Langsung ke konten utama

Geh, Ge, dan Jeh?

 

Saya ketika pertama kali ke Serang di tahun 2024. Ketemu temen-temen yang sebagian dari kota Serang. Saya mendengar kata-kata yang tidak asing oleh saya yakni “geh” yang mereka ucapkan ketika berbicara, waktu itu lagi di sela-sela kuliah. Saya heran, kok sama dengan yang pernah saya dengar? Saya sendiri di Bekasi sudah terbiasa dengan kata itu. Walau kata yang saya pahami tidak pakai huruf “h” di belakangnya, hanya “ge” dalam bahasa Bekasi yang saya pahami. Hal itu sontak membuat saya bertanya-tanya dari mana bahasa itu muncul. Kok bisa sama seperti itu?

Dalam pencarian di internet, ternyata kata "geh" dan "ge" ini mempunyai fungsi yang sama dalam percakapan sehari-hari. Coba saya bedah, kata "geh" yang saya dengar di Serang itu merupakan partikel penegas dalam dialek setempat dan biasanya dipakai di akhir kalimat untuk memperkuat apa yang dimaksud pembicara, baik itu ajakan, penekanan serta permintaan, mirip seperti kata "dong" dalam bahasa Indonesia. Sementara kata "ge" yang saya kenal di Bekasi juga merupakan penegas akan tetapi dengan nuansa yang jauh lebih santai, kurang lebih setara dalam artinya dengan kata "aja" atau "saja" dalam bahasa Indonesia dan pada umumnya muncul ketika percakapan, saat saya sedang nongkrong atau main.

 Jadi saya penasaran, bahasa ini muncul dengan kemiripan yang sama antara "geh" dan "ge".Awalnya saya tidak menduga karena kata “geh” ini dari bahasa Jawa Serang. Waktu itu saya sempat mengira ada hubungannya dengan peristiwa penyerangan Banten ke Batavia 1656–1659, yang kemudian membuat pasukan menyebar ke wilayah sekitar sampai ke Bekasi, dan ikut membawa bahasa Jawa Serang. Tapi setelah saya pikir lagi, kemungkinan ini agak lemah, karena penyebaran bahasa biasanya tidak sesederhana perpindahan pasukan saja.

Hal itu juga sempat dibantah oleh anggota senior di komunitas Historical Bekasi pada saat bukber. Dia bilang, “ge” bisa saja berasal dari pengaruh Cirebon, karena pada masa lalu wilayah Bekasi pernah menjadi tempat pembuangan orang-orang dari berbagai daerah, termasuk dari wilayah kekuasaan Kesultanan Cirebon. Wilayah seperti Babelan, Tambun, atau Gabus jadi titik percampuran itu. Jadi bahasa dari Cirebon bisa saja ikut terbawa dan membentuk kebiasaan tutur di Bekasi.

Tapi setelah saya dalami lagi, ternyata ada kemungkinan lain yang lebih kuat. Kata “ge” di Bekasi sangat dekat dengan kata “oge” dalam bahasa Sunda yang berarti “juga”. Dalam praktik sehari-hari, “oge” ini sering disingkat jadi “ge”. Jadi bukan tidak mungkin “ge” di Bekasi itu hasil penyederhanaan bunyi dari “oge”, bukan langsung dari Cirebon. Ini masuk akal karena Bekasi juga berada di wilayah perbatasan budaya Sunda dan Betawi.

Beda halnya dengan “geh” di Serang. Setelah saya coba tarik lebih dalam lagi, kayaknya partikel ini nggak bisa lepas dari sejarah Banten sendiri. Penyebaran unsur bahasa ini kemungkinan berkaitan dengan hubungan antara Banten dan Cirebon pada masa lalu, terutama melalui tokoh seperti Sultan Hasanuddin yang punya keterkaitan dengan Kesultanan Cirebon. Dari situ, pengaruh bahasa Jawa Cirebon bisa saja ikut terbawa ke wilayah Banten, termasuk Serang, lalu berkembang jadi dialek lokal yang sekarang dikenal sebagai Jawa Serang. Nah, dari situ muncul dugaan saya, partikel “geh” di Serang punya kemiripan fungsi dengan “jeh” di Cirebon, yang juga dipakai buat negasin sesuatu di akhir kalimat. Cuma, perubahan dari “jeh” ke “geh” ini kemungkinan bukan perubahan langsung, tapi lebih ke penyesuaian bunyi dan kebiasaan ngomong masyarakat setempat seiring waktu.

Jadi ketiganya memang punya kemiripan. Sama-sama muncul di belakang kata, dan sama-sama jadi penegas suatu hal. Dugaan saya, ini nggak lepas dari pengaruh sejarah dan pertemuan budaya di jalur Pantura, dari Cirebon, Bekasi, sampai Serang bahkan Cilegon. Bahasa itu lentur banget, dia bisa berubah karena difusi budaya lewat interaksi sosial masyarakat. Tapi yang masih menarik buat saya, justru “ge” di Bekasi ini. Karena kalau dilihat lagi, dia punya kemungkinan kuat berasal dari “oge” dalam bahasa Sunda yang artinya “saja”, bukan murni dari Cirebon. Jadi bisa jadi, yang saya kira sama itu sebenarnya datang dari jalur yang berbeda, tapi ketemu di fungsi yang mirip dalam percakapan sehari-hari.

