Langsung ke konten utama

Setengah Jadi

Sore hari menjelang pembuka puasa. Di Tugu Bacang, 26 Februari 2026. Unit Kegiatan Mahasiswa Bengkel Menulis dan Sastra atau UKM Belistra mengadakan kegiatan diskusi koran untuk pertama dalam kepengurusan 2026. Walau sudah setahun saya mengurus, saya melihat diskusi koran tidak berubah dari metodenya, sampai korannya masih setia dengan Banten Pos. Yang selalu menemani diskusi koran. Terlebih pemantik Yani yang menguliti setiap informasi yang dibaca oleh peserta. Pembahasan dimulai dengan resah. Saya pun tahu semua peserta resah menahan lapar malah disuruh mikir, untungnya tidak kecelakaan karena jalan pikir yang mulai rusak akibat goyangan perut yang terus berguncang-guncang, sama halnya jalan di Pandeglang.

Jalan Pandeglang seringkali diumpat oleh warga Banten sendiri sebagai jalan yang jelek, berlubang, rusak. Sampai-sampai digugat oleh warganya sendiri yang berjumlah 100 miliar. Luar biasa itu jumlahnya jika disalurkan ke Belistra. Belistra bisa membuat sayembara menulis menurut-nurut seabad mungkin. Warga merasa dirugikan karena mengalami kecelakaan jatuh akibat jalan berlubang itu. Ada juga peserta diskusi mengatakan ojol mengalami kecelakaan dan dipenjara karena jalan itu. Bikin masalah juga. Lebih parah lagi peserta diskusi koran menceritakan bahwa dirinya kecelakaan di jalan berlubang itu walau bukan di ruas jalan Serang-Pandeglang, namun tetap di Banten tempatnya. Dia kecelakaan sampai pelek atau gading-gading roda motornya rusak bahkan penyok.

Saya menduga bahwa yang mengakibatkan jalan rusak itu karena praktik bagi kue. Jadi setiap proyek yang ada dibagi-bagi sesuai kepentingannya, jadi kualitas jalan dikurangi setiap uang dapat proyek itu. Mungkin dugaan saya salah karena memang mobil besar-besar melintasi jalan yang membuat jalan itu rusak akhirnya karena terkena tekanan. Entah siapa yang membuat jalan itu rusak, yang pasti peserta mengalami kerusakan jalan pikirnya karena lapar. Walau rusak peserta tetap semangat untuk mengikuti diskusi ini. Kita seringkali menyalahkan jalan berlubang, akan tetapi jarang banget memeriksa siapa yang membangunnya. Jalan dari hasil bagi proyek dengan pembuatan tergesa, kualitasnya dikurangin, kemudian dibiarkan orang jatuh satu per satu.

Saya merasakan tak jauh berbeda dengan investasi bodong yang menyasar mahasiswa lama ataupun baru. Investasi yang ditawarkan begitu menjanjikan dalam keuntungannya yang cepat, seolah jalannya mulus tanpa lubang, tanpa rusak, padahal di bawahnya kosong. Yang jatuh bukan motor lagi melainkan tabungan orang tua, tanah, pacar, uang saku, rumah bahkan perkebunan sawit mungkin. Memang jalan rusak itu melukai tubuh, sebuah skema Ponzi melukai kepercayaan. Kepercayaan yang salah membuat peserta diskusi hampir menjadi korban. Kirain saya cerita belaka saja, melainkan ada di tengah diskusi.

Dia bercerita sewaktu mahasiswa baru yang dibujuk, kata dia dinego-nego sampai dia masuk ke lombanya, lalu terjatuh dalam tipu dayanya. Dia bertemu dengan pihak penipu itu yang kasih materi presentasi walau saya duga ppt-nya jelek, namun seolah-olah meyakinkan. Kayak orang benar saja. Namun tidak jadi jatuh untungnya karena diingatkan teman. Dipikir-pikir banyak sekali fenomena seperti itu di Indonesia. Mungkin butuh uang cepat, butuh biaya karena kebutuhan, karena perekonomian Indonesia ini melemah banget walau katanya ada 19 sawit yang dijanjikan oleh wakil presiden. Saya bersyukur teman saya tidak terkena dan memang perlu ada yang mengawasi mahasiswa baru ini karena masih lucu-lucunya atau masih imut serta polos.

