Jika kalian mendengar nenek bercerita panjang lebar tentang pengalamannya, pasti kalian sudah tidak asing lagi dengan cerita yang disampaikan secara runtut. Begitu pula dengan puisi yang suka bercerita. Puisi seperti ini tidak terlalu mengandalkan simbol-simbol yang terpecah-pecah jika dibaca secara harfiah. Justru puisi bernarasi menghadirkan cerita yang saling menyambung dari bait ke bait atau dari baris ke baris. Jika puisi ini disamakan dengan cerita nenek, kita akan teringat ketika ayah atau ibu mendongeng sebelum tidur. Seluruh cerita yang disampaikan tidak perlu ditafsirkan terlalu jauh karena sudah dituntun oleh penutur yang menjelaskan peristiwa melalui narasi. Hal yang sama juga terjadi pada puisi bernarasi yang umumnya tidak membuat pembaca bersusah payah memahami isi puisinya. Ciri utama puisi naratif memang terletak pada kisah, tokoh, dan alur yang dibangun penyair.
Untuk memahami puisi bernarasi, kita bisa melihat puisi berjudul Tak Sampai Sepuluh Ribu karya Hayatun Niam. Melalui puisinya, Niam menceritakan seorang anak yang bunuh diri karena masalah ekonomi. Lewat penggunaan aku lirik, tokoh yang telah tiada itu justru menjadi pencerita atas kejadian yang sudah dilaluinya. Secara sederhana, aku lirik ini seolah menjadi arwah yang menceritakan kembali kematiannya sendiri. Saya cukup kagum dengan cara Niam membangun rasa penasaran pembaca terhadap kematian tokoh tersebut. Ketika melihat kembali waktu yang digunakan aku lirik, terlihat bahwa ia berbicara setelah kematiannya. Jadi, setelah kematiannya, aku lirik membicarakan apa yang telah ia rasakan. Ketika berkata kepada ibunya, “Ma, kemarin, malam saat aku ingin buku dan pena,” terlihat jelas bahwa anak itu mengingat peristiwa yang menjadi salah satu latar tragedinya. Dalam tradisi sastra, buku dan pena dapat dibaca sebagai simbol pendidikan. Namun, jika dikaitkan dengan realitas sosial yang pernah ramai diberitakan, buku dan pena juga dapat dipahami secara langsung sebagai kebutuhan sekolah yang tidak mampu dipenuhi. Karena itu, puisi ini tidak selalu menuntut pembacaan simbolik yang rumit. Saya justru merasa diksi yang digunakan bisa dibuat lebih kuat agar rasa penasaran pembaca tumbuh secara bertahap.
Bait pertama menjadi pembuka cerita yang memperlihatkan pilunya kehidupan aku lirik melalui kalimat, “malam itu, Ma, ‘Mama tak punya uang,’ katamu. Aku tak mengerti, Ma. Saat itu yang kutahu, kau tak bisa kasih aku apa yang kumau.” Bagian ini begitu pilu dan penulis tampak ingin mengajak pembaca merasakan kesedihan tokoh. Namun, sekali lagi, diksi yang digunakan terasa terlalu terang karena hampir seluruh keadaan dijelaskan secara langsung tanpa memberi ruang yang lebih luas bagi pembaca untuk menafsirkan. Meski demikian, kekuatan emosional narasinya tetap terasa kuat.
Bait berikutnya menurut saya bergerak cukup cepat. Narasi yang ditampilkan melalui kalimat “Aku pamit bukan untuk ngangon sapi, tapi talinya aku bawa untuk diriku sendiri” membuat cerita langsung mengarah pada tindakan bunuh diri. Peralihan ini terasa mendadak karena tidak banyak gejala psikologis yang ditampilkan sebelumnya. Seandainya penyair memperlihatkan lebih banyak pergulatan batin tokoh, pembaca mungkin dapat melihat proses yang mendorong aku lirik mengambil keputusan tersebut. Akibatnya, tindakan bunuh diri itu terasa datang terlalu cepat dalam alur cerita. Setelah itu, penyair menampilkan reaksi masyarakat melalui baris “Maaf ya, Ma, pohon cengkih dekat pondok nenek jadi ramai.” Hal ini menggambarkan reaksi yang wajar ketika terjadi peristiwa yang tidak biasa di tengah masyarakat.
