Dari Belajar Sejarah hingga Rasa Penasaran terhadap Dunia
Saya belajar sejarah selama ini menimbulkan banyak sekali rasa penasaran saya terhadap kehidupan dan semakin penasaran dengan apa yang ada di balik narasi sejarah yang telah dibuat. Sebulan ini saja saya mempelajari petualangan perdagangan rempah. Dari sana saya mendapatkan gambaran bagaimana para pelaut Eropa (Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, dan lain-lain) melakukan petualangan menuju pulau-pulau penghasil rempah. Di sini pulau-pulau yang ada di Indonesia seperti Tidore, Ternate, Maluku, Pulau Jawa, dan wilayah lainnya menjadi bagian penting dalam jaringan perdagangan dunia. Mengapa mereka mencari rempah? Karena pada saat itu rempah menjadi komoditas yang mahal dan mewah di pasar Eropa. Perdagangan rempah sebenarnya sudah berlangsung jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa, melalui jaringan perdagangan Asia yang sangat panjang. Salah satu jalurnya melewati kawasan Timur Tengah dan Mediterania. Konstantinopel menjadi salah satu titik penting dalam hubungan perdagangan antara Timur dan Barat. Ketika Konstantinopel ditaklukkan oleh Turki Usmani pada 1453, struktur politik dan perdagangan kawasan tersebut berubah. Namun ternyata bukan hanya karena jatuhnya Konstantinopel bangsa Eropa kemudian mencari jalur laut baru. Ada juga persoalan persaingan dagang dan posisi para saudagar Venesia yang memiliki peran penting sebagai perantara perdagangan barang-barang dari Timur menuju Eropa. Jadi semakin saya baca, semakin saya merasa bahwa suatu peristiwa sejarah ternyata tidak pernah hanya memiliki satu penyebab. Ada ekonomi, politik, teknologi, persaingan antarnegara, dan kepentingan para pedagang yang saling berkaitan.
Membayangkan Perjalanan di Atas Kapal
Jujur saya terkesan dengan perjuangan mereka menyebrangi lautan. Mereka mengorbankan seluruh anggota tubuhnya dan pikirannya dari berbagai macam masalah di kapal. Dari kehabisan logistik, ombak badai, salah jalur yang dilakukan Columbus, ribut antar kru, bahkan penyakit yang ada di atas kapal. Apalagi saya membaca bagaimana pelayaran bangsa-bangsa Eropa pada masa itu tidak sekadar perjalanan geografis, tetapi juga perjalanan yang penuh ketidakpastian. Mereka belum memiliki teknologi navigasi seperti sekarang. Peta mereka juga belum sempurna. Mereka bisa salah memperkirakan jarak, arah, bahkan ukuran bumi dan wilayah yang hendak mereka tuju. Columbus sendiri berangkat dengan perhitungan geografis yang keliru mengenai jarak menuju Asia dan justru sampai ke benua Amerika. Dari sini saya semakin melihat bahwa kesalahan manusia juga bisa menjadi bagian penting dalam perubahan sejarah. Mereka bisa salah jalan, tetapi kesalahan itu justru menghasilkan konsekuensi yang sangat besar bagi dunia.
Ketika Peta Bertemu dengan Dunia Nyata
Apalagi ada perjanjian di antara Spanyol dan Portugis yang masing-masing punya jalur, dan ketika di kepulauan Indonesia mereka bingung dan berantem bagaimana garis batas mereka dalam perjanjian yang mereka buat. Ada Perjanjian Tordesillas tahun 1494 yang membagi wilayah pengaruh antara Portugis dan Spanyol, kemudian persoalan itu kembali muncul ketika keduanya sama-sama berkepentingan di kawasan Asia hingga akhirnya dibuat Perjanjian Zaragoza pada 1529. Saya membayangkan bagaimana mereka membuat garis di atas peta, tetapi ketika sampai di dunia nyata ternyata garis tersebut tidak sesederhana yang mereka pikirkan. Mereka harus berhadapan dengan wilayah yang belum sepenuhnya mereka pahami, kerajaan-kerajaan yang sudah memiliki kekuasaan sendiri, serta jaringan perdagangan yang sebelumnya telah berjalan jauh sebelum mereka datang. Ternate dan Tidore misalnya bukan hanya tempat yang menghasilkan rempah, tetapi juga kerajaan yang mempunyai politik, kepentingan, dan persaingan sendiri. Jadi ketika bangsa Eropa datang, mereka tidak memasuki ruang kosong. Mereka masuk ke dunia yang sudah memiliki sejarahnya sendiri.
