Ahhashasdagtdas
Oleh Rafif Abbas
Pradana
Malam itu begitu sunyi sampai-sampai mataku terlelap tidur.
Terlelapnya aku sampai-sampai aku mendengar teriakan “ahhashasdagtdas” dalam
ingatanku, begitu sakit. Ada makhluk hitam di depan mataku. Aku ketakutan,
badanku tidak bisa bergerak. Suara itu semakin menjadi-jadi, kepalaku pusing.
Akhirnya aku terbangun dari tidurku. Aku merasa takut jika suara itu hadir
kembali. Mataku lelah dan mengantuk, aku pun terlelap tidur.
Sialnya, suara itu datang lebih keras dari sebelumnya,
disertai tangisan tanpa tahu asalnya dari mana. Makhluk hitam itu muncul
kembali di mataku, namun bedanya dengan mata merah terang, seakan-akan ingin
menggigitku. Aku menggegas bangun, beberapa kali aku terjebak dalam mimpi.
Akhirnya aku terbangun. Dadaku berdebar-debar, tidak tahu bagaimana aku
terjebak dalam ketakutan ini.
Semakin malam, semakin sunyi. Tanganku bergetar disertai
detak jantungku dan paru-paruku yang terlalu cepat memompa darah ke
arteri-arteri. Aku terus bertanya, mengapa dengan diriku ini? Alasan apa
suara-suara itu hadir di dalam mimpiku? Tidak sengaja suara keras menghantam ke
dalam ingatanku. Suara-suara itu semakin menjadi-jadi. Kupikir, jangan-jangan
aku bermimpi lagi. Aku ingin bangun dari mimpi burukku. Aku tergesa-gesa untuk
bangun. Akhirnya aku bangun. Tanganku dan tubuhku bergetar secara bergantian.
Aku bingung apa yang telah terjadi. Tiba-tiba tanganku tergores, entah aku
tidak tahu mengapa tanganku tergores di nadi. Sakit, perih. Aku semakin bingung
dengan ini semua.
Namun anehnya tanganku tidak berdarah, hanya luka merah.
Kepalaku pusing tujuh keliling. Aku pun bingung dengan hidupku yang tidak tahu
bagaimana aku berjalan lagi. Jalan yang kujalani ini serasa buntu, saking
buntunya aku tidak tahu bagaimana aku bisa menembus kebuntuannya. Sudah tidak
ada harapan lagi, sudah tidak perlu didebatkan lagi. Apa mimpiku ini merupakan
tanda-tanda aku sedang tidak baik-baik saja? Atau aku sedang dihantui oleh masa
lalu itu? Atau tangisan itu merupakan aku sendiri ketika kecil? Ah, aku
bingung.
Aku keluar rumah mencari ketenangan di malam itu. Kepalaku
masih pusing, aku berjalan entah ke mana. Akhirnya aku sampai di jembatan. Aku
berpikir jembatan ini begitu sunyi. Suara sungai yang deras itu menggetarkan
diriku. Semua pikiranku yang penuh ini seakan-akan deras seperti sungai itu.
Aku menguapkan apa yang kusimpan. Aku teringat dengan jembatan ini, banyak
orang yang melompat dari jembatan ini. Sampai-sampai dulu dijuluki jembatan
angker. Jembatan ini begitu menyeramkan bagiku sendiri.
Ada orang lewat menghampiriku. Orang itu menegurku, “Hey,
kamu ngapain di sini, di jembatan itu?” Aku pun menjawab, “Aku lagi mencari
ketenangan.” Dan orang itu menyuruhku pulang, “Hey, pulang-pulang, sudah malam.
Jangan-jangan kamu mau bunuh diri.” Aku tidak mau, aku ingin sendiri dan
menenangkan diriku. Orang itu sejenak merangkulku, “Hey anak muda, kau sedang
ada masalah apa?” Aku pun menjawab, “Aku sedang diputusin oleh seorang wanita.”
Orang itu tertawa, “Hal itu biasa, santai saja.” Aku hanya mengiyakan. Aku
menjawab, “Aku tidak hanya itu, aku juga banyak yang tidak bisa kusebutkan.”
Orang itu berhenti tertawa.
Orang itu mulai bertanya kepadaku soal masalahku, tapi aku
tidak bisa menjawab. Dan orang itu mengerti apa yang aku maksud. Aku ditanya
soal hubunganku yang kandas itu. Mengapa bisa kandas? Aku menjawab karena aku
muak dengan kebohongan yang dia buat. Orang itu bertanya lagi, kebohongan apa
yang telah diperbuatnya. Aku menjawab kebohongan kalau dia hanya mencintaiku,
namun dia banyak sekali jalan dengan cowok lain. Orang itu hanya bisa terdiam.
