Langsung ke konten utama

Mengurai Waktu di Bawah Awan Waruwangi

 


Indahnya awan-awan sore, di Bukit Waruwangi, Kabupaten Serang. Saya membayangkan awan-awan itu seperti permen yang manis. Semanis anak-anak yang sedang berlarian bersama keluarganya. Begitu sibuk sekali pengunjung menikmati sore itu, ada yang membawa tenda, ada yang menyewa tikar untuk menikmati sensasi matahari terbenam. Hati saya begitu sejuk dengan itu semua, seakan-akan saya ikut bahagia ke dalam keseruan itu. Apalagi awan-awan selalu menggoda mata saya untuk melihat salah satu ciptaan Tuhan.

Meskipun hidup saya terasa lelah dengan semua informasi yang saya lihat di hp, khususnya ketika melihat berita konflik Timur Tengah, penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang akan berdampak terhadap Indonesia. Karena Indonesia masih bergantung pada minyak dari Timur Tengah, dan jalur distribusi menjadi terhambat. Semua pusat seakan sedang pusing tujuh keliling. Saya takut jika ini semua mempengaruhi kehidupan saya selama perkuliahan. Namun saya selalu terngiang-ngiang oleh salah satu ayat dalam Surat Ar-Rahman yang sering diulang, yaitu “Fabiayyi ālā’i rabbikumā tukadzzibān” yang artinya “nikmat mana lagi yang kau dustakan.” Pertanyaan ini selalu membuat saya merenung.

Pasalnya, saya sering kali hanya fokus pada nikmat yang menguntungkan saya yakni nilai bagus, uang banyak, prestasi. namun lupa dengan nikmat-nikmat kecil yang selalu Tuhan berikan. Pertanyaan itu membawa saya kembali melihat anak-anak yang bermain di bukit itu, juga awan-awan yang setia menemani. Hal sekecil itu ternyata mampu membuat saya bahagia, walau hanya sejenak. Sejenak melupakan semua masalah yang ada.

Saya sendiri sering bertanya tentang keberadaan Tuhan ketika nikmat yang saya inginkan tidak diberikan. Padahal, semua hal di dunia ini sudah diberikan oleh-Nya. Bahkan sakit pun merupakan nikmat yang Tuhan berikan agar saya lebih mendalami arti kehidupan. Mungkin sakit sering dipahami sebagai kesialan, tetapi saya mencoba melihatnya sebagai bentuk ujian. Karena dari sakit, saya bisa merasakan nikmat sehat. Sama halnya dengan rasa sakit batin yang saya rasakan dan ia begitu melekat, hingga saya sendiri bingung harus bersandar ke mana. Kepada teman, ruang BK, atau orang tua dan semuanya memiliki keterbatasan.

Namun anehnya, saya tetap merasakan ketenangan. Entah kenapa, setiap kali mendengar ayat itu, saya selalu terpukul oleh apa yang saya rasakan selama ini. Surat itu membawa saya untuk menjalani hidup dengan cara mengurai waktu, seperti yang saya dengar dalam salah satu lirik Panji Sakti: “rindu adalah perjalanan mengurai waktu.” Dalam lirik ini, waktu seperti masa lalu yang diurai, seperti benang kusut seperti pikiran saya yang selama ini tidak menikmati nikmat Tuhan.

Maka, rindu tidak akan hadir jika saya tidak mengurai waktu. Saya harus setia pada waktu yang saya lalui, lalu memaknai setiap peristiwa yang terjadi. Saya susun menjadi rangkaian makna yang membuat saya yakin terhadap dunia ini, sekaligus terhadap diri saya sendiri. Mungkin dari waktu yang telah terurai itu, akan muncul rasa rindu. Namun rindu itu untuk siapa? Untuk waktu, atau untuk diri saya sendiri?

Rindu hadir karena adanya waktu yang telah berlalu. Namun sering kali saya melewatkan hal-hal kecil dalam hidup. Senyuman ibu, bapak, dan adik yang sebenarnya menjadi sumber semangat saya. Dan pada akhirnya, jawaban itu kembali pada sejarah yang menjadi guru dalam kehidupan saya. Panji Sakti seakan berbicara bahwa waktu, atau sejarah, mampu membuat hidup ini terasa lebih dalam.

Apa yang saya lakukan menjadi bermakna. Dari situ, saya memiliki bekal untuk melanjutkan hidup dan terus bersyukur atas nikmat Tuhan yang selalu menemani, meskipun saya sendiri sering kali tidak menyadarinya. Mungkin saya masih sering “mendustakan” nikmat itu, tetapi saya hanyalah manusia yang sedang berusaha berjalan mendaki menuju keabadian.

Mungkin terdengar hiperbola ketika saya menyebut “keabadian.” Namun saya mempercayainya, karena sering kali logika saya sendiri tidak mampu menjawab semua pertanyaan tentang hidup. Maka saya belajar tidak hanya dari buku-buku tebal, tetapi juga dari hal-hal sederhana dan seperti tanaman liar yang tetap hidup meskipun sering diperlakukan tidak layak. Dicabut, dipotong, diabaikan. Padahal ia juga ciptaan Tuhan yang tumbuh di tanah yang subur ini.