Jujur saya tersenyum geli aja ketika mendengar “geh” yang dilontarkan orang Serang. Karena kenyal banget huruf “h”-nya. Ada yang beda aja menurut saya dibanding “ge” yang dilontarkan orang Bekasi. Kalau orang Bekasi tuh kayak “bagen GE gw mah”, ringkas, spontan, ngalir aja. Sementara “geh” ada irama yang dimainkan. Kayak “mengapa geh”, ada tekanan di huruf “h”-nya, yang bikin otak saya rada tertawa. Ada rasa yang dimainkan di situ.

Kalau saya perhatikan kembali, ternyata dalam kajian sosiolinguistik, fenomena seperti ini memang sering terjadi di daerah yang jadi titik pertemuan budaya. Bekasi, Cirebon, dan Serang itu berada di jalur yang sama, jalur Pantura, yang sejak dulu jadi ruang mobilitas orang, baik pedagang, pekerja, maupun penyebar agama. Jadi wajar kalau unsur bahasa saling bersinggungan.

Menariknya, partikel seperti “geh” dan “ge” ini termasuk sebagai “discourse marker”, yaitu kata kecil yang nggak mengubah arti utama kalimat, tapi ngasih warna ekspresi ke dalamnya. Bahkan dalam bahasa Indonesia sendiri kita punya “dong”, “lah”, atau “kan” yang fungsinya mirip. Jadi yang saya alami ini sebenarnya bukan hal yang unik secara linguistik, tapi justru jadi bukti kalau bahasa sehari-hari kita itu hidup dan terus berkembang mengikuti interaksi sosial masyarakat.

Dari situ saya jadi sadar, ternyata perbedaan kecil dalam bunyi bisa membawa nuansa yang beda juga dalam cara orang berkomunikasi Dan mungkin aja letak menariknya. Dari “geh”, “ge”, dan “jeh”, kita bisa melihat bahwa bahasa itu bukan yang diam atau kaku. Ia bergerak, berubah, lentur dan ikut hidup bersama penggunanya. Kata-kata kecil yang sering kita anggap sepele itu ternyata menyimpan perjalanan panjang, dari Cirebon, Serang, sampai Bekasi, yang hari ini masih terus kita lanjutkan tanpa sadar.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Negeri yang Demam oleh Amarah

  Stres berkepanjangan membuat saya terus bertanya pada diri sendiri, mengapa kepala saya dipenuhi masalah dan ketakutan yang menghantui. Lemas dan letih rasanya menghadapi keadaan ini, apalagi melihat situasi yang genting. Kerusuhan dalam diri tak lagi bisa dibendung, penjara ketakutan telah merampas kebahagiaan saya. Ruang-ruang batin pun berantakan setelah hati dan pikiran saya dijarah oleh rasa takut. Berita televisi dan media sosial dipenuhi kecemasan. Kota terasa semakin tercekam oleh massa yang menyampaikan aspirasi kepada mereka yang duduk nyaman di kursi kekuasaan. Emosi membara, kemarahan muncul karena rakyat diremehkan oleh salah satu wakilnya yang seharusnya mewakili suara banyak orang. Massa aksi selayaknya semut-semut kecil, bergerombol lalu bubar ke segala arah tanpa tahu jalan pulang. Mereka berdiri berjam-jam hanya untuk mendengarkan teriakan sekawannya. Namun, tidak semua yang berkerumun murni menyuarakan aspirasi, ada provokator yang membuat keadaan semakin mence...

Belistra Sebuah Pelabuhan

 B Belistra Sebuah Pelabuhan By Rafif Abbas Pradana      Musyawarah Belistra 2025 telah dilaksanakan pada hari Minggu, 07 Desember 2025 dengan suasana penuh canda tawa sepanjang persidangan. Mustra adalah Musyawarah Belistra yang menjadi forum tertinggi tempat seluruh anggota berkumpul untuk mengevaluasi perjalanan satu tahun ke belakang, menyampaikan laporan pertanggungjawaban, serta menentukan arah organisasi. Dalam forum inilah dinamika organisasi memuncak dan keputusan-keputusan penting ditetapkan.      Dari sekian kesibukan yang terjadi di dalamnya, ada kebanggaan yang tumbuh perlahan dalam diri saya. Saya merasa cukup berani melaju ke depan sebagai calon ketua Belistra. Namun peserta sidang memilih sosok yang lebih pantas pada saat itu. Ketika keputusan dibacakan, nama saya tidak muncul. Yang terpilih adalah Nisa Nurfadila yang akrab kami panggil Nca. Momen tersebut sempat mematahkan harapan saya untuk menjadi pemimpin, tetapi saya tetap merasa i...

Setengah Jadi

Sore hari menjelang pembuka puasa. Di Tugu Bacang, 26 Februari 2026. Unit Kegiatan Mahasiswa Bengkel Menulis dan Sastra atau UKM Belistra mengadakan kegiatan diskusi koran untuk pertama dalam kepengurusan 2026. Walau sudah setahun saya mengurus, saya melihat diskusi koran tidak berubah dari metodenya, sampai korannya masih setia dengan Banten Pos. Yang selalu menemani diskusi koran. Terlebih pemantik Yani yang menguliti setiap informasi yang dibaca oleh peserta. Pembahasan dimulai dengan resah. Saya pun tahu semua peserta resah menahan lapar malah disuruh mikir, untungnya tidak kecelakaan karena jalan pikir yang mulai rusak akibat goyangan perut yang terus berguncang-guncang, sama halnya jalan di Pandeglang. Jalan Pandeglang seringkali diumpat oleh warga Banten sendiri sebagai jalan yang jelek, berlubang, rusak. Sampai-sampai digugat oleh warganya sendiri yang berjumlah 100 miliar. Luar biasa itu jumlahnya jika disalurkan ke Belistra. Belistra bisa membuat sayembara menulis menurut-nu...