Jika membicarakan soal polos itu menggambarkan tahap hidup remaja. Namun malang remaja di Maluku yang terkena helm polisi sampai terbunuh oleh aparat. Sungguh tragis dan paradoks karena dibunuh oleh aparat keamanan yang seharusnya menjaga, bukan membunuh. Tidak hanya itu, polisi juga seringkali melakukan hal serupa sampai-sampai saya tidak bisa jelaskan. Orang sering bercanda bahwa polisi baik itu polisi tidur dan patung polisi. Saya pikir-pikir lagi polisi ini lembaga yang sudah sekian kali direformasi. Walau sudah dilakukan pemerintah, namun terasa seperti seremonial semata dan tidak sampai ke akar-akarnya. Walau begitu saya sepakat memang ada polisi baik, polisi yang harmonis menyapa warga yang melintas dan menyapa saya ketika saya di alun-alun Serang, mereka tidak menilang, karena ketika menilang seringkali ada istilah uang damai, tidak mau dikirim transfer, maunya uang cash saja seperti yang dikatakan salah satu peserta diskusi.

Saya jadi kepikiran soal guru. Jika jalan rusak melukai tubuh dan skema Ponzi melukai kepercayaan, maka sistem pendidikan yang setengah-setengah melukai masa depan. Guru selalu diminta mencerdaskan, akan tetapi nasibnya dibermainkan oleh janji-janji. Contohnya ketika guru PPPK di Kota Serang belum mendapat haknya. Gaji masih 300 ribu yang seharusnya sejuta. Kabar ini diberitakan di topik utama koran Banten Pos yang sejak tadi kami bedah di diskusi. Masalah ini serius dibahas, tapi para peserta malah tambah lemas. Entah karena lapar atau karena sebagian dari kami adalah calon guru yang tiba-tiba melihat bayangan masa depan sendiri. Hari semakin sore, suara kajian di sebelah semakin kencang, bercampur dengan berita yang rasanya seperti pencemaran harapan.

Saya tiba-tiba mengeluh dalam hati, kalau jadi guru seperti ini mungkin lebih baik saya menjadi Sopir SPPG pada Program MBG. Lebih jelas hitungannya dibanding menjadi guru yang harus menyiapkan modul, bahan ajar, metode, materi, mental, belum lagi interaksi murid yang tidak semuanya bisa diatur. Bagaimana mental saya nantinya kalau seperti ini, apalagi gaji juga seperti bercanda. Kita sering diminta ikhlas, tapi keikhlasan yang terus diuji lama-lama terasa seperti dimanfaatkan oleh pemerintah itu sendiri. Kalau jalan rusak dibiarkan berlubang dan investasi bodong dibiarkan memakan korban, jangan-jangan pendidikan juga sedang dibiarkan setengah jadi, cukup untuk berjalan tapi tidak cukup untuk sampai.

Sore hari menjelang pembuka puasa. Di Tugu Bacang. Diskusi koran yang awalnya hanya membedah berita malah seperti membedah nasib sendiri. Jalan rusak, investasi bodong, aparat, sampai guru yang gajinya seperti bercanda, semuanya seperti potongan berita yang berdiri sendiri, padahal akarnya mungkin sama, soal sistem yang setengah jadi dan janji yang sering lebih kencang dari realisasi. Kami duduk dengan perut kosong, tapi kepala dipaksa penuh. Jalan bisa berlubang karena proyeknya dibagi-bagi, mahasiswa bisa hampir tertipu karena iming-iming cepat kaya, guru bisa lemas sebelum mengajar karena haknya belum dibayar. Entah ini hanya kebetulan tema koran hari itu atau memang beginilah wajah keadaan yang terus berulang. Sementara azan belum juga terdengar, saya sadar mungkin yang benar-benar perlu diperbaiki bukan hanya jalan di Pandeglang, bukan hanya mahasiswa baru yang polos, bukan hanya nasib guru PPPK di Kota Serang, tapi cara kita membangun sesuatu setengah hati lalu berharap hasilnya utuh. Dan kami tetap berdiskusi, lapar, tertawa kecil, seolah-olah dengan membicarakannya kami sedang menambal sedikit demi sedikit lubang yang terlalu sering dibiarkan menganga.
___________________________________________________