Menembus Lautan dan Es
Inggris pun ikut menyebrangi lautan walau lewat Artik yang dingin itu. Berbagai ekspedisi dilakukan untuk mencari jalur menuju Asia melalui kawasan utara, termasuk pencarian Northwest Passage. Berbagai macam masalah ada, ada yang tertinggal dan membeku kapalnya kemudian mati. Ada juga malah kerjasama dengan Rusia. Ketika membaca kisah tersebut saya merasa bahwa keinginan mendapatkan jalur perdagangan membuat manusia berani memasuki tempat yang sangat ekstrem. Mereka bukan hanya menghadapi laut, tetapi juga es, suhu yang sangat rendah, keterbatasan makanan, penyakit, dan ketidakpastian apakah mereka akan kembali. Kadang saya berpikir, apa yang ada di kepala mereka ketika memutuskan untuk terus berjalan dalam keadaan seperti itu? Apakah hanya keuntungan? Apakah kejayaan kerajaan? Atau ada juga rasa penasaran terhadap dunia yang belum mereka kenal? Mungkin semuanya bercampur menjadi satu.
Rempah, Kelaparan, dan Kegagalan
Dari semua yang saya sebutkan, saya punya gambaran bagaimana dunia ini terus berproses dari dulu. Sampai sekarang saya bisa membeli rempah-rempah tanpa ribut-ribut dan nego dulu dengan saudagar. Dari bacaan saya ini juga menimbulkan kesenangan yang dimana saya membayangkan situasi mereka ketika di kapal. Bagaimana mereka menahan lapar walau biskuit dan air membusuk bahkan berlendir. Menjijikkan, tapi begitulah keadaan di kapal yang saya rasakan ketika membaca. Atau ketika marah sesuai apa yang diinginkan, saat itu Houtman dengan seluruh awak ke Banten pada pertama kalinya. Para elite kerajaan sedang ribut, adapun harga melambung tinggi. Jadi tidak bisa membeli lada. Sudah mana tiap mereka datang mereka bikin rusuh. Yang akhirnya mereka pulang tidak membawa sebanyak yang mereka inginkan. Cornelis de Houtman dan rombongannya memang tiba di Banten pada 1596 dalam pelayaran Belanda pertama menuju Nusantara. Hubungan mereka dengan masyarakat dan penguasa Banten tidak berjalan mulus, salah satunya karena sikap rombongan Belanda yang menimbulkan ketegangan. Mereka memang mendapatkan lada, tetapi ekspedisi tersebut tidak berjalan seperti yang mereka bayangkan. Dari situ saya semakin memahami bahwa sejarah bukan hanya tentang orang yang berhasil. Orang yang gagal, salah mengambil keputusan, kelaparan, bertengkar, bahkan pulang dengan hasil yang tidak sesuai harapan juga menjadi bagian dari sejarah.
Dari Petualangan Rempah menuju Pertanyaan tentang Sejarah
Saya juga jujur masih awam sekali dengan petualangan ini karena saya sendiri baru mendalami lebih detail. Saya hanya tahu jika jalur sudah ditentukan dan masing-masing bangsa saling berebut. Sisi lain saya mempertanyakan bagaimana sejarah itu berkembang dari metode, konsep, atau pemikiran yang terus bergolak sampai sekarang ini. Di abad ke-19 saja diributkan sejarah sebagai seni dan sejarah sebagai sains, bahkan keduanya saling bertentangan. Sejarawan juga mulai memikirkan bagaimana cara mengetahui masa lalu secara lebih sistematis, bagaimana sumber digunakan, bagaimana objektivitas dipahami, dan apakah sejarah dapat disebut sebagai ilmu seperti ilmu-ilmu lainnya. Atau teori evolusi yang berkembang bersamaan dengan sejarah yang dimana di sana muncul tantangan baru lagi. Dari zaman bumi ini terbentuk sampai ada dinosaurus. Persoalan waktu yang terus berputar sampai benar-benar kompleks sampai sekarang. Sungguh masih banyak lagi yang perlu dibahas. Semakin saya belajar sejarah, saya malah merasa bahwa sejarah tidak berdiri sendiri. Ia bertemu dengan geologi, arkeologi, antropologi, ekonomi, politik, ilmu lingkungan, bahkan ilmu pengetahuan alam. Ketika kita membicarakan manusia dalam waktu yang sangat panjang, batas-batas antara satu ilmu dengan ilmu lainnya mulai saling bertemu.