“Tidak apa-apa, anak muda.” Lalu dia pergi begitu saja, meninggalkanku sendiri
di jembatan itu.
Suara sungai kembali menderu-deru, menggetarkan telingaku
sampai ke ubun-ubun. Aku pejamkan mata, mencoba mengingat apakah aku masih di
dunia nyata atau sudah tenggelam dalam mimpi yang kesekian kali. Tiba-tiba
suara “ahhashasdagtdas” itu menggema lagi, keras, memekakkan, datang dari balik
punggungku. Aku menoleh, kulihat makhluk hitam itu berdiri di ujung jembatan,
matanya merah menyala, menatapku seakan-akan aku adalah mangsa yang tak
berdaya. Aku ingin lari, tapi kaki serasa terpaku di aspal jembatan yang
dingin.
Lalu makhluk itu berbisik dengan suara perempuan yang
menangis—tangisan yang sama seperti di mimpiku, tangisan kecil, tangisan anak
kecil yang ketakutan. Aku teringat masa kecilku, sering disembunyikan di
lemari, ditinggal sendiri di rumah petak. Air mataku jatuh, tapi aku tidak tahu
kenapa. Aku bertanya, siapa kau? Makhluk itu tak menjawab, hanya menangis
semakin keras, lalu menghilang seperti asap.
Orang tadi hilang, jembatan sepi lagi. Kepalaku
berputar-putar, dunia serasa jungkir balik. Aku cubit lenganku, sakit. Berarti
aku sadar? Tapi kenapa luka di nadi tanganku itu tiba-tiba terasa perih lagi,
dan kini mulai mengeluarkan darah, sedikit, warna hitam pekat. Aku panik. Darah
hitam? Itu bukan darahku. Aku berteriak minta tolong, tapi suaraku sendiri
terdengar seperti suara “ahhashasdagtdas” yang selama ini menghantuiku.
Aku tersadar, jangan-jangan teriakan itu adalah suaraku
sendiri saat aku kecil, saat aku pernah jatuh ke sungai dan hampir mati. Ayahku
dulu sering berteriak seperti itu waktu mabuk. Ah, kenangan yang terkubur.
Aku jatuh terduduk di jembatan. Aku mendengar langkah kaki,
kali ini suara sepatu lars yang berat. Seorang lelaki tua berjubah hitam
mendekat. Dia mirip dengan makhluk hitam tadi, tapi wajahnya keriput, manusia
biasa. Dia bertanya, “Kenapa kau masih di sini, nak?” Aku cuma geleng. Dia
duduk di sebelahku, menepuk bahuku.
“Jembatan ini memang suka menjebak orang yang lagi patah
hati, tapi lebih sering menjebak orang yang lari dari masa lalunya sendiri.”
Aku terkejut.
Dia melanjutkan, “Suara-suara itu, tangisan, teriakan, itu
semua adalah serpihan dari dirimu yang tidak mau kau dengar. Lukamu tidak
berdarah karena kau sudah lama mati rasa.”
Aku langsung berdiri, marah, takut. “Aku tidak mati! Aku
hidup!”
Lelaki tua itu menyeringai, giginya hitam. “Coba lihat
tanganmu lagi.”
Kutatap tanganku, luka di nadi itu kini menganga lebar, tapi
tak ada darah, cuma lubang gelap seperti mulut gua. Dari dalam lubang itu
keluar suara tangisan bayi, tangisan yang sama. Aku menjerit,
“ahhashasdagtdas!”
Lalu semuanya gelap.
Aku terbangun di kasurku, tubuhku basah kuyup oleh keringat.
Jam dinding menunjukkan pukul 03.00 pagi. Tanganku masih ada luka merah, tapi
tak menganga. Suara sungai masih sayup-sayup dari luar, padahal rumahku jauh
dari sungai. Aku dengar langkah kaki di atap.
Makhluk hitam itu muncul di sudut kamar, matanya redup. Kali
ini dia tak menangis, dia hanya menunjuk ke arah cermin. Aku beranikan diri
melihat cermin, dan yang kupantulkan adalah sosokku tapi dengan mata merah
terang, dan di keningku ada tulisan “ahhashasdagtdas” yang berdarah.
Aku pingsan lagi.
Malam itu terus berulang. Aku terjebak di antara jembatan,
mimpi, dan kamar. Aku tidak tahu mana yang nyata. Suara “ahhashasdagtdas” itu
akhirnya menjadi detak jantungku sendiri. Aku bernapas mengikuti iramanya.
Aku mungkin sudah gila, atau sudah mati di jembatan itu
bertahun-tahun lalu—dan ini adalah neraka pribadiku.

Komentar
Posting Komentar