memikirkan ulang, apakah peradaban harus dibangun dengan terus-menerus mengorbankan tokoh alam? Apakah kita bisa mencari sintesis baru? Sejarah lingkungan menawarkan dirinya bukan sebagai penghakim, melainkan sebagai alat refleksi kolektif. Ia adalah memori yang menuntut kita tidak hanya pandai merekam, tetapi juga berani mengubah jalan cerita, agar bumi yang sudah tua ini tidak hanya menjadi latar penderita dalam narasi besar pembangunan kita.


Rafif Abbas Pradana_Mahasiswa Pendidikan Sejarah FKIP Untirta

Komentar

  1. bener bangett terkadang kita melupakan perkara kecil demi keuntungan besar padahal dari hal kecil akan menyebabkan ketidak seimbangan bagi kebanyakan orang. keren ka abas

    BalasHapus
  2. yanto bakul pemtol3 Januari 2026 pukul 11.23

    mantap ka abas emg terkadang kita sering lupa dengan lingkungan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Negeri yang Demam oleh Amarah

  Stres berkepanjangan membuat saya terus bertanya pada diri sendiri, mengapa kepala saya dipenuhi masalah dan ketakutan yang menghantui. Lemas dan letih rasanya menghadapi keadaan ini, apalagi melihat situasi yang genting. Kerusuhan dalam diri tak lagi bisa dibendung, penjara ketakutan telah merampas kebahagiaan saya. Ruang-ruang batin pun berantakan setelah hati dan pikiran saya dijarah oleh rasa takut. Berita televisi dan media sosial dipenuhi kecemasan. Kota terasa semakin tercekam oleh massa yang menyampaikan aspirasi kepada mereka yang duduk nyaman di kursi kekuasaan. Emosi membara, kemarahan muncul karena rakyat diremehkan oleh salah satu wakilnya yang seharusnya mewakili suara banyak orang. Massa aksi selayaknya semut-semut kecil, bergerombol lalu bubar ke segala arah tanpa tahu jalan pulang. Mereka berdiri berjam-jam hanya untuk mendengarkan teriakan sekawannya. Namun, tidak semua yang berkerumun murni menyuarakan aspirasi, ada provokator yang membuat keadaan semakin mence...

THR: Dari Mogok Buruh ke Proposal THR

  Bulan Ramadhan telah berakhir, dan saya merasa cukup senang menyambut hari Lebaran. Hari yang penuh kebersamaan itu akhirnya tiba, dan saya tidak sabar menunggu THR. Namun, saya sadar bahwa saya sudah bukan anak sekolah lagi, sekarang saya adalah seorang mahasiswa. Kata saudara saya, anak kuliah justru memiliki lebih banyak kebutuhan dibandingkan anak kecil atau anak sekolah. Tahun lalu saya masih mendapatkan THR, tetapi tahun ini saya tidak tahu apakah masih akan mendapatkannya. Saya butuh uang untuk membeli PDH Belistra dan himpunan, agar bisa segera melunasinya. Saya melihat para pekerja mendapatkan tunjangan hari raya berupa uang atau sembako, termasuk ayah saya. Tahu tidak kalau THR ini di tahun 1953 dulunya disebut Hadiah Lebaran atau Persekot Hari Raya? Saat itu, pemberian tersebut bersifat sukarela dari majikan sebagai bentuk kepedulian sosial. Pada tahun 1950-an, para buruh hidup dalam kondisi yang memprihatinkan, dengan penghasilan yang bahkan tidak cukup untuk membeli ...

Semua Sudah Diatur, Tidak Perlu Dipikirkan

 Semua Sudah Diatur, Tidak Perlu Dipikirkan   Malam yang sunyi, saya kembali menulis. Kali ini, saya menulis tentang permasalahan kehidupan saya. Masalah hidup saya sama seperti masalah negeri ini. Dari ujung barat sampai timur, negeri ini dipenuhi oleh kicauan mahasiswa yang berteriak menuntut keadilan. Begitu pula saya, yang terus berteriak kepada hati saya sendiri, merasa bersalah atas perbuatan yang telah berlalu.   Iya, memang saya selalu menyesali setiap tindakan yang sudah terjadi. Namun, saya berpikir bahwa Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyesal ketika membuat UU TNI, yang kini membuat gaduh narasi di media sosial. Kerusuhan terjadi di mana-mana karena naskah yang dibuat terburu-buru. Saya tidak tahu apakah naskah itu benar-benar disusun berdasarkan proses demokrasi.   Saya mendukung undang-undang ini karena saya percaya bahwa undang-undang itu tidak akan merugikan rakyat, justru menguntungkan mereka. Namun, saya juga meragukan kemampuan seseor...