Langsung ke konten utama

CCTV Bohongan

 


CCTV Bohongan

RW 18 Perumahan Sawit Raya Semesta mengalami kejadian yang ganjil dan baru pertama kali dirasakan. Sebelumnya belum pernah terjadi kemalingan motor. Salah satu warga yang kehilangan motor bernama Pak Salim. Motor itu baru saja ia beli sebulan lalu dengan cara kredit. Motor Honda keluaran baru yang bahkan belum lama ia nikmati sudah keburu dicuri maling. Padahal Pak Salim membelinya dari uang gajinya selama lima tahun. Ia rela tidak menyisihkan uang bulanan untuk keperluan lain, hanya demi memiliki motor itu.

Padahal perumahan itu banyak CCTV dan poster-poster untuk menakut-nakuti maling. Hal itulah yang terus menjadi pertanyaan di benak Pak Salim. Ia pun berniat melaporkan kejadian ini kepada Pak RW, barangkali bisa membantu melihat siapa yang telah mencuri motornya.

Dengan tergesa-gesa, Pak Salim pergi ke rumah Pak RW. Dengan penuh panik dan menahan air mata, ia mengetuk pintu.
“Assalamualaikum, Pak RW,” katanya.
Namun tidak ada jawaban. Ia mengulanginya beberapa kali sampai merasa capek.

“Apa saya telepon aja?” pikirnya.

Pak Salim lalu menelepon Pak RW dengan ponselnya, tapi tetap tidak ada jawaban. Ia kemudian bertanya kepada Pak Udin yang rumahnya di sebelah.
“Permisi, Pak, lihat Pak RW? Soalnya saya panggil-panggil tidak ada,” tanya Pak Salim.

Pak Udin menyarankan agar ia berteriak karena mungkin Pak RW sedang di dalam kamar.

Pak Salim pun berteriak,
“ASSALAMUALAIKUM, PAK RW!”

Tak lama kemudian Pak RW keluar dengan wajah marah.
“Ada apa nih teriak-teriak? Pelan aja bisa,” katanya.

Pak Salim melirik Pak Udin yang sudah menyarankan cara itu. Pak Udin malah menyengir, memperlihatkan giginya.

“Jadi gini Pak, motor saya hilang jam satu siang. Saya bingung, Pak,” kata Pak Salim.

Pak RW terkejut.
“Kok bisa motornya hilang? Padahal sudah terpampang poster ada CCTV.”

“Mana saya tahu Pak, buktinya motor saya hilang. Terus gimana Pak? Saya bisa lihat CCTV-nya?” jawab Pak Salim.

Pak RW terdiam. Wajahnya panik karena ternyata CCTV itu hanyalah casing semata.
“Maaf Pak, sebenarnya CCTV-nya cuma tiruan buat menakut-nakuti maling aja. Lumayan juga kalau ada orang mau cuci motor di lingkungan ini,” kata Pak RW.

Pak Salim pun berteriak,
“Buat apa saya bayar uang keamanan!”

“Buat yang jaga satpam kompleks,” jawab Pak RW ngawur.

“Terus kenapa tidak ada CCTV yang benar-benar memantau keamanan?” tanya Pak Salim.

“Karena biayanya mahal, Pak. Kita nggak kuat. Ini cara saya mengefisienkan anggaran kas RW. Sebagian besar sudah dikasih ke satpam kompleks,” jawab Pak RW.

Pak Salim semakin kesal. Ia tahu, jika ada poster dan CCTV, seharusnya benar-benar berfungsi, bukan sekadar menakut-nakuti maling. Karena emosi, Pak Salim menghantam kepala Pak RW sampai peci miringnya jatuh. Pak RW tidak terima, adu jotos pun terjadi. Para warga berlarian karena suara keributan itu dan segera melerai keduanya.

