Langsung ke konten utama

Seharusnya Overrekening, Bukan Overthinking

 



Overthinking sudah menjadi kawan saya dalam kehidupan saya. Banyak kenangan menemani saya menjadi manusia yang sering kali berpesta meriah di dalam benak saya. Pesta ini sering kali para pesertanya meminum alkohol sambil mendengarkan musik rock dengan gerakan rusuh. Pada akhirnya pesta itu tidak terkendali, malah diri saya yang semakin cemas saking banyaknya yang mabuk, para sel-sel di dalam kepala saya.

Jadi ketika mabuk sel-sel itu, saya jadi tidak bisa memikirkan kejernihan dalam berpikir. Saya malah berhalusinasi seakan-akan semua akan hancur, semua yang saya lakukan itu sia-sia. Begitulah mengapa saya sayang dengan overthinking, karena saya tidak mau dia mengadakan pesta itu dengan sembarang. Butuh perhatian penuh agar tidak terjadi titik jenuh dalam diri overthinking.

Lelah juga saya menggambarkan overthinking ini. Mulai dari majas personifikasi seolah-olah mabuk yang tidak bisa dikendalikan, entah dia minum bir atau anggur merah yang sering kali diminum mahasiswa saat stres tugas kuliah. Saya sendiri hanya melihat fenomena itu lewat berita-berita saja.

Begitulah alkohol membuat dunia ini benar-benar penuh imajinasi dan halusinasi. Biasanya alkohol ada di pesta-pesta di dunia Barat dan di Indonesia ada pula. Makanya saya membuat seolah-olah otak saya dipenuhi dengan suara DJ, sound yang keras dengan musik rock. Tidak lupa teriak-teriak orang-orang yang sedang mabuk itu.

Namun saya berpikir lagi, otak sekecil itu apakah bisa sel-sel itu membuat seperti itu? Apakah sel-sel dalam otak saya, mungkin nyawa saya, bisa bekerja sama untuk membuat pesta itu? Sialnya saya tidak bisa menjawab pertanyaan yang saya buat itu. Mungkin mereka sudah lelah dengan keadaan yang selalu menyakiti mereka. Peristiwa yang besar dan menyakitkan. Suara teriakan-teriakan yang membuat saya takut dengan bobot teriakan itu membuat muatan tekanan saya sendiri hanya bisa teredam.

Kepala Penuh, Saldo Kosong

Sampai-sampai dalam diri saya yang diam ini, saya bertanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, “Tuhan, kenapa yang penuh itu kepala, bukan saldo?” Walau tidak dijawab secara langsung, saya menunggu tanda-tanda alam agar pertanyaan saya bisa dijawab. Pertanyaan ini penuh dengan keyakinan karena sudah lelah dengan pesta itu.

Kepala saya yang kecil ini berkelahi dengan pesta yang berakhir ketika saya tidur. Pertanyaan saya mungkin tidak sopan karena langsung seperti itu, tidak ada sopan santunnya. Namun bagaimana jika saya terlalu pusing dengan itu? Bukankah saldo penuh itu akan membuat hidup saya jauh lebih bahagia?

Semua urusan yang menimpa saya bisa diselesaikan dengan uang. Jadi selama ini saya hidup kekurangan uang, makanya kepala saya selalu penuh. Kepenuhan saldo tentunya pikiran saya serasa tenang, mau makan apa bisa, mau ke mana saja tinggal kaki berjalan saja.

Hal ini menjadi sebuah permasalahan dalam generasi saya, yakni Generasi Z. Generasi Z bukan kebanyakan uang, tapi kebanyakan pikirannya. Saking kebanyakan pikirannya, isi status Instagram maupun WhatsApp penuh dengan kata-kata bijak entah dari mana asalnya, yang penting punya kesan positif baginya.