Sejarah sebagai Panduan Hidup dan Pemikiran Jangka Panjang
Bagaimana nanti sejarah dipandang sebagai panduan hidup manusia. Katanya sejarah juga sebagai penentu kebijakan. Ada juga konsep bahwasanya untuk penyidik sejarah langsung periode yang panjang—berabad-abad. Satu sisi yang saya tahu penelitian sejarah itu relatif pendek-pendek dan terfokus satu suatu hal saja. Beda dengan sejarawan zaman abad ke-19 yang relatif panjang bahkan menjadi ilmu yang bisa membantu menentukan kebijakan. Tetapi ternyata persoalannya tidak sesederhana sejarah lama dan sejarah baru. Penelitian yang kecil dan terfokus juga penting karena dari hal kecil kita bisa menemukan sesuatu yang tidak terlihat dalam gambaran besar. Hanya saja saya mulai tertarik dengan bagaimana penelitian-penelitian kecil itu dapat disatukan untuk melihat perubahan dalam waktu yang panjang. Gagasan seperti longue durĂ©e dari Fernand Braudel membuat saya semakin tertarik terhadap hal tersebut. Sejarah tidak hanya melihat peristiwa yang terjadi dalam waktu singkat, tetapi juga struktur ekonomi, lingkungan, masyarakat, dan kehidupan manusia yang berubah secara perlahan. Bahkan dalam perkembangan historiografi kontemporer, muncul kembali perhatian terhadap sejarah jangka panjang, deep history, sampai big history yang mencoba melihat manusia dalam rentang waktu yang jauh lebih luas. The History Manifesto karya Jo Guldi dan David Armitage juga mengkritik kecenderungan short-termism dan mendorong sejarawan untuk kembali memikirkan persoalan dalam rentang waktu yang panjang. Mereka bahkan mempertanyakan mengapa kita hanya memikirkan masa depan dalam lima bulan atau lima tahun, sementara banyak persoalan manusia baru dapat dipahami jika melihat ratusan tahun.
Sejarawan dan Kebijakan Masa Kini
Jika dikonteskan kepada masa sekarang yang dimana pemerintah melakukan program jangka pendek seperti makan siang gratis, koperasi merah putih, sekolah rakyat, sedangkan kemakmuran guru dan buruh bahkan perekonomian Indonesia yang kian menurun tidak menjadi prioritas. Jika saja ada sejarawan yang membantu pemangku kebijakan. Minimal di tiap kabupaten atau kota saja ada sejarawan yang menemani. Mereka melakukan penelitian yang holistik untuk mencari pola-pola untuk menentukan kebijakan apa yang bisa diselesaikan di masa sekarang. Adapun ditarik zaman rempah-rempah Indonesia menjadi pusat perdagangan atau katakanlah Banten menjadi pelabuhan yang ramai berbagai macam negara yang datang. Mengapa Indonesia tidak bisa melakukan itu untuk memajukan negara ini? Padahal secara geografis Indonesia berada di posisi yang sangat strategis dan memiliki sejarah panjang sebagai wilayah perdagangan. Padalarang juga memiliki sumber daya alam dan perkembangan industrinya sendiri. Tetapi saya sadar bahwa membandingkan keadaan sekarang dengan masa rempah-rempah tidak bisa dilakukan secara langsung. Dunia sudah berubah. Sistem ekonomi berubah, teknologi berubah, negara berubah, masyarakat berubah. Justru di sinilah saya melihat fungsi sejarah. Sejarawan bukan orang yang mengatakan bahwa masa lalu harus diulang, tetapi orang yang mencoba memahami bagaimana suatu keadaan terbentuk dan mengapa sesuatu bisa berhasil atau gagal pada masa tertentu. Sejarah dapat membantu pemerintah melihat akar persoalan yang tidak terlihat jika hanya melihat data satu atau dua tahun. Misalnya persoalan pendidikan, pertanian, industri, tenaga kerja, ketimpangan, lingkungan, dan perkembangan kota semuanya memiliki sejarah. Dalam *The History Manifesto*, sejarah jangka panjang bahkan dibicarakan sebagai sesuatu yang dapat membantu memahami persoalan kebijakan publik dan menghadapi kecenderungan berpikir terlalu pendek.
