Yang
Dianggap Tidak Sah
Rafif
Abbas Pradana
Kalau hidupmu berantakan
Harap dirapikan dulu
Sebelum diajukan
Begitulah kutipan puisi karya Nisa Nf berjudul “Kenapa Kampusku Begini” yang dibacakan di saat demo 03 Februari 2026. Kutipan itu menggambarkan kehidupan mahasiswa yang terus bersuara soal hak-hak mahasiswa yang diganggu oleh pihak rektorat, namun mahasiswa sendiri belum membenahi dirinya sendiri. Jika hal terkecil saja belum selesai, pantaskah ia bersuara pembenaran? Dalam hal ini, cukup memilukan gambaran yang disampaikan kutipan tersebut. Aku lirik seolah menyuruh kita merapikan lebih dahulu kamar-kamar kita yang berantakan. Buku-buku tidak berjejer. Uang-uang ke mana-mana. Ada pula barang yang hilang karena terselip barang lainnya. Jika kamar saja belum beres, bagaimana mau membuat sesuatu yang lebih besar. Namun tunggu, apakah harus menunggu rapi dulu baru boleh mengatakan pembenaran, contohnya soal kebijakan UKT itu? Saya berpikir, untuk mengajukan gugatan tidak ada syarat administrasi. Hanya saja, itulah yang dikatakan aku lirik.
Penggalan puisi itu dibaca oleh Niam, seorang mahasiswi yang baru debut membacakan puisi di tengah amukan dan rasa kekecewaan terhadap kebijakan UKT. Suaranya lantang dengan menggunakan toa— pengeras suara. Saya menduga jika kamarnya sudah rapi, karena Niam berani bersuara tentang kebenaran yang terus hidup di tengah mahasiswa yang mencari kepastian. Buku-bukunya berjejer rapi sehabis dibaca lalu dibereskan, dibuktikan saat Niam membaca penggalan selanjutnya: “sebab di sini / yang tidak tersusun dianggap tidak sah.” Ini seolah menegaskan bahwa kerapian dalam diri Niam menjadi nomor satu.
Selanjutnya, Niam melanjutkan dengan “yang tidak terdokumentasi dianggap tidak terjadi”, kalimat yang membawa ingatan pada peristiwa 1998, ketika banyak korban tak pernah tercatat dan karena itu tak pernah dianggap, sebagaimana tercermin dalam Laporan Akhir Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa 13–15 Mei 1998. Kalimat aku lirik itu juga bisa dimaknai sebagai gambaran bagaimana pihak kampus tidak mendokumentasikan seluruh realitas yang ada. Mahasiswa hanya dilihat dalam bentuk data di SIAKANG, bukan sebagai subjek, bukan sebagai makhluk hidup. Data di sini menjadi sesuatu yang sulit dibuktikan, sebagaimana aku lirik menyatakan selanjutnya: “kesulitan kami harus bisa dibuktikan”, yang seolah sama mustahilnya dengan membuktikan pemimpin Nazi mati di Garut atau Napoleon masuk Islam.
Mereka, Nisa Nf dan Niam, tampil kuat secara suara dan intonasi. Terutama puisi Nisa Nf yang menjelaskan secara detail keresahan mahasiswa. Namun ada satu kejadian yang sulit saya lupakan. Ketika Nisa Nf memasuki bagian pembacaan puisinya, suara azan datang dengan kerasnya. Mungkin Tuhan sedang menyuruh mereka yang berdemo untuk kembali mengingat Penciptanya. Nisa Nf yang sudah terlanjur membaca, dan belum selesai, tetap melanjutkan dengan keyakinan. Maka terjadilah suara yang samar-samar.
Saya yang berada di belakang masih mendengarkan apa yang dibacakan Nisa Nf, meski samar. Samar-samar seperti kondisi mahasiswa tingkat akhir yang cuti namun tetap harus membayar; jika tidak, tidak ada penangguhan, malah waktu semakin dimajukan. Begitulah kondisi suara Nisa Nf—tetap lantang walau azan berkumandang. Bagian itu memang hanya sebentar, namun justru bagian akhir puisinya menjadi paling ampuh: “saat ini, yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar UKT, bukan sekadar tuntutan agitasi / lebih dari itu, kita sedang mengukur seberapa jauh mereka akan terus tuli terhadap suara mahasiswanya.”
Saya benar-benar merinding meski tidak mendengarnya secara utuh. Saya hanya menangkap potongan kalimat “terhadap suara mahasiswanya.” Potongan itu membawa ingatan saya pada 1998, saat mahasiswa diculik, namun suaranya terus menggema—selayaknya azan yang mengajak manusia untuk pulang kepada Yang Maha Pencipta. Semoga suara Niam dan Nisa Nf mampu menyadarkan para pemangku kebijakan, dan semoga suara azan melunturkan segala yang ada di hati dan benak yang telah penuh oleh bising suara mahasiswa yang berdemo.
Dan mungkin di situlah suara yang paling dalam dari semua ini: bukan soal kamar yang rapi atau berantakan, bukan pula tentang data, dokumen, atau angka-angka UKT. Melainkan tentang keberanian Niam dan Nisa Nf untuk tetap bersuara, meski di akhir puisinya suara itu tidak selalu terdengar jelas. Seperti azan yang beradu dengan toa, seperti puisi yang dibaca di tengah kegaduhan, atau mahasiswa yang tetap berdiri walau dianggap tidak sah di SIAKANG.
Jika memang
kerapian dijadikan syarat kebenaran, maka sejarah telah lama membuktikan betapa
banyak suara yang gugur sebelum sempat dirapikan. Namun suara tetaplah suara.
Ia selalu hidup dan bergerak mencari jalannya sendiri. Sebab kemanusiaan tidak
pernah menunggu rapi untuk diperjuangkan.

Komentar
Posting Komentar