Pagi hari yang buta ini, saya ingin bernostalgia di saat saya mengalami kegagalan perkuliahan di Bandung, di Padjadjaran. Kampus ternama di Indonesia. Saat itu saya mengambil ilmu sejarah dalam SNBP, yang kemudian musna karena kalah oleh perjudian takdir.
Kini bernostalgia dengan Bandung lewat lagu Disarankan di Bandung karya Dongker dan Jason Ranti, yang dirilis pada tahun 2025. Dengan meminjam liriknya, “di Bandung, di Ganesha”, setiap kali mendengar lirik itu badan saya merinding ketika mendengar istilah Ganesha. Ia memang mempunyai sejarah yang panjang dalam Hindu-Buddha. Ganesha digambarkan berkepala gajah yang melambangkan ilmu pengetahuan, memiliki energi yang luar biasa hingga seolah menularkan semangatnya kepada para mahasiswanya.
Hal itu saya pernah rasakan ketika expo kampus di SMA, saat bertemu adik dan kakak kelas saya yang masuk Institut Teknologi Bandung. Mereka memiliki aura yang kuat, dan lagi, anak-anak ITB itu memang mempunyai ambisi yang luar biasa. Bisa dilihat dari bagaimana penampilan mereka, bagaimana mereka berpikir, bahkan bagaimana mereka berhitung, yang membuat saya sendiri kewalahan.
Dalam sejarah pun, kampus itu banyak sekali melahirkan tokoh besar. Salah satunya adalah Soekarno, yang menempuh pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng, cikal bakal ITB. Bandung menjadi ruang tempat ia menyerap ilmu dan membentuk pikirannya, sebelum kelak menjadi pemimpin besar bangsa ini.
Nama lain yang selalu terlintas ketika berbicara tentang dunia teknik adalah B. J. Habibie. Ia memang bukan tokoh yang lahir sepenuhnya dari ITB, namun sejarah mencatat bahwa Habibie pernah singgah dan berkuliah di ITB selama kurang lebih enam bulan, sebelum akhirnya melanjutkan studinya ke Jerman. Dari sanalah ia menempuh jalur dirgantara yang kelak mengantarkannya menjadi tokoh besar bangsa, sekaligus menjadi bayangan mimpi tertinggi bagi banyak anak-anak teknik.
Sayangnya saya tidak bisa menginjakkan kaki sebagai mahasiswa di kampus itu, karena saya sendiri tidak pandai matematika dan fisika, serta gagal waktu itu membenahi jam beker yang justru tidak bisa menyala ketika saya mencoba membedah mesinnya. Hal itu membuat saya memilih jalan yang lain, jalan yang menurut saya lebih mudah saya lalui. Namun pilihan itu juga membuat saya menyesal tidak serius belajar matematika di saat di bangku SMP dan SMA, padahal jika saya bisa menguasai dan memahami matematika, bahkan jika saya masuk jurusan ilmu pengetahuan alam di SMA dibanding jurusan ilmu pengetahuan sosial, niscaya saya bisa mendapatkan kesempatan tiket untuk masuk ITB.
Kalau tidak dapat pun, setidaknya UNPAD bisa menerima dengan jurusan soshum-nya di Fakultas Ilmu Budaya atau FEB. Ilmu Sejarah UNPAD sudah saya incar semenjak kelas 10 SMA. Kenyataan berjalan sama seperti lirik Disarankan di Bandung, “mimpi tak pernah berjalan lancar”. Semua rencana dan niatan saya tidak semulus yang saya pikirkan waktu itu.
Mungkin benar potongan lirik lain, “untungnya ku bertemu denganmu”. Dalam kondisi muak besar pada saat itu, saya justru ditemukan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten. Saya diterima di Pendidikan Sejarah lewat SNBT.
Lagu Disarankan di Bandung seakan-akan berubah menjadi Disarankan di Serang. Tata kotanya seratus persen berbeda walau sama-sama ibu kota provinsi. Gedung-gedungnya tidak seramai Kota Bandung, tetapi Kota Serang adalah tempat pertama orang Belanda datang, melalui Pelabuhan Karangantu pada awal abad ke-18. Itulah yang membuat saya bangga.
Apalagi nama kampus saya Sultan Ageng Tirtayasa, seorang sultan yang membangun irigasi dan bijaksana dalam memimpin rakyatnya, walau tidak bisa mengendalikan gerak-gerak anaknya yang justru merusak kesultanan itu.
Lirik yang membuat saya merinding itu saya ubah menjadi “di Serang, di Tirtayasa”, yang kelak akan membuat orang merinding di saat mendengarkan isu UKT yang ramai dibicarakan di kalangan mahasiswanya. Lirik yang saya ubah ini nantinya akan memunculkan tokoh-tokoh besar dan kisah-kisah romantis di Serang ini, penuh dengan lampu-lampu di Kawasan Royal Baroe yang katanya mirip dengan kawasan Braga yang di Bandung.
Namun pada akhirnya saya bertanya pada diri saya sendiri, jika benar lagu itu menyarankan Bandung, lalu bagaimana dengan kota yang tidak pernah disarankan oleh siapa pun? Seperti Kota Serang, di mana kota itu tidak hadir dalam lirik, tetapi justru menjadi tempat orang-orang bertahan dan belajar menerima nasibnya. Apakah kota seperti itu memang tidak layak disarankan, atau justru di sanalah kita akhirnya benar-benar hidup?
*Rafif Abbas Pradana mahasiswa pendidikan sejarah FKIP universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Anggota UKM Belistra.

Komentar
Posting Komentar