Sejarah sebagai Ingatan Panjang
Saya jadi berpikir, mungkin sejarah memang tidak dapat menentukan kebijakan secara langsung. Sejarawan juga tidak seharusnya menjadi orang yang merasa paling tahu masa depan. Sejarah tidak seperti rumus matematika yang ketika A terjadi maka pasti B. Manusia memiliki pilihan, kebetulan selalu ada, dan keadaan dapat berubah. Tetapi sejarah dapat membantu melihat pola, kesinambungan, perubahan, serta akibat dari keputusan-keputusan sebelumnya. Sejarah dapat menjadi semacam ingatan panjang bagi masyarakat. Pemerintah bisa berganti, program bisa berganti, kebijakan bisa berganti, tetapi masyarakat tetap membawa akibat dari keputusan yang pernah dibuat sebelumnya. Maka mungkin yang dibutuhkan bukan hanya kebijakan yang cepat, tetapi juga kebijakan yang mempunyai ingatan. Sejarawan bisa membantu memberikan ingatan tersebut. Sejarah juga sejak dahulu pernah dipandang sebagai pedoman kehidupan. Sebelum menjadi disiplin akademik yang sangat terspesialisasi, sejarah memiliki fungsi pendidikan dan reformasi; sejarah membantu manusia memahami masyarakatnya sendiri, membantu penguasa memahami kekuasaan, dan membantu masyarakat melihat masa kini sekaligus memikirkan masa depan.
Masih Bingung
Begitulah, semoga apa yang saya pelajari semakin bisa tersusun rapi. Jujur saya bingung mau ke mana dulu. Rasanya ingin semuanya dikerjakan padahal satu-satu dulu. Semuanya bisa dikaitkan dan dikombinasikan menjadi suatu bahan diskusi yang nanti bisa membahagiakan diri saya sendiri. Saya ingin belajar rempah-rempah, tetapi juga ingin belajar historiografi. Saya ingin memahami Banten, tetapi juga ingin memahami sejarah dunia. Saya ingin memahami sejarah sebagai ilmu, tetapi juga ingin memahami bagaimana sejarah dapat digunakan untuk membaca masa depan. Kadang semuanya terasa terlalu banyak. Tetapi mungkin memang begitulah ketika rasa penasaran mulai tumbuh. Satu jawaban malah melahirkan pertanyaan baru. Saya mungkin belum tahu harus mulai dari mana, tetapi saya tahu bahwa saya ingin terus membaca, terus bertanya, terus menulis, dan terus mencoba memahami. Tidak harus semuanya selesai sekarang. Saya bisa mulai dari satu buku, satu peristiwa, satu tokoh, satu tempat, lalu perlahan bergerak ke persoalan yang lebih besar. Seperti para pelaut yang saya baca, perjalanan panjang juga dimulai dari keberangkatan pertama. Bedanya, perjalanan saya bukan menyeberangi lautan untuk mencari rempah-rempah, tetapi menyeberangi waktu untuk mencari pemahaman. Mungkin saya masih awam, masih banyak salah, masih banyak yang belum saya pahami. Tetapi justru dari situlah saya belajar. Saya tidak ingin hanya mengetahui sejarah, tetapi ingin memahami bagaimana sejarah bekerja dalam kehidupan manusia. Saya ingin melihat bagaimana masa lalu membentuk masa sekarang dan bagaimana manusia menggunakan pemahaman terhadap masa lalu untuk menentukan langkah berikutnya. Hiduplah sejarah, dan hiduplah saya sendiri sebagai calon sejarawan muda.

Komentar
Posting Komentar