Setelah dipisahkan, Pak Salim dan Pak RW mulai berdialog. Pak Salim yang sudah capek menyatakan tindakannya hanyalah pelampiasan emosi. Ia meminta Pak RW sebagai ketua lingkungan bersikap profesional dan menyelesaikan masalah dengan cara baik. Keduanya pun bersalaman.

“Maafkan saya, Pak,” kata Pak Salim.
“Iya nggak apa-apa, besok jangan diulang lagi,” jawab Pak RW, meski hatinya masih menyimpan dendam.

Beberapa waktu kemudian, warga datang ke rumah Pak RW untuk menuntut tanggung jawab atas kehilangan motor Pak Salim. Pak Salim sebelumnya sudah mengirim pesan ke warga, memberi tahu bahwa motor hilang karena kelalaian ketua RW yang memasang CCTV bohongan, sehingga tidak diketahui siapa malingnya.

“Assalamualaikum, Pak RW, keluar sebentar,” kata salah satu warga.

Pak RW keluar dengan kaget.
“He, kenapa banyak banget kumpul ke rumah saya?”

“Tolong Pak, katanya CCTV bisa berfungsi. Dan Bapak sendiri yang janji waktu pemilihan akan memasang CCTV,” kata seorang warga.

Desakan warga terus membuat Pak RW mengaku salah dan berjanji akan bertanggung jawab.

“Terus uang yang tidak jadi beli CCTV ke mana, Pak?” tanya seorang warga.

“Sebenarnya sisanya saya belikan barang-barang yang dibutuhkan RW,” jawab Pak RW.

Warga tidak percaya. Mereka menuduh Pak RW mengkorupsi uang CCTV dan berteriak meminta Pak RW mundur. Di tengah tekanan itu, Pak RW berjanji akan membeli CCTV dengan uang pribadinya dan membantu Pak Salim. Warga pun memberi waktu.

Suatu malam, Pak Salim melihat Pak RW di pos ronda dari kejauhan. Ia tidak mendekat. Dari balik pagar dan redup lampu jalan, Pak Salim melihat Pak RW berbicara dengan beberapa orang asing yang tidak ia kenal. Percakapan singkat itu diakhiri Pak RW menyerahkan sejumlah uang kepada mereka. Gerakannya cepat, seolah tidak ingin dilihat orang lain. Orang-orang itu kemudian pergi meninggalkan pos ronda.

Pak Salim terdiam. Dadanya sesak. Ia memotret kejadian itu dari kejauhan dengan ponselnya. Meski gambarnya tidak terlalu jelas, cukup menunjukkan Pak RW dan penyerahan uang tersebut.

Keesokan harinya, foto itu dikirim Pak Salim ke grup WhatsApp warga. Tidak ada kata panjang, hanya gambar buram. Grup WhatsApp yang biasanya sepi mendadak ramai. Pesan masuk bertubi-tubi, warga saling bertanya dan saling menguatkan kecurigaan.

Sore itu, warga berkumpul di rumah Pak RW. Mereka meminta penjelasan atas foto itu. Pak RW awalnya mengelak, bilang salah paham, tapi warga terus mendesak. Akhirnya Pak RW mengakui bahwa ia memang menyerahkan uang kepada komplotan maling agar lingkungan tetap aman.

“Kami pilih RW buat jaga lingkungan, bukan buat kerja sama sama maling,” kata salah satu warga.
“Keamanan yang dibayar dengan pengkhianatan bukan keamanan,” timpal warga lain.

Pak RW hanya menunduk.
“Saya cuma mau lingkungan ini aman. Saya… saya ingin lingkungan ini aman. Tapi uang kas RW terbatas. Saya pikir memberi mereka sedikit uang agar mereka tidak mencuri sembarangan itu cara terbaik sementara… Tapi saya tahu ini salah,” katanya sangat pelan.