Karena Generasi Z ini butuh banyak motivasi-motivasi, bahkan sampai motivasi cepat kaya. Hal itu sudah lumrah terjadi. Dari dunia kripto atau biasa anak sekarang sebut Bitcoin, banyak sekali sebaran konten-konten motivasi seperti itu. Ingin cepat-cepat menjadi orang kaya, karena sudah lelah seperti yang saya katakan tadi.

Antara Gaya, Judi, dan Harapan

Kelelahan ini membuat orang sudah lelah dengan posisinya yang pura-pura kaya, tampil penuh dengan gaya anak kaya terkini. Atau biasanya disebut skena. Apalagi melihat kafe-kafe sekarang penuh dengan gaya-gaya kemewahan yang menjadi daya magnet generasi sekarang untuk berlomba-lomba siapa yang paling estetik.

Agar bisa dilihat menjadi orang yang punya uang, punya kuasa yang membawa dan mengiring persepsi orang. Penting sekali ketika kita bisa mengubah persepsi orang kepada diri kita, jadi orang itu tidak semena-mena kepada kita. Namun yang menjadi masalah itu, ketika saya mengunggah suatu hal yang sederhana, misalnya makan dengan sepasang tangan saja dengan ikan teri yang belum dimakan kucing di kosan. Mungkin harga diri saya akan jatuh dan tidak sesuai dengan apa yang diekspektasikan orang-orang terhadap diri saya.

Maka dari itu bukan saya saja yang ingin cepat-cepat kaya, tapi semua orang juga ingin cepat-cepat kaya. Dengan bukti banyak sekali orang-orang yang melakukan judi online atau memainkan kripto dengan arahan-arahan YouTuber yang menjanjikan kekayaan di depan mata dengan langkah-langkah yang sudah diberikan.

Judi online menjadi momentum anak muda sekarang karena penuh dengan tekanan dan tidak ada pekerjaan. Walau ada janji 19 juta lapangan pekerjaan itu, tetap saja susah, maka jalan tengahnya judi online ini, walau bertarung dengan dewa petir itu. Untuk memberi taruhan uangnya dan berharap bisa mendapatkan uang yang banyak.

Kadang saya pikirkan lagi, saya juga berjudi dengan harapan saya. Saya mempertaruhkan diri saya dengan pikiran dan tenaga saya untuk mendapatkan yang saya inginkan, namun saya kalah terus seperti orang yang berjudi sampai menjual motornya bahkan tanahnya.

Mimpi tentang Overrekening

Saya ingin sekali punya overrekening, yang di mana benak saya dipenuhi pikiran kapitalis dengan aset yang nyata di tangan saya berupa kekayaan. Jadi saya tidak capek-capek lagi berbicara kekayaan lagi. Namun bagaimana overrekening ini hadir di tengah-tengah kehidupan saya?

Saya berhalusinasi jika overrekening ini datang sama seperti overthinking, datang tiba-tiba, datang tidak diundang, datang di saat pestanya sudah dimulai. Mungkin selama ini saya terlalu sibuk menyalahkan overthinking, padahal yang sebenarnya saya inginkan bukan kepala yang kosong tapi rekening yang penuh.

Saya ingin sekali merasakan pesta yang berbeda, bukan pesta sel-sel yang mabuk di dalam kepala saya, tapi pesta angka-angka yang bertambah di layar handphone saya sendiri. Bukankah itu lebih menenangkan, bukankah saldo yang penuh itu bisa membuat saya tidur lebih nyenyak tanpa harus berkelahi dengan pikiran saya sendiri setiap malam.

Kadang saya berpikir lagi jangan-jangan saya ini bukan capek berpikir, tapi capek kekurangan, capek melihat orang lain mengunggah keberhasilan mereka, capek melihat gaya hidup yang seolah-olah semua orang sudah sampai duluan sementara saya masih berdiri di tempat yang sama..