Saya melihat refleksi itu pada para ojek yang menunggu di terminal atau stasiun. Walau saya sering menolak tawaran mereka, mereka tetap bekerja karena tuntutan hidup. Ada lapisan-lapisan kehidupan yang mungkin belum saya pahami sepenuhnya. Dunia ini terlalu luas dan dalam untuk hanya dilihat dari satu sisi.

Pada akhirnya, saya tidak benar-benar mencari jawaban dan saya hanya sedang belajar duduk lebih lama di bawah awan, menatap waktu yang berjalan tanpa suara. Mungkin hidup bukan tentang memahami segalanya, tetapi tentang berani mengakui bahwa kita sering kali lalai menikmati yang telah ada. Di antara awan Waruwangi, suara anak-anak, dan bait ayat yang berulang, saya seperti dipanggil pulang dan bukan ke tempat, tetapi ke kesadaran yang lama hilang. Bahwa hidup ini, dengan segala luka dan nikmatnya, tetap layak untuk dirindu.


Rafif Abbas Pradana

27 Maret 2027..

Komentar

  1. Begitu menginspirasi, dan membuat saya merenung lebih dalam lagi soal kehidupan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Negeri yang Demam oleh Amarah

  Stres berkepanjangan membuat saya terus bertanya pada diri sendiri, mengapa kepala saya dipenuhi masalah dan ketakutan yang menghantui. Lemas dan letih rasanya menghadapi keadaan ini, apalagi melihat situasi yang genting. Kerusuhan dalam diri tak lagi bisa dibendung, penjara ketakutan telah merampas kebahagiaan saya. Ruang-ruang batin pun berantakan setelah hati dan pikiran saya dijarah oleh rasa takut. Berita televisi dan media sosial dipenuhi kecemasan. Kota terasa semakin tercekam oleh massa yang menyampaikan aspirasi kepada mereka yang duduk nyaman di kursi kekuasaan. Emosi membara, kemarahan muncul karena rakyat diremehkan oleh salah satu wakilnya yang seharusnya mewakili suara banyak orang. Massa aksi selayaknya semut-semut kecil, bergerombol lalu bubar ke segala arah tanpa tahu jalan pulang. Mereka berdiri berjam-jam hanya untuk mendengarkan teriakan sekawannya. Namun, tidak semua yang berkerumun murni menyuarakan aspirasi, ada provokator yang membuat keadaan semakin mence...

Belistra Sebuah Pelabuhan

 B Belistra Sebuah Pelabuhan By Rafif Abbas Pradana      Musyawarah Belistra 2025 telah dilaksanakan pada hari Minggu, 07 Desember 2025 dengan suasana penuh canda tawa sepanjang persidangan. Mustra adalah Musyawarah Belistra yang menjadi forum tertinggi tempat seluruh anggota berkumpul untuk mengevaluasi perjalanan satu tahun ke belakang, menyampaikan laporan pertanggungjawaban, serta menentukan arah organisasi. Dalam forum inilah dinamika organisasi memuncak dan keputusan-keputusan penting ditetapkan.      Dari sekian kesibukan yang terjadi di dalamnya, ada kebanggaan yang tumbuh perlahan dalam diri saya. Saya merasa cukup berani melaju ke depan sebagai calon ketua Belistra. Namun peserta sidang memilih sosok yang lebih pantas pada saat itu. Ketika keputusan dibacakan, nama saya tidak muncul. Yang terpilih adalah Nisa Nurfadila yang akrab kami panggil Nca. Momen tersebut sempat mematahkan harapan saya untuk menjadi pemimpin, tetapi saya tetap merasa i...

Setengah Jadi

Sore hari menjelang pembuka puasa. Di Tugu Bacang, 26 Februari 2026. Unit Kegiatan Mahasiswa Bengkel Menulis dan Sastra atau UKM Belistra mengadakan kegiatan diskusi koran untuk pertama dalam kepengurusan 2026. Walau sudah setahun saya mengurus, saya melihat diskusi koran tidak berubah dari metodenya, sampai korannya masih setia dengan Banten Pos. Yang selalu menemani diskusi koran. Terlebih pemantik Yani yang menguliti setiap informasi yang dibaca oleh peserta. Pembahasan dimulai dengan resah. Saya pun tahu semua peserta resah menahan lapar malah disuruh mikir, untungnya tidak kecelakaan karena jalan pikir yang mulai rusak akibat goyangan perut yang terus berguncang-guncang, sama halnya jalan di Pandeglang. Jalan Pandeglang seringkali diumpat oleh warga Banten sendiri sebagai jalan yang jelek, berlubang, rusak. Sampai-sampai digugat oleh warganya sendiri yang berjumlah 100 miliar. Luar biasa itu jumlahnya jika disalurkan ke Belistra. Belistra bisa membuat sayembara menulis menurut-nu...