Tidak sampai di situ, penulis juga menampilkan dampak lain dari peristiwa tersebut melalui proses penyelidikan yang tampak pada baris “katanya harus guna penyelidikan.” Tubuh aku lirik menjadi objek pemeriksaan sehingga ibunya harus menyaksikan anaknya “digeradahi banyak tangan.” Dalam cerita ini, tokoh ibu tampil sebagai sosok yang rapuh dan tidak tega melihat anaknya diperlakukan demikian. Pembaca sebenarnya sudah mengetahui sejak awal bahwa anak itu bunuh diri, sehingga proses penyelidikan terasa sebagai konsekuensi administratif yang memang harus dilakukan. Jika penulis lebih berani memainkan unsur penyelidikan dengan cara yang lebih tidak terduga, mungkin rasa penasaran pembaca akan bertahan lebih lama.
Bait terakhir berfungsi sebagai penutup yang mengontekstualkan seluruh kejadian melalui baris “29 Januari 2026, di suratku yang terakhir.” Angka tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga menjadi penegas bahwa tragedi yang diceritakan memiliki kedekatan dengan realitas sosial. Jika dibaca secara cermat, penulis juga menggunakan pengulangan frasa “Ma, kemarin” pada beberapa bait. Pengulangan ini tampaknya bertujuan membangun kedekatan emosional dan hubungan yang intim antara anak dan ibunya. Namun, menurut saya, pengulangan tersebut belum sepenuhnya berhasil menciptakan efek yang lebih mendalam karena pembaca sudah memahami fungsi emosionalnya sejak kemunculan pertama.
Pada akhir puisinya, penulis kembali menjelaskan apa yang terjadi. Bahwa anak itu meninggalkan surat dan bahwa tragedi tersebut benar-benar telah terjadi. Penutup ini menghadirkan duka yang sama seperti realitas yang menjadi latar puisinya. Sejauh ini, penulis berhasil menciptakan puisi bernarasi yang mudah diikuti dan mudah dipahami. Akan tetapi, puisi ini terkadang terlalu banyak menjelaskan sehingga ruang tafsir pembaca menjadi lebih sempit. Mungkin memang sasaran pembacanya adalah masyarakat umum yang tidak terlalu akrab dengan puisi yang rumit. Di sinilah kepandaian Niam menghadirkan puisinya layaknya cerita yang disampaikan nenek, ibu, atau bapak kepada anak-anaknya. Narasinya begitu dominan sehingga pembaca mudah hanyut mengikuti alur cerita. Di sisi lain, Niam juga berani mengkritik kondisi sosial melalui bait-bait puisinya. Karena itulah puisinya tidak terlalu rumit dan lebih mudah diterima oleh banyak orang. Sebagian pembaca memang menyukai karya yang dapat dipahami dengan cepat. Namun, apabila realitas yang diangkat dibalut dengan diksi yang lebih berlapis, bukan tidak mungkin puisinya akan menghadirkan pengalaman membaca yang lebih kaya.
Puisi ini berpotensi menjadi cerita yang terus diwariskan lintas generasi sebagai pengingat atas tragedi yang pernah terjadi. Persoalan kemiskinan, pendidikan, dan ketimpangan sosial yang diangkat dalam puisi ini merupakan persoalan yang selalu hadir dari zaman ke zaman. Karena itu, relevansi puisi ini akan terus hidup selama persoalan tersebut masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
--
Penulis: Abbas Merah

Komentar
Posting Komentar