Mungkin benar generasi saya bukan kebanyakan uang tapi kebanyakan tekanan, bukan kebanyakan harta tapi kebanyakan perbandingan yang tidak ada habisnya. Maka wajar jika saya diam-diam berdoa walau terdengar materialistis dan egois, “Tuhan, seharusnya overrekening, bukan overthinking,” walau kalimat itu seperti candaan di permukaan, padahal di dalamnya ada lelah yang tidak bisa saya jelaskan dengan teori apa pun, hanya bisa saya rasakan setiap malam ketika kepala ini kembali mengadakan pestanya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Negeri yang Demam oleh Amarah

  Stres berkepanjangan membuat saya terus bertanya pada diri sendiri, mengapa kepala saya dipenuhi masalah dan ketakutan yang menghantui. Lemas dan letih rasanya menghadapi keadaan ini, apalagi melihat situasi yang genting. Kerusuhan dalam diri tak lagi bisa dibendung, penjara ketakutan telah merampas kebahagiaan saya. Ruang-ruang batin pun berantakan setelah hati dan pikiran saya dijarah oleh rasa takut. Berita televisi dan media sosial dipenuhi kecemasan. Kota terasa semakin tercekam oleh massa yang menyampaikan aspirasi kepada mereka yang duduk nyaman di kursi kekuasaan. Emosi membara, kemarahan muncul karena rakyat diremehkan oleh salah satu wakilnya yang seharusnya mewakili suara banyak orang. Massa aksi selayaknya semut-semut kecil, bergerombol lalu bubar ke segala arah tanpa tahu jalan pulang. Mereka berdiri berjam-jam hanya untuk mendengarkan teriakan sekawannya. Namun, tidak semua yang berkerumun murni menyuarakan aspirasi, ada provokator yang membuat keadaan semakin mence...

THR: Dari Mogok Buruh ke Proposal THR

  Bulan Ramadhan telah berakhir, dan saya merasa cukup senang menyambut hari Lebaran. Hari yang penuh kebersamaan itu akhirnya tiba, dan saya tidak sabar menunggu THR. Namun, saya sadar bahwa saya sudah bukan anak sekolah lagi, sekarang saya adalah seorang mahasiswa. Kata saudara saya, anak kuliah justru memiliki lebih banyak kebutuhan dibandingkan anak kecil atau anak sekolah. Tahun lalu saya masih mendapatkan THR, tetapi tahun ini saya tidak tahu apakah masih akan mendapatkannya. Saya butuh uang untuk membeli PDH Belistra dan himpunan, agar bisa segera melunasinya. Saya melihat para pekerja mendapatkan tunjangan hari raya berupa uang atau sembako, termasuk ayah saya. Tahu tidak kalau THR ini di tahun 1953 dulunya disebut Hadiah Lebaran atau Persekot Hari Raya? Saat itu, pemberian tersebut bersifat sukarela dari majikan sebagai bentuk kepedulian sosial. Pada tahun 1950-an, para buruh hidup dalam kondisi yang memprihatinkan, dengan penghasilan yang bahkan tidak cukup untuk membeli ...

Semua Sudah Diatur, Tidak Perlu Dipikirkan

 Semua Sudah Diatur, Tidak Perlu Dipikirkan   Malam yang sunyi, saya kembali menulis. Kali ini, saya menulis tentang permasalahan kehidupan saya. Masalah hidup saya sama seperti masalah negeri ini. Dari ujung barat sampai timur, negeri ini dipenuhi oleh kicauan mahasiswa yang berteriak menuntut keadilan. Begitu pula saya, yang terus berteriak kepada hati saya sendiri, merasa bersalah atas perbuatan yang telah berlalu.   Iya, memang saya selalu menyesali setiap tindakan yang sudah terjadi. Namun, saya berpikir bahwa Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyesal ketika membuat UU TNI, yang kini membuat gaduh narasi di media sosial. Kerusuhan terjadi di mana-mana karena naskah yang dibuat terburu-buru. Saya tidak tahu apakah naskah itu benar-benar disusun berdasarkan proses demokrasi.   Saya mendukung undang-undang ini karena saya percaya bahwa undang-undang itu tidak akan merugikan rakyat, justru menguntungkan mereka. Namun, saya juga meragukan kemampuan seseor...