Tanpa musyawarah panjang, warga sepakat mencopot Pak RW dari jabatannya dan meminta ia meninggalkan lingkungan Perumahan Sawit Raya Semesta. Malam itu, Pak RW pergi dengan langkah tertunduk, meninggalkan pos ronda dan kepercayaan warga yang tak bisa diperbaiki lagi.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Negeri yang Demam oleh Amarah

  Stres berkepanjangan membuat saya terus bertanya pada diri sendiri, mengapa kepala saya dipenuhi masalah dan ketakutan yang menghantui. Lemas dan letih rasanya menghadapi keadaan ini, apalagi melihat situasi yang genting. Kerusuhan dalam diri tak lagi bisa dibendung, penjara ketakutan telah merampas kebahagiaan saya. Ruang-ruang batin pun berantakan setelah hati dan pikiran saya dijarah oleh rasa takut. Berita televisi dan media sosial dipenuhi kecemasan. Kota terasa semakin tercekam oleh massa yang menyampaikan aspirasi kepada mereka yang duduk nyaman di kursi kekuasaan. Emosi membara, kemarahan muncul karena rakyat diremehkan oleh salah satu wakilnya yang seharusnya mewakili suara banyak orang. Massa aksi selayaknya semut-semut kecil, bergerombol lalu bubar ke segala arah tanpa tahu jalan pulang. Mereka berdiri berjam-jam hanya untuk mendengarkan teriakan sekawannya. Namun, tidak semua yang berkerumun murni menyuarakan aspirasi, ada provokator yang membuat keadaan semakin mence...

THR: Dari Mogok Buruh ke Proposal THR

  Bulan Ramadhan telah berakhir, dan saya merasa cukup senang menyambut hari Lebaran. Hari yang penuh kebersamaan itu akhirnya tiba, dan saya tidak sabar menunggu THR. Namun, saya sadar bahwa saya sudah bukan anak sekolah lagi, sekarang saya adalah seorang mahasiswa. Kata saudara saya, anak kuliah justru memiliki lebih banyak kebutuhan dibandingkan anak kecil atau anak sekolah. Tahun lalu saya masih mendapatkan THR, tetapi tahun ini saya tidak tahu apakah masih akan mendapatkannya. Saya butuh uang untuk membeli PDH Belistra dan himpunan, agar bisa segera melunasinya. Saya melihat para pekerja mendapatkan tunjangan hari raya berupa uang atau sembako, termasuk ayah saya. Tahu tidak kalau THR ini di tahun 1953 dulunya disebut Hadiah Lebaran atau Persekot Hari Raya? Saat itu, pemberian tersebut bersifat sukarela dari majikan sebagai bentuk kepedulian sosial. Pada tahun 1950-an, para buruh hidup dalam kondisi yang memprihatinkan, dengan penghasilan yang bahkan tidak cukup untuk membeli ...

Semua Sudah Diatur, Tidak Perlu Dipikirkan

 Semua Sudah Diatur, Tidak Perlu Dipikirkan   Malam yang sunyi, saya kembali menulis. Kali ini, saya menulis tentang permasalahan kehidupan saya. Masalah hidup saya sama seperti masalah negeri ini. Dari ujung barat sampai timur, negeri ini dipenuhi oleh kicauan mahasiswa yang berteriak menuntut keadilan. Begitu pula saya, yang terus berteriak kepada hati saya sendiri, merasa bersalah atas perbuatan yang telah berlalu.   Iya, memang saya selalu menyesali setiap tindakan yang sudah terjadi. Namun, saya berpikir bahwa Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyesal ketika membuat UU TNI, yang kini membuat gaduh narasi di media sosial. Kerusuhan terjadi di mana-mana karena naskah yang dibuat terburu-buru. Saya tidak tahu apakah naskah itu benar-benar disusun berdasarkan proses demokrasi.   Saya mendukung undang-undang ini karena saya percaya bahwa undang-undang itu tidak akan merugikan rakyat, justru menguntungkan mereka. Namun, saya juga meragukan kemampuan seseor...