Rafif Abbas pradana, Tugu bacang, 27 Februari 2026...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Negeri yang Demam oleh Amarah

  Stres berkepanjangan membuat saya terus bertanya pada diri sendiri, mengapa kepala saya dipenuhi masalah dan ketakutan yang menghantui. Lemas dan letih rasanya menghadapi keadaan ini, apalagi melihat situasi yang genting. Kerusuhan dalam diri tak lagi bisa dibendung, penjara ketakutan telah merampas kebahagiaan saya. Ruang-ruang batin pun berantakan setelah hati dan pikiran saya dijarah oleh rasa takut. Berita televisi dan media sosial dipenuhi kecemasan. Kota terasa semakin tercekam oleh massa yang menyampaikan aspirasi kepada mereka yang duduk nyaman di kursi kekuasaan. Emosi membara, kemarahan muncul karena rakyat diremehkan oleh salah satu wakilnya yang seharusnya mewakili suara banyak orang. Massa aksi selayaknya semut-semut kecil, bergerombol lalu bubar ke segala arah tanpa tahu jalan pulang. Mereka berdiri berjam-jam hanya untuk mendengarkan teriakan sekawannya. Namun, tidak semua yang berkerumun murni menyuarakan aspirasi, ada provokator yang membuat keadaan semakin mence...

THR: Dari Mogok Buruh ke Proposal THR

  Bulan Ramadhan telah berakhir, dan saya merasa cukup senang menyambut hari Lebaran. Hari yang penuh kebersamaan itu akhirnya tiba, dan saya tidak sabar menunggu THR. Namun, saya sadar bahwa saya sudah bukan anak sekolah lagi, sekarang saya adalah seorang mahasiswa. Kata saudara saya, anak kuliah justru memiliki lebih banyak kebutuhan dibandingkan anak kecil atau anak sekolah. Tahun lalu saya masih mendapatkan THR, tetapi tahun ini saya tidak tahu apakah masih akan mendapatkannya. Saya butuh uang untuk membeli PDH Belistra dan himpunan, agar bisa segera melunasinya. Saya melihat para pekerja mendapatkan tunjangan hari raya berupa uang atau sembako, termasuk ayah saya. Tahu tidak kalau THR ini di tahun 1953 dulunya disebut Hadiah Lebaran atau Persekot Hari Raya? Saat itu, pemberian tersebut bersifat sukarela dari majikan sebagai bentuk kepedulian sosial. Pada tahun 1950-an, para buruh hidup dalam kondisi yang memprihatinkan, dengan penghasilan yang bahkan tidak cukup untuk membeli ...

Semua Sudah Diatur, Tidak Perlu Dipikirkan

 Semua Sudah Diatur, Tidak Perlu Dipikirkan   Malam yang sunyi, saya kembali menulis. Kali ini, saya menulis tentang permasalahan kehidupan saya. Masalah hidup saya sama seperti masalah negeri ini. Dari ujung barat sampai timur, negeri ini dipenuhi oleh kicauan mahasiswa yang berteriak menuntut keadilan. Begitu pula saya, yang terus berteriak kepada hati saya sendiri, merasa bersalah atas perbuatan yang telah berlalu.   Iya, memang saya selalu menyesali setiap tindakan yang sudah terjadi. Namun, saya berpikir bahwa Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyesal ketika membuat UU TNI, yang kini membuat gaduh narasi di media sosial. Kerusuhan terjadi di mana-mana karena naskah yang dibuat terburu-buru. Saya tidak tahu apakah naskah itu benar-benar disusun berdasarkan proses demokrasi.   Saya mendukung undang-undang ini karena saya percaya bahwa undang-undang itu tidak akan merugikan rakyat, justru menguntungkan mereka. Namun, saya juga meragukan kemampuan seseor...