Perayaan hari lahir Belistra yang ke-19, tepat di hari Senin 27 April. Sudah sembilan belas tahun UKM Bengkel Menulis dan Sastra berdiri hidup di permukaan bumi. Saya merupakan bagian dari UKM Belistra FKIP Untirta, merasa senang sudah bersamanya. Sudah dua tahun saya menjadi “montir” di bengkel ini. Bengkel ini sudah melewati beberapa zaman, dari zaman ke zaman yang berbeda. Salah satu yang berkesan ketika UKM Belistra mempunyai sekretariat di bawah tangga.
Namun saya merenungkan awal nama UKM ini, yakni bengkel. Sebuah kata yang menggambarkan montir-montir yang sedang bekerja membenahi sesuatu yang rusak, atau membuat suatu produk yang inovatif. Kata bengkel ini merujuk kepada bagaimana kerja itu berlangsung semestinya, membenarkan listrik yang kadang korslet, memastikan setiap kabel menyala dengan baik. Ruangannya dipenuhi alat-alat pekerjaan, berbagai macam modul-modul di meja kerja. Ada pula bengkel traktor yang sehari-harinya membenahi mesin yang rusak dan sedang bermasalah. Tanpanya, mesin traktor itu tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Maka dari itu saya sebut bengkel listrik dan traktor. Selain itu, nama itu pertama kali disebutkan oleh Peri Sandi saat Ngopi Puisi. Saya pun tidak tahu maksudnya secara pasti. Saya hanya mencoba memahami kata itu melalui pengalaman dan pengamatan saya sendiri yang kini saya tuliskan. Kata itu terasa sebagai sesuatu yang kotor oleh oli-oli pekerjaan. Di dalamnya ada kegagalan, ada proses yang tidak selalu berjalan mulus. Saya teringat ketika saya memperbaiki ban sepeda saya yang bocor di satu bengkel, namun bengkel itu tidak bisa menghasilkan pekerjaan yang baik, dan akhirnya ban sepeda saya kembali bocor. Dari situ saya berpikir bahwa tidak semua bengkel benar-benar bisa memperbaiki.
Saya merasa di bengkel menulis dan sastra sepertinya masih kurang merasakan fungsinya sebagai bengkel. Saya merasa bahwa kerja-kerja di dalamnya terkadang hanya sekadar formalitas. Yang ditentukan oleh tanggal dan waktu sebagai tanda berakhirnya. Kerja-kerja seringkali diikuti jika ada pemberitahuan atau ajakan. Memang sudah banyak kegiatan diskusi dan rapat, namun masih terasa minim dalam hal karya yang benar-benar diolah bersama. Keminiman itu mengingatkan saya bahwa pada dasarnya bengkel adalah tempat perjumpaan orang-orang untuk memperbaiki setiap karyanya. Dan memang organisasi sastra itu terdiri dari individu-individu yang ingin menukar pikiran dan saling mengoreksi.
Penulis pun sama seperti montir, yang di mana montir disebut montir karena mereka tidak hanya memahami cara kerja mesin atau aliran listrik, namun juga harus turun tangan secara langsung. Ia harus membuka, membersihkan, mengganti komponen yang perlu diganti, dan mencoba kembali. Dalam percobaan itu dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tangannya pasti kotor oleh oli dan proses. Setelah itu, akan ada hasil berupa mesin yang kembali berjalan. Listrik bisa hidup dan menyalakan lampu-lampu, menerangi berbagai ruang kehidupan. Tulisan pun demikian, ia harus melewati proses sebelum benar-benar layak dibaca.
Saya berharap dari bengkel ini bahwasanya bengkel bukan hanya sebagai tempat membenarkan, akan tetapi juga tempat layak uji. Di sini, karya-karya anggota perlu dibaca bersama, diuji, dan jika perlu diperdebatkan untuk diperbaiki. Selayaknya bengkel sungguhan, yang di mana setiap montir, alat, dan mesin harus melalui uji kelayakan sebelum bisa digunakan. Begitu pula dengan karya tulis. Namanya bengkel, kegagalan pasti ada, maka tidak ada yang dipermalukan, melainkan dijadikan bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas.
Saya melihat bahwa bengkel ini sebenarnya produktif dalam kegiatan dan aktif dalam berbagai gerakan kolektif. Namun di sisi lain, fungsi bengkel itu sendiri kadang terasa kehilangan maknanya. Jika ada yang datang dan tidak menemukan ruang untuk diperbaiki, maka yang tertinggal bukan hanya rasa kecewa, tetapi juga pengalaman yang akan terus diingat. Bengkel satu dengan yang lainnya mungkin berbeda objek, namun memiliki prinsip yang sama, yaitu memperbaiki dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
Seterusnya, saya membayangkan lebih banyak orang berkumpul di bengkel tanpa harus terpaku pada jadwal. Alat-alat sudah tersedia melalui buku-buku. Jika ada kesalahan dalam penulisan, maka bersama-sama mencoba untuk membongkar. Walaupun terkadang bingung bagaimana menyusunnya kembali, namun tulisan tidak sepenuhnya seperti mesin. Yang penting adalah proses membongkar itu sendiri. Jujur, saya pun masih belajar kritik sastra sebagai bentuk kepedulian. Karena setiap karya layak untuk dibaca ulang dan ditinjau kembali.
Produksi dari bengkel ini bisa menghasilkan karya yang layak dipertimbangkan. Namun hasil yang baik tetap memerlukan dorongan individual yang kuat. Bengkel hadir sebagai ruang fasilitasi untuk menguji dan memperbaiki karya tersebut. Saling membongkar karya bisa menjadi kebiasaan, namun tetap perlu didasari dengan membaca terlebih dahulu. Membaca menjadi langkah awal sebelum seseorang mencoba menulis atau mengkritik.
Saya sebagai kepala divisi kajian merasakan bahwa peran ini tidak ringan. Saya ingin membuat diskusi dan proses membongkar karya tidak hanya terbatas pada jadwal formal. Saya ingin ada ruang yang lebih fleksibel, seperti pembacaan bersama setelah perkuliahan atau pertemuan spontan ketika ada karya yang ingin dibahas. Hal ini yang masih saya cari di bengkel ini. Dan saya tidak ingin kepercayaan yang diberikan kepada saya hanya berhenti sebagai wacana tanpa praktik yang nyata.
Sekali lagi selamat Belistra yang sudah berumur 19 tahun. Saya cukup bangga dengan waktu yang telah dilewatkan bersama-sama. Namun di balik itu, saya merasa perlu untuk kembali melihat apa arti bengkel itu sendiri. Karena bengkel tidak cukup hanya berdiri dan dipenuhi orang-orang di dalamnya. Bengkel harus bekerja. Ia harus memperbaiki, menguji, dan menghasilkan sesuatu yang benar-benar layak. Jika tidak, maka perlahan ia hanya akan menjadi tempat berkumpul yang kehilangan fungsinya sebagai bengkel.

Komentar
